Saya Berusaha Menghindari Pemakaian Plastik Sepekan dan Jadi Merenung Soal Hidup
Jangan nanggung menghindari plastik. Bawa sendiri baskom dari rumah dong. Semua foto oleh Dicho Rivan.

Saya Berusaha Menghindari Pemakaian Plastik Sepekan dan Jadi Merenung Soal Hidup

Beneran deh, plastik katanya kurang bagus buat lingkungan. Tapi kok kita enggak bisa lepas darinya ya?
3.8.18

Hidup di Indonesia bikin saya sadar satu hal: tiap hari kayaknya saya berurusan sama plastik. Ke minimarket, dapat kantong plastik. Beli minuman di situ, kemasannya plastik. Beli gorengan di pinggir jalan, bungkusnya juga plastik. Mau masak mi instan, eh, buka-buka plastik lagi. Tempat sampah aja kita kasih plastik, biar bersih. Plastik-ception. Waaaaww….

Intinya plastik akan selalu ada di tengah kehidupan mulai dari di kamar mandi hingga ruangan kerja. Awalnya saya menganggap maraknya plastik ini biasa aja. Sampai kemudian saya enggak sengaja baca artikel ini: orang Indonesia termasuk yang paling boros dalam menggunakan plastik. Saat ini Indonesia menjadi negara tertinggi kedua yang menyumbang 3.22 juta metrik ton sampah plastik dunia setelah Cina.

Tadinya saya mau bangga. Keren lah masuk tiga besar di dunia. Tapi habis lanjut browsing-browsing lagi, jadi agak mikir ya. Katanya sih plastik susah banget didaur ulang. Artinya, ada dampak yang pelan-pelan dirasakan lingkungan. Kalau berpangku tangan soal plastik, mungkin kita tanpa sadar tiap hari mengonsumsi mikroplastik. Serem beud….

Makin baca dan nonton banyak dokumenter, makin terasa plastik tidak sepenuhnya bagus, buat diri saya maupun lingkungan. Saya jadi penasaran. Kayaknya perlu deh mencoba enggak pakai plastik sama sekali. Anggap aja diet gitu. Beginilah hasilnya.

Hari Pertama

Hal pertama yang saya lakukan ketika bangun dari tidur adalah menyeduh kopi. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak SMA. Sayangnya, saya adalah penggemar berat kopi sachet. Sial, pikir saya, baru bangun tidur pun manusia sudah dihadapkan dengan urusan sampah plastik. Maka demi misi ini, saya mencoba tidak menyentuh kopi sachet andalan di dapur rumah.

Akhirnya saya memilih menahan diri sampai tiba di kantor karena di sana ada stok kopi kalengan lengkap dengan mesin press manual. Walhasil, saya jadi enggak semangat di pagi hari lantaran mulut terasa kecut sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor.

Akhirnya saya pakai tumbler kalau mau minum kopi.

Selama perjalanan, di telinga seperti terngiang teriakan penjual kopi keliling, “Woii, diem-diem aje. Ngopi ngapa ngopi?!” Tapi semua itu segera terbayar tatkala menyeruput kopi hitam di rooftop kantor tanpa perasaan bersalah akibat penggunaan bungkus plastik berlebih.

Hari Kedua

Eksperimen hidup tanpa kopi sachet berlanjut ke hari kedua. Namun tantangannya saya tambah lagi. Kali ini saya berencana untuk enggak jajan minuman ringan sama sekali. Plastik memang semakin disepelekan. Ketika di jalan merasa haus, orang dengan gampang bakal mampir ke warung cuma buat sebotol minuman dingin. Berani taruhan, begitu isinya tandas, sudah pasti kemasan plastik bakal berakhir di tong sampah.

Bawa cangkir sendiri pas mau beli kopi sachet

Tentu saja, saya termasuk tipe orang seperti itu sampai akhirnya saya memutuskan membeli tumbler alumunium biar enggak gampang membuang kemasan plastik. Saya cuma perlu mengisi ulang tumbler tersebut di kantor setiap kali merasa haus. Bisa dibilang Ini merupakan hal paling gampang yang bisa dilakukan.

Hari Ketiga

Diet kopi sachet sudah. Memakai tumbler ramah lingkungan sudah. Kini saatnya mengurangi kantong plastik bungkus makanan. Ini rada tricky sih. Saya jarang makan di tempat. Lebih sering dibungkus buat dibawa ke kantor atau rumah. Apalagi dengan adanya fitur pemesanan makanan di salah satu aplikasi ojek online.

Jadi makin males makan di tempat kecuali beramai-ramai dengan kawan atau keluarga. Cara mengakalinya paling dengan membawa piring dari kantor atau rumah ke warung makan langganan. Penjualnya mungkin bakal melihat dengan tatapan aneh, tapi saya cuek, kan saya tetap bayar makanannya.

Hari Keempat

Sebenarnya saya curang selama empat hari ‘berpuasa’ plastik. Di beberapa hal pemakaian plastik seperti sebuah keniscayaan, terutama urusan kamar mandi. Gagang sikat gigi dari plastik, bungkus pasta gigi plastik juga. Wadah sabun dan sampo sudah barang tentu dari plastik. Saya belum tahu solusinya untuk soal yang satu ini. Jadi saya memberi kelonggaran buat diri sendiri. Ya kali seminggu enggak mandi lur?!

Hari Kelima

Abis gajian, langsung belanja bulanan di supermarket. Saya merasa dilematis dalam kegiatan satu ini. Di satu sisi, kantong plastik besar yang biasa ada di kasir bisa saya ganti dengan tas jinjing berbahan katun yang saya bawa dari rumah. Di sisi lain, barang belanjaannya saja hampir semua berbungkus plastik. Jadi kayak keluar mulut buaya masuk lagi ke mulut harimau. Enggak ada jalan keluar!

Duh, susah banget menghindari plastik

Hari Keenam

Buat urusan dapur, saya mencoba berbelanja sayur dan lauk di pasar tradisional lantaran enggak dikemas dengan plastik layaknya produk di supermarket. Toh, kemasan plastik enggak menentukan kesegaran suatu produk pertanian kok. Tapi ternyata sulit karena di pasar tradisional penjual masih sering memberi plastik jika kalian membeli cabai dan tauge.

Hari Ketujuh

Secara umum kita enggak terbiasa dalam usaha memilah sampah domestik. Kalau di tempat-tempat umum sih mungkin kebanyakan sudah disediakan tempat sampah berdasarkan jenis sampah itu sendiri. Tapi di rumah? Kayaknya jarang deh. Maka saya mulai bereksperimen memilah sampah berdasarkan sifatnya: mudah terurai alias organik dan sampah yang mustahil terdekomposisi. Paling enggak usaha ini bisa mempermudah pengolahan sampah di kemudian hari supaya enggak terlalu berdampak ke lingkungan.

Kesimpulan

Kesimpulannya, asli susah banget melepas ketergantungan terhadap plastik secara total. Sepeda motor ada komponen plastiknya, handphone dan laptop juga, belum lagi peralatan rumah tangga lainnya.

Sampai sekarang belum ada solusi paling mujarab dari pemerintah untuk mengurangi konsumsi plastik. Tahun ini pemerintah berencana menerapkan cukai plastik. Beberapa upaya sudah diusahakan misalnya pada Februari 2016, pemerintah dan Asosiasi memberlakukan kebijakan plastik berbayar.

Setiap konsumen yang berbelanja menggunakan kantong plastik di supermarket atau minimarket, dikenai biaya Rp200. Selang beberapa bulan, tepatnya pada Oktober, program tersebut dihentikan. Pengamat menilai program tersebut tidak ampuh mengurangi konsumsi kantong plastik, bisa jadi karena biayanya yang terlalu murah atau karena kantong penggantinya kelewat mahal.

Udahlah, kalau bisa beli buah pakai tas begini saja.

Industri daur ulang plastik juga tidak terlalu diminati pemerintah. Padahal selain bisa menjadi solusi mangkus untuk mengurangi penumpukan sampah plastik, industri daur ulang juga dinilai menguntungkan dari segi ekonomi karena hasil daur ulang bisa diekspor ke berbagai negara. Versi Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi), Indonesia baru bisa mendaur ulang 400.000 ton plastik dari total konsumsi plastik nasional yang mencapai 4 juta ton per tahun.

Usaha saya untuk mengurangi pemakaian plastik selama seminggu mungkin cuma berdampak sangat kecil dalam sebuah usaha penyelamatan lingkungan, namun setidaknya itu bisa membuat saya belajar bahwa butuh kesadaran dari dalam diri sendiri untuk menggunakan plastik dengan bijak sebelum bisa bergerak melakukan perubahan.

Setuju lur??!


Seri The Pledge adalah kolaborasi VICE X Danone AQUA dalam mengkampanyekan kesadaran tentang gerakan #BijakBerplastik