Pelanggan berfoto depan Kedai Es Krim Rukab yang legendaris di Ramallah.
Semua foto oleh Christopher Beauchamp.
Damai Berkat Es Krim

Es Krim Enak Banget Bikin Orang Israel Nekat Menyusup ke Palestina Buat Membelinya

Tak perlu kaget bila perdamaian abadi Palestina-Israel kelak terjadi berkat es krim kedai Rukab di Kota Ramallah. “Saya sedih kalau tidak bisa makan es krim itu lagi," kata satu pelanggan asal Israel.
16 April 2018, 7:27am

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES

Dalam penerbangan ke Tel Aviv, seorang wanita Israel di bangku sebelah saya mengajak ngobrol.

“Kamu bakal tinggal di mana selama di Israel?”

“Saya akan pergi ke Tepi Barat dan menginap di Ramallah.”

Karena Ramallah adalah kota administratif Otoritas Nasional Palestina, maka orang Israel tidak diizinkan pergi ke sana. Saya sempat mengira wanita tersebut akan berubah sikap terhadap saya. Mungkin sedikit bermusuhan karena menganggap saya pro-Palestina. Dugaan saya keliru. Sebaliknya, matanya malah berbinar.

“Ya ampun, kamu beruntung banget,” kata wanita itu. “Kalau kamu sudah tiba di sana, jangan lupa kunjungi Kedai Rukab Ice Cream. Dulu saya sering makan es krim di sana waktu masih kecil. Tekstur es krimnya agak lengket dan melar, kayak keju leleh. Duh saya sedih kalau ingat sekarang tidak bisa makan es krim itu lagi.”

Menurut Perjanjian Oslo II yang ditandatangani September 1995, Tepi Barat dan Jalur Gaza dipisah menjadi beberapa bagian, yakni Area A, B, dan C. Area-area ini akan diakui oleh pemerintah Israel dan Otoritas Palestina. Kota-kota seperti Ramallah termasuk Area A; di lokasi-lokasi ini, baik layanan sipil dan keamanan berasal dari Otoritas Palestina. Meskipun Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sering memasuki daerah ini untuk melakukan penggerebekan dan penangkapan orang-orang yang dicurigai sebagai militan, sebenarnya ilegal bagi warga sipil Israel memasuki daerah ini.

Area B berada di bawah kendali Israel-Palestina, dan ‘secara teknis’ tidak boleh ada pemukiman Israel di sana. Area C adalah lokasi manapun di Tepi Barat yang berada di bawah kendali penuh Israel; ini termasuk pos-pos dan pemukiman Israel.

Tanda-tanda peringatan resmi yang mengarah ke Area A, yang mencakup Ramallah, berbunyi: Warga Israel dilarang masuk. Kawasan ini bahaya. Masuk tanpa izin sama saja menentang hukum Israel.

Larangan ini juga berlaku bagi warga Israel yang ingin beli es krim legendaris Ramallah.

Ramallah, yang terletak hanya 9,6 kilometer di utara Yerusalem, dianggap sebagai kota Palestina paling liberal. Al-Manara Square, bundaran lalu lintas dengan lima patung singa di tengahnya, adalah pusat kota tidak resmi.

Selain sebagai penunjuk jalan, Al-Manara juga merupakan wilayah de facto Otoritas Palestina yang konsisten memprotes blokade sekaligus penjajahan pemerintah Israel. Pada malam hari, warga dan turis memadati restoran, kelab malam, kedai kebab, dan bermacam bar yang ada di pinggir jalan. Kira-kira tiga blok di sebelah timur alun-alun, di Jalan Rukab, terdapat kedai es krim paling terkenal di Ramallah: Rukab Ice Cream.

1523563789518-ramallah-ice-cream-4

Es krimnya Rukab itu bisa melar panjang banget, tapi tetap lembut kayak keju.

Kedai yang hanya buka pada malam hari ini sudah beroperasi sejak 1941. Rukab terkenal berkat dondurma buatannya, itu sebutan es krim ala Turki yang terbuat dari mastic (ekstrak pohon damar). Mastic adalah getah yang dikumpulkan dari pohon Pistacia lentiscus. Mastic jenis ini, tetesan resin yang mengeras yang dikumpulkan dan diimpor dari pulau Chios di Yunani, memberikan esensi lengket khas dan rasa yang unik pada es krim Rekab.

Segera setelah kamu memasuki kedai ini, kamu akan menemukan berbagai penjual yang menyendokkan es krim warna-warni layaknya sedang menarik permen taffy. Rasanya beragam, tapi yang menjadi favorit pelanggan yaitu rasa pisang, stroberi, dan pistachio. Meskipun semua varian rasa mengandung resin mastic, saya paling tertarik dengan Gum Arab Rekab, yang merupakan resep aslinya.

Es krim yang terbuat dari susu, gula, dan mastic ini terasa creamy dan sekilas mirip citarasa kayu manis. Merasakan sensasi gigitan dondurma yang elastis dari cone merupakan keunikan tersendiri. Kamu harus memakannya langsung dari cone dan menggigitnya.

Jimmy Rukab, pemilik sekaligus pengelola kedai tersebut saat ini, mengajari saya cara makan es krim yang benar seraya menceritakan sejarah kedai yang diwarisi dari keluarganya. “Kakek saya membuka kedai ini pada 1941, tapi beliau sudah menjual es krim dorong jauh sebelum itu. Ayahnya bekerja di kebun jeruk di Jaffa dan meninggal secara tiba-tiba. Kakek saya masih berusia 15 saat itu dan keluarganya harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibunya (nenek buyut saya-red) memiliki resep es krim Turki yang menggunakan resin mastic. Nenek buyut membuat sekaleng es krim setiap harinya, dia jual di pinggir jalan. Semuanya berawal dari kebutuhan untuk bertahan hidup.”

Kedai ini berada di sudut jalan dengan plang neon warna pink. Kalau mengamatinya dari dekat, kamu bisa menemukan kerusakan di bagian luarnya, imbas konflik baru-baru ini. Jimmy menunjukkan 30 bekas tembakan peluru karet dan amunisi di berbagai sudut kedainya.

“Malam itu, Tentara Israel datang ke Ramallah untuk menyita beberapa bahan kimia dari toko buku yang menjual kebutuhan untuk kelas kimia. Orang-orang Palestina melemparkan batu ke mereka, dan para tentara menembakkan peluru karet dan peluru hidup. Empat orang tertembak. Saya datang ke kedai dan melihat genangan darah di trotoar. Lalu keesokan harinya, semua berjalan normal dan seperti tidak terjadi apa-apa. Sudah biasa di sini.”

Jimmy bersekolah di Quaker High School di Ramallah dan kuliah jurusan bisnis di UMASS Boston. Meskipun merupakan warga negara AS, dia memutuskan kembali ke Ramallah untuk mengembangkan bisnis keluarga dan menjadi bagian ‘generasi baru pengusaha Palestina yang optimis.’ Akan tetapi, perkembangan politik baru membuat kota dan daerah tersebut terus bersitegang. Jimmy yakin penjualan kedainya bisa menjadi alat ukur ketegangan di kota.

“Ketika Donald Trump memutuskan untuk memindahkan kedubes AS ke Yerusalem, ketegangan semakin parah di sini, dan parahnya lagi mereka berencana melakukannya bertepatan pada Hari Nakbah. Ketika berita tersebut diumumkan, para demonstran membawa obor api ke jalan dan bentrok dengan tentara Israel," kata Jimmy.

1523563805565-ramalllah-ice-cream-6

Getah mastic setelah didaras.

"Banyak penduduk Palestina yang khawatir akan terjadi konflik massal akibat kebijakan Trump soal kedutaan. Saat ini terjadi, kedai kami pasti sepi pengunjung karena orang Palestina mulai menyimpan uangnya," imbuh Jimmy. "Apabila kamu takut terjadi perang, kamu pastinya tidak akan membuang-buang uang untuk hal yang tidak kamu butuhkan. Kamu makan es krim kalau lagi pengin saja, bukan karena butuh. Kedai kami biasanya ramai. Kalau sepi pengunjung, itu artinya akan terjadi hal buruk.”

Di dekat tikungan dari kedai Rukab adalah kedai kebab populer yang tetap buka hingga larut dan menawarkan acar buatan sendiri secara cuma-cuma (kira-kira ada 15 varian). Orang-orang tampak gembira dan menyapa dengan ramah. Jimmy meyakinkan saya kalau orang-orang Palestina tahu bahwa orang Amerika juga membenci Trump atau kebijakannya. Saya menanyakan padanya apa benar orang Israel sering menyelusup ke Ramallah untuk mengunjungi kedainya.

“Kadang-kadang, ada sekelompok orang Israel yang menyelusup ke Ramallah dengan paspor Kanada palsu hanya untuk membeli es krim di sini. Meskipun mereka mencoba untuk berpura-pura, saya mengenali aksen khasnya. Kami baru saja membuat es krim pisang karamel dari resep toffee bikinan saudara perempuanku. Banyak orang yang mengetahui rasa baru ini dan penasaran ingin mencobanya.”

Sekembalinya di kedai, Jimmy memaksa saya untuk mencicipi es krim pisang karamel tersebut. Ketika malam berakhir, saya melihat ada beberapa pria yang makan es krim di situ sambil membahas politik. Jimmy menyayangkan ketidakpastian politik terus melanda tanah kelahirannya.

“Bekerja di sini membuat saya mendengar berbagai teori konspirasi. Rasanya aneh karena kami tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa orang bilang kalau pemimpin Israel dan Palestina berteman dan berencana untuk berdamai. Mereka melakukannya perlahan agar rakyat terbiasa dengan perubahan nantinya. Ibu kota Israel bisa saja menjadi Yerusalem Barat dan ibu kota Palestina menjadi Yerusalem Timur.

“Apa pun kemauan elit-elit itu, saya harap solusi dua negara bisa benar-benar terjadi.”