Musik

Musik Pop Makin Galau Saja Karena Manusianya Juga Makin Sedih

Tenang, kesimpulan ini enggak asal jeplak kok. Para peneliti dari University of California, Irvine menganalisis lagu yang keluar antara 1985 hingga 2015. Jadi, pasti patenlah kesimpulannya.
Lauren O'Neill
London, GB
17 Mei 2018, 5:14am
Image via Pixabay

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Musik pop cengeng adalah genre yang unik. Pasalnya, di satu sisi, pop cengeng—salah satu genre paling populer di muka bumi—bisa mengeskpresikan sentimen paling rumit sekalipun dengan tanpa tedeng aling-aling sembari tetap setia dalam batasan-batasan musik pop yang generik. Dan kendati tendensi makin sedihnya musik pop adalah sesuatu yang kita yakini sejak populernya musisi-musisi macam The Weeknd, Charli XCX, Princess of Summertime Sadness, Lana Del Rey, bukti ilmiah dugaan itu baru muncul belakangan ini.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti di University of California, Irvine dan diterbitkan di journal Royal Society Open Science memastikan bahwa musik pop memang makin sedih saja, setidaknya dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Para periset menganalisis 500.000 lagu yang dirilis di Britania Raya dalam kurun waktu antara 1985 hingga 2015 untuk mengidentifikasi tren sonik yang terjadi dalam jangka waktu tersebut. Di bagian abstrak penelitian tersebut, para peneliti menulis.

Beberapa tren yang membentang selama beberapa dekade mulai terungkap. Misalnya, ada tren penurunan sentimen “bahagia” dan “kecerahan” serta tren peningkatan “kesedihan.” lebih dari itu, lagu-lagu pop cenderung jadi kurang “maskulin.” Yang menarik, lagu-lagu yang sukses punya dinamika yang unik. Umumnya, lagu-lagu ini cenderung “lebih bahagia,” “lebih ramah digunakan dalam pesta-pesta,” “kurang santai” dan lebih “feminim” dibanding lagu-lagu lainnya.

Mereka juga menjabarkan metodologi penelitian yang mereka pakai.:

Kami menggunakan metode random forest untuk memprediksi kesuksesan lagu. Aspek pertama yang kami lihat adalah komponen akustiknya, setelah itu kami menambahkan variabel “superstar” (untuk memberitahu kami apakah musisi yang menyanyikannya pernah menduduki puncak chart di masa lalu yang tak terlalu jauh). Ini memungkinkan perhitungan kontribusi karakteristik musik dalam kesuksesan lagu dan menentukan skala waktu dinamika tertentu dalam musik populer

Gokil!

Di antara beberapa temuannya, penelitian ini berhasil mengamati turunnya tren popularitas musik rock dan memastikan bahwa pop dan dance sebagai genre musik paling populer saat ini. Lebih jauh, penelitian ini juga menegaskan bahwa walaupun lagu-lagu pop yang lebih sendu lebih sering dirilis, lagu-lagu yang riang dan bahagia tetap saja lebih populer. Dalam keterangannya pada Associated Press, Natalia L. Komarova, salah satu periset utama dalam penelitian, "jadi kelihatannnya, kendati mood keseluruhan musik pop kini kurang riang, orang-orang memilih untuk melupakannya dan berjoget saja.”

Amatan yang menarik. Dan seiring makin populernya estetika sendu di dunia maya (salah satunya, ditunjukkan oleh akun twitter seperti @sosadtoday, yang sampai tulisan ini diturunkan memiliki 665.000 follower), kesimpulan penelitian sangatlah logis. Lazimnya, kita mencari musik yang merefleksikan zaman yang kita hidupi dan apa yang kita rasakan (entah sebagai bagian identifikasi atau guna menemukan katarsis). Nyatanya, situasi dunia yang kita hadapi saat ini sedang sedih-sedihnya—dari badak putih Afrika yang nyaris punah hingga satu keluarga yang memutuskan jadi pelaku bom bunuh diri di Surabaya. Jadi, tak aneh kalau musik popnya kian kemari kian galau saja.

_Follow Lauren di Twitter**._**