Polusi Lingkungan

Video Penyelam Inggris Tunjukkan Laut Bali Dipenuhi Sampah Plastik

Rekaman itu konon diambil di Manta Point, Nusa Penida. Kalau udah kayak gini, jangan marah mendengar kabar Indonesia nomor dua sedunia urusan memasok sampah plastik ke samudra.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Pada 3 Maret lalu, akun YouTube cheeseandjamsandwich mengunggah video dirinya berenang mengarungi lautan penuh sampah plastik. Tiap frame video berdurasi dua setengah menit ini menampilkan sampah plastik, diselingi penampakkan ikan, karang, ubur-ubur, dan ikan pari manta yang harus hidup sendirian dikelilingi plastik.

Video tersebut menurut si pengunggah direkam saat diving di Manta Point, salah satu titik selam favorit pengunjung Nusa Penida, Bali. Ini adalah video kedua yang diunggah akun cheeseandjamsandwich. Unggahan pertamanya berupa video peluncuran pesawat ulang alik Endeavour pada 2008 yang hanya ditonton sebanyak 418 kali. Sekarang, video dirinya berenang di antara sampah-sampah plastik di Bali sudah ditonton sebantak 32.171 kali.

Iklan

Cheeseandjamsandwich, yang menurut The Guardian adalah penyelam berkebangsaan Inggris bernama Richard Horner, mengimbuhkan kalimat berikut dalam deskripsi videonya: “gelombang laut menghadiahi kita dengan ubur-ubur, plankton, dedaunan, ranting pohon, dauh palem, tongkat dan…oh, ada juga beberapa plastik.”

Horner pertama kali mengunggah videonya di Facebook, yang sejauh ini sudah dibagikan lebih dari 19.000 kali. Dalam captionnya, Horner mengaku “tak pernah melihat sampah plastik di laut sebanyak ini.” Sehari setelah merekam video ini, Horner tak lagi melihat plastik di tempatnya menyelam. Menurut profil Facebooknya, Horner adalah mantan instruktur scuba diving yang merasa paling bahagia saat berada “40 meter di bawah permukaan laut.” Horner saat ini tinggal di Bali dan mengaku berasal dari Wadhurst, Inggris.

Motherboard berusaha menghubungi Horner untuk memahami lebih lanjut konteks video tersebut, namun belum mendapat balasan darinya.

Polusi plastik yang mengerikan di samudra bukan berita baru di Indonesia, yang saat ini nangkring di posisi dua sedunia sebagai penyumbang sampah plastik laut terbanyak. Sebuah makalah yang diterbitkan di majalah Science Januari lalu menaksir terdapat rata 25,6 sampah plastik per 100 meter persegi terumbu karang Indonesia.

Drew Harvell, profesor ekologi dan biologi evolusioner di Cornell University yang ikut menulis makalah di Science menyatakan lewat surel bahwa polusi plastik di Indonesia sampai tahap mengkhawatirkan. “Di beberapa tempat yang kami kunjungi di Indonesia, sampah plastik bisa setinggi lutut dan terletak tak jauh dari terumbu karang.”

Iklan

Saaat kami minta merespons video horner di Bali, Harvell menilai rekaman tersebut “mengejutkan." Harvell dan tim penelitiannya pernah melihat sampah-sampah plastik di Nusa Penida. "Tapi gelombang laut berisi sampah plastik ini lebih parah dari apapun yang pernah kami lihat.”

Beberapa riset lapangan Harvell memang berasal dari Nusa Penida. Harvell juga mengatakan meski dia tak bisa mengonfirmasi lokasi pengambilan video, “kehadiran ikan pari manta dan jenis terumbu karang dalam video konsisten dengan klaim bahwa video tersebut di ambil di Indonesia.”

Studi yang dilakukan Harvell juga memperkirakan ada 11 miliar sampah plastik di terumbu karang kawasan Asia-Pasifik. Tingginya jumlah sampah plastik ini memperbesar peluang terjadinya infeksi terumbu karang.

Pemerintah Indoenesia bukannya tak melakukan apa-apa. Pada 2014, Indonesia mengumumkan rencana membangun suaka alam untuk ikan pari manta seluas lebih dari 3 juta kilometer persegi. Baru-baru ini Indonesia bersiap mengeluarkan dana sebesar Rp13 triliun demi mengurangi polusi plastik di Bali. Niatan itu dicanangkan pemerintah saat hadir di World Oceans Summit di Nusa Dua, tak juah dari lokasi video Horner direkam.

Redaksi Motherboard belum bisa memastikan jika video Horner benar-benar direkam di Bali. Kalau berkaca pada keterangan garis bujur dan lintang ( garis lintang: -8,7934, garis bujur: 115,527) yang diberikan Horner di Facebook, maka itu sesuai dengan koordinat Manta Point di Nusa Penida.

Terlepas di mana pun rekaman itu diambil, video Horner setidaknya mengingatkan kita betapa kebiasaan manusia menggunakan produk plastik terbukti berdampak besar pada kerusakan ekosistem laut.