10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan yang Selalu Ingin Kamu Sampaikan Pada Polisi Pembakar Narkoba

Bukannya asap hasil pembakaran bikin polisi dan warga terancam 'giting' ya? Apa tidak ada cara lain? Berikut wawancara VICE bersama Kasat Narkoba Polres Jakarta Barat.
3.3.18
Polisi membakar ganja setengah ton di halaman Polres Jakarta Barat pada Juni 2015. Proses pembakaran sebelumnya sempat memicu rasa pusing warga sekitar Palmerah. Foto oleh Beawiharta/Reuters.

Belasan aparat kepolisian bersiap-siap di tengah lapangan, sebagian dari mereka mengenakan masker. Semua personel sigap menjalankan ritus penghancuran barang bukti, sambil sesekali meminta masyarakat sipil di sekitar mundur menjauh. Api sedikit demi sedikit melahap tumpukan-tumpukan plastik dan kertas berisi 3,3 ton ganja yang masuk kategori narkoba terlarang sesuai hukum Indonesia. Seharusnya momen itu membanggakan bagi aparat yang melakukan pembakaran, karena jumlah ganja siang itu rekor penyitaan terbesar di wilayah tugas mereka. Apa lacur, siang itu asap justru membumbung tinggi. Tak hanya memenuhi lapangan—bahkan mencapai pemukiman di kawasan Palmerah, dekat lapangan Polres Jakarta Barat yang menjadi lokasi pemusnahan ganja. "Lumayan pusing nih," kata Deden, warga Palmerah saat diwawancarai media, setelah terpapar asap ganja sebanyak itu.

Cerita serupa dari Februari tahun ini. Kepolisian Metro Jakarta Utara memusnahkan sabu dan ganja seberat masing-masing 226,91 gram dan 4,2 kilogram di halaman depan markas Polres. Lagi-lagi seperti biasa polisi memperbolehkan masyarakat umum termasuk jurnalis, untuk menyaksikan langsung prosesi tersebut.

Khawatir bahwa prosesi penghancuran bikin giting, seorang polisi menegur penonton agar mereka menjauh. “Ayo minggir… minggir. Nanti kamu keenakan,” kata seorang polisi kepada seorang wartawan. Polisi lainnya, kembali menegur sambil tertawa. “Eh, kamu [menonton] di atas biar keenakan ya?"

Jumlah barang bukti narkoba yang dibakar pada Maret 2015 di Palmerah, ataupun yang dibakar di halaman polres Jakarta Utara, terhitung cukup besar. Dampak ketika ada warga sekitar yang mabuk—namanya juga membakar zat psikotropika—pasti sebetulnya bisa diperkirakan. Makanya, pasti ada yang bepikir, ngapain juga ya polisi harus menghancurkan barang bukti narkoba dengan membakar di tempat terbuka seperti halaman markos polres atau lapangan bola? Apa tidak ada cara lain?

Mengingat pembakaran ganja bisa menimbulkan hal-hal tidak diinginkan, maka lebih baik VICE Indonesia bertanya langsung pada petugas kepolisian yang sudah berpengalaman berulang kali terlibat pemusnahan barang bukti kasus narkoba. Kepala Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Suhermanto adalah sosok paling tepat untuk ditanya-tanya. Polres Jakbar termasuk satuan penegak hukum yang cukup intens berjibaku melawan penyalahgunaan narkoba. Selama kurun 2008-2014, Jakbar sempat dinobatkan sebagai "surga narkoba" DKI. Pengedar maupun produsen narkoba kelas kakap banyak yang berkeliaran di Jakbar. Belum lagi kalau kita ingat Kampung Ambon, di Kecamatan Cengkareng, atau Kampung Broncos di Palmerah yang tingkat peredaran narkobanya sangat tinggi.

Sembari melawan para pengedar, Suhermanto berpengalaman bolak-balik menggelar pembakaran maupun pemusnahan barang bukti, baik itu ganja, putaw, pil-pil happy five, heroin—serta sesekali minuman keras. Pembakaran ganja yang heboh pada 2015 lalu juga melibatkan dirinya. Makanya, udah pas deh kalau ngobrol-ngobrol bersama AKBP Suhermanto tentang seluk beluk metode polisi membakar barang bukti kasus narkoba. Berikut cuplikan wawancara kami:

VICE: Halo Pak Suhermanto. Standar pemusnahan barbuk narkotika dan miras dari polisi seperti apa sih?
Suhermanto: Yang jelas setelah pemusnahan, jangan sampai narkotika tersebut masih bisa digunakan lagi oleh orang-orang. Kan bisa saja akibat mereka sudah ketergantungan, kalau kita menghancurkannya tidak sesuai SOP, barang bukti diolah lagi. Yang kedua, tidak membahayakan masyarakat sekitar. Ketiga, tidak membuat polusi mulai dari polusi udara, air, tanah.

Kenapa pemusnahan tidak pakai incinerator saja kalau niatnya membakar?
[Pembakaran di lapangan] cara-cara konvensional yang bisa kita lakukan. Sebetulnya ada alat yang sudah disiapkan oleh Badan Narkotika Nasional. Cuma, alat itu kan kadang-kadang kalau jumlah barang bukti yang dihancurkan sedikit, kita enggak bisa pakai alat itu. Kedua, alat-alat itu juga kadang digunakan di tempat lain. Di Jakarta banyak Polres yang memusnahkan barang bukti juga. Perbedaannya masalah jumlah barang bukti. Kalau sedikit ya pakai cara konvensional. Kalau jumlahnya banyak baru pakai incinerator. Alat tersebut kan sudah ada standarnya dari pemerintah, sudah diuji juga mengurangi polusi, dan pemusnahannya bisa 100 persen. Enggak bisa diolah lagi oleh manusia yang punya niat jahat.

Apakah alasan membakar di ruang terbuka supaya kelihatan 'polisi berhasil nih'?
Itu pertanggungjawaban kita kepada publik, berdasarkan Undang-Undang. Kita harus musnahkan barang tersebut disaksikan masyarakat, tenaga hukum dari Kejaksaan dan Pengadilan, ada berita acaranya juga untuk pertanggungjawaban. Jangan sampai masyarakat melihat atau berprasangka buruk bahwa barang-barang yang kita sita, “mana nih barangnya? Bisa-bisa dijual lagi sama polisi”. Makanya itu pertanggungjawaban secara hukum dan pada masyarakat.

Masyarakat umum memangnya bisa mengontrol barang bukti narkoba yang didapat polisi jumlahnya sama persis dengan yang dihancurkan?
Kita sebelum pemsunahan ada pengecekan barang bukti yang dilakukan oleh Puslabfor. Kita undang disaksikan oleh yang hadir saat itu. Kita timbang barang buktinya, ini penetapannya, dicek kandungannya, dicek lagi, baru kita musnahkan.

Sebelum prosesi pembakaran kan pasti hiruk pikuk tuh. Pernah ada kah kasus atau kemungkinan personel polisi nakal mengambil barang bukti narkoba tadi?
Kalau bicara kemungkinan sih pasti ada. Tapi kita harus lebih jeli untuk melihat celah-celah itu. Makanya kita juga gunakan SOP untuk menjaga barang bukti itu, jangan sampai pemusnahan atau saat pengamanan barang bukti di kantor itu hilang. Kalau kita di sini ada yang namanya petugas pengamanan barang bukti. Kita simpan barang tersebut di brankas, kuncinya dipegang bukan hanya oleh satu orang, ada beberapa petugas. Jadi, sistem kuncinya apabila ada hanya satu orang yang coba membuka, dia enggak bisa buka. Harus ada tiga orang bersamaan baru bisa terbuka. Itu untuk standar penyimpanan. Kalau standar pemusnahan, standarnya kita harus mengundang masyarakat, penegak hukum, tokoh masyarakat, tokoh agama untuk menyaksikan, serta puslabfor untuk mengecek barang bukti tersebut.

Balik lagi soal metode pembakaran barbuk narkoba. Kenapa tidak dibuang ke laut atau dikubur saja supaya masyarakat enggak mabuk?
Kalau dikubur kan bisa diambil orang, terus juga polusi di tanah kan. Dibuang ke laut sama, bisa polusi di air, bisa membunuh ikan-ikan dan karang. Saya rasa [dibakar] itu yang paling aman untuk pemusnahan. Paling yang tidak dibakar itu sabu-sabu. Kita blend, langsung kita tanam. Kita buat kubangan di tanah, kita buang ke sana. Kita campur dengan air keras, dengan soda api, sama air juga. Jadi campurannya itu bukan sama air saja. Supaya enggak bisa digunakan lagi.

Waktu dulu pembakaran ganja akhirnya bikin pusing warga, respons polres seperti apa?
Yang 3,3 ton itu tahun 2015 [di Palmerah] warga sampai teler. Nah untuk menghindari itu makanya pemusnahan berikutnya hari Kamis [8 Maret] saya enggak mau di sana lagi. Kita musnahkan di Bandara. Untuk pemusnahan di Bandara enggak ada jumlah minimal. Memang sih hal yang perlu diperhatikan apakah ada dampak bagi masyarakat [dari pemusnahan barbuk]. Ada beberapa masyarakat yang komplain, dengan pemusnahan yang di Palmerah itu.

Polisi yang terlibat pembakaran apakah merasakan efek samping asap barbuk narkobanya?
Enggak juga sih. Lagian kan kalau pembakaran kita pakai masker. Nembus sih nembus [asapnya] cuma setidaknya disaring lah. Setidaknya enggak terlalu langsung, jadi enggak banyak yang kita hirup. Bagaimanapun banyak kritik dari masyarakat, makanya kita kaji lokasi dan metode lain, karena ganja efeknya sendiri dari asap, begitu dibakar asapnya kehirup orang pasti ada efek samping.

Pernah lihat ada orang sengaja nonton pembakaran ganja atau narkoba lain dengan harapan mengisap asap dan teler?
Enggak pernah lihat sih. Mungkin ada saja [masyarakat], tapi kan kita enggak pernah tahu niat orang ya. Kita juga enggak bisa tiba-tiba peringatkan “hey kamu ke sini mau ngisep ya?” Setidaknya kita sudah umumkan supaya jangan dekat-dekat, karena nanti ada efek dari asap itu.

Andai kejadiannya seperti di Palmerah, kita tidak sengaja menghirup asap pembakaran polisi dan teler. Apakah warga yang mengalami itu dapat disebut 'pemakai' atau terjerat hukum?
Enggak bisa. Karena itu hanya efek dari pemusnahan. Cuma kalau kita periksa urinnya positif kan pasti kita interogasi gara-gara apa positifnya. Jadi ya bisa ketahuan dari situ enggak akan terjerat.


10 Pertanyaan Penting adalah kolom VICE Indonesia untuk mengajak pembaca mendalami isu sekilas nampak remeh, padahal bikin penasaran. Baca juga wawancara dalam format serupa dengan topik dan narasumber berbeda-beda di tautan berikut:

10 Pertanyaan Penting Seputar Seluk Beluk Profesi Tukang Parkir di Indonesia

10 Pertanyaan Penting Buat Dokter Spesialis Sunat di Jakarta

10 Pertanyaan Penting Untuk Pengusaha Judi Online Tanah Air