Game Simulasi

Cobalah Main Game Bertahan di Mars, Anggap Aja Latihan Kalau Ide Elon Musk Terwujud

Game berjudul 'Surviving Mars' ini memberi kita pengalaman membangun koloni manusia di Planet Mars. Tapi, habis main rasanya aku enggak yakin bisa selamat sih kalau beneran ke sana.
Cuplikan game dari arsip Haemimont Games.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Mars itu disebut banyak ilmuwan nyaris menyerupai Bumi. Ukurannya separuh lebih kecil, sangat dingin, terpapar radiasi tinggi dari matahari, dan tidak memiliki cukup oksigen bagi manusia untuk bernapas. Meski sering dianggap sebagai calon rumah kedua bagi manusia, tidak diragukan lagi bila pendatang di Mars sebaiknya mempersiapkan diri untuk kondisi alam tak bersahabat.

Iklan

Bagi kalian yang ingin merasakan pengalaman menjadi penduduk Mars, tanpa harus meninggalkan sofa empuk mereka di Bumi, sekarang ada Surviving Mars. Ini game strategi pembangunan kota yang dirilis pekan lalu oleh Haemimont Games and Paradox Interactive.

Premis game ini sederhana banget. Kalian pokoknya harus sukses membangun koloni Mars, barangkali miriplah sama cita-cita visioner pengusaha macam Elon Musk yang pengin memindah manusia ke sana, paling cepat pada 2024 mendatang.

Saat mulai main, gamer mendapat sumberdaya membangun kota mandiri perdana, terdiri dari infrastruktur pangkalan drone yang dibangun robot, turbin angin, kabel daya. Jika sudah main cukup lama, kamu bisa memperoleh berbagai fasilitas mentereng seiring kotamu makin berkembang, di antaranya klab malam di Mars, danau-danau, hingga taman bermain. Kamu memulai game simulasi ini dibekali modal awal sekitar US$30 triliun.

Kalau kamu memutuskan kolonimu akan menjadi zona internasional, maka kamu bisa mewakili negara atau perusahaan spesifik, atau bahkan sebuah kelompok aneh bernama “Church of the New Ark,” yang sepertinya adalah cult kesuburan di era penjelajahan luar angkasa.

Setelah kamu memilih satu tempat di Mars untuk mendaratkan roket pasokan pertama, semua langkah selanjutnya terserah padamu. Kamu dibebaskan menciptakan habitat dengan dukungan kehidupan dan ekstraksi sumber daya berkelanjutan yang layak untuk kolonimu.

Iklan

Namun kebebasan itulah tantangannya. Meski rasanya menyenangkan dibekali uang tunai buat mengeksploitasi planet lain, rupanya sulit benar-benar mengerjakan tata letak kabel daya, memasang rute pasokan materi, mendelegasikan pekerjaan pada robot dan drone, hingga memasang solar operasional serta pembangkit listrik tenaga angin. Badai debu dan paparan radiasi yang rutin terjadi di Mars selalu merusak bangunan, jadi kamu memerlukan banyak peralatan tambahan untuk mengamankan koloni kalau-kalau perangkat keras yang penting rusak.

Kamu juga harus mengatasi meteorit acak jatuh dari langit. Ingat, Mars itu planet tanpa atmosfer yang tidak bisa melindungi kita dari benda langit. Berbagai hal itu, kalau sampai meteorit tadi mengenai infrastruktur penting, maka rusak komunitasmu.

Atas berbagai pengalaman itulah, Surviving Mars oleh developernya dijuluki sebagai game dengan agenda mendapatkan “risiko minimum.”

Sebagian kolonismu pasti mengalami kematian-kematian tidak alami sejak awal. Mereka yang bertahan juga memiliki kualitas hidup yang rendah, karena penduduk koloni hanya dibatasi gelembung-gelembung isolasi kecil yang rentan terpapar radiasi.

Kesalahan strategi gamer, yang bisa berdampak buruk bagi koloni manusia di planet merah ini, kadang-kadang menyebalkan—terutama karena saya memiliki bakat untuk secara tidak sengaja membangun perangkap kematian bagi penduduk kota saya. Tapi itu juga merupakan bagian terbaik soal Surviving Mars.

Ribuan orang ingin meninggalkan jejak langkah mereka di tanah Mars, dan akan sangat seru jika spesies kita bisa melaksanakan tugas ini. Ibaratnya bulan diibaratkan selingkuhan jutek, Mars adalah bajingan kejam. Terlepas dari segala glorifikasi akan planet ini di fiksi ilmiah, ribet banget sebenernya untuk hidup di sana. Game ini berusaha jujur dan menegaskan kalau bukan perkara mudah bagi manusia buat bertahan di Mars kelak.

Surviving Mars menyadarkan kalau saya tidak punya kesempatan bertahan hidup di Mars, andaikata kelak diberangkatkan ke sana. Planet merah ini seru banget untuk dijelajahi secara virtual. Cuma, ketika koloni pertama sungguhan pindah ke Mars, saya kayaknya mau tinggal di Bumi aja deh.