The Road

Tiga CEO Startup Buka-bukaan Siasat Menghadapi Jalan Terjal Memulai Bisnis di Indonesia

Indonesia bukan negara yang ramah untuk wirausaha. Tantangan memulai bisnis banyak banget, lebih-lebih kalau mau bikin startup. Tiga CEO startup berbeda berbagi cara menyiasatinya.
Kolase foto oleh Dicho Rivan. Sumber foto dari arsip pribadi narasumber, diunggah seizin mereka.

Jujur, aku belum pernah berusaha merintis perusahaanku sendiri. Tapi, aku tahu memulai bisnis memang tidak pernah mudah. Apalagi di Indonesia. Kalau tak percaya, simak saja penjelasan mereka yang memilih jalan hidup 'startup' di negara ini. Sempatkanlah ngobrol sebentar saja, pasti mereka semua mengakui ada banyak tantangan yang harus dipecahkan sesudah kalian memantabkan niat berbisnis. Mulai dari ekosistem pendukung yang belum sepenuhnya mumpuni, pertarungan bisnis, hingga birokrasi pemerintahan sungguh berbelit menjadi persoalan yang kerap kali mencekik tak cuma founder startup, namun juga mayoritas pengusaha di Indonesia.

Iklan

Lembaga riset Value Penguin melansir daftar peringkat negara ASEAN dan tingkat kemudahannya dalam membangun startup. Dari 12 negara di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat ke-8, artinya dianggap salah satu negara yang ‘tidak ramah’ bagi perkembangan startup. Enggak usah hanya fokus di startup deh. Peringkat kemudahan memulai bisnis di Tanah Air baru membaik empat tahun terakhir. Merujuk indeks Bank Dunia tahun lalu, Indonesia ada di urutan 72 secara global, meningkat dibanding 2015. Kala itu Indonesia masih berada di urutan 106 dari 190 negara yang disurvei.

Nyatanya, kondisi ini tak lantas menurunkan semangat para pebisnis startup di Indonesia. Pola pikir ‘pantang nyerah sebelum perang’ dan pokoknya mulai aja dulu menjadi pegangan para pebisnis startup. Bagaimana mereka menemukan keberanian memulai bisnis? Hambatan apa saja sih yang biasa mengintai pengusaha startup di Tanah Air?

Untuk memahaminya lebih jauh, VICE Indonesia menghubungi para founder startup yang sedang berkembang di Indonesia. Kami membahas berbagai tantangan yang selama ini mereka hadapi.

Andy Fajar Handika, CEO Kulina.ID

Kulina adalah bisnis katering yang melayani pengantaran makan ke area Jabodetabek

VICE Indonesia: Hai, Andy! Kulina sekarang sudah di mana-mana nih!
Andy Fajar: Iya syukurlah, sedang dikembangkan terus nih pokoknyaa.

Kalau boleh tahu, gimana sih cerita awalnya bikin kulina?
Sebelumnya, kami pernah bikin makan siang bareng. itu dari restoran-restoran sendiri. Hingga akhirnya di 2016 aku launching kulina. Strugglenya, bulan pertama kita launching itu cuma ada dua transaksi. Tahun itu bisnis makanan memang lagi seret-seretnya. Belum lagi food panda keluar dari indonesia, jadi kayak banyak orang enggak percaya. Akhirnya, setelah membuat kulina itu aku menutup dan menjual restoranku.

Iklan

Itulah bagian dari strugglenya, istilahnya burn the bridge. Literally, there's no turning back. Yasudah, aku fokus di kulina dan lanjut terus hahaha.

Total pelanggannya sekarang berapa?
Sekarang 43.176 orang Jakarta sudah jadi pelanggan kita. Untuk update real time-nya bisa cek di website kami juga.

Wah, banyak banget! Sampai akhirnya bisa sebesar sekarang gimana ceritanya?
Perlahan-lahan kami promosi, dan per akhir tahun 2016 jumlah yang diantar mulai meningkat sekian ratus, hingga akhirnya mencapai seribu lebih per hari. Tapi seluruh sistem data kami masih berantakan. Luckily, kita dapat funding, memperpanjang umur haha itu 2016. Awalnya, kita punya banyak pilihan, seperti ada yang makanan organik, lalu melayani makan malam juga. Tapi karena banyak opsi itu malah jadi enggak fokus dan tidak berkembang. Sehingga, yang kita lakukan pertengahan tahun 2017 kemarin itu justru memotong semua pilihan dan cuma punya satu jenis produk aja, yakni kulina lunch makan siang itu doang.

Berarti mulai fokus makan siang itu baru tengah tahun lalu?
Iya, betul dan sampai sekarang. Ya sepertinya on the right track sih.

Salah satu masalah pelik dalam berbisnis di Indonesia adalah birokrasi berbelit-belit. Pernah alami masalah ini juga tidak?
Pernah aja, misalnya kita kan sourcing dari katering, tapi juga restoran. Nah, kan restoran kena pajak tuh 10 persen, tetapi ketika restoran itu serving untuk katering aturannya bagaimana? Apakah kena objek pajak 10 persen?

Iklan

Terus misalnya juga masalah halal certificate. Semua dapur kita sudah kita cek dan itu halal. Tapi ketika ada satu dapur yang belum tersertifikasi, kita juga tidak bisa cantumkan logo halal. Semuanya terbukti halal, tapi ga boleh secara legal mencantumkan itu, jadi kita ga cantumkan. Terkadang beberapa costumer—walau sangat kecil angkanya—pernah menanyakan, kok ga ada logo halal? Hal-hal seperti ini yang kami hadapi di bisnis makanan.

Pusing banget dong? Enggak mau komplain?
Kondisinya memang sudah begitu ya, mau komplain juga malas. Mindset-nya kayak mending minta maaf daripada minta izin kan. kalau misalnya dibilang, eh ini ilegal, yaudah semacam ya minta maaf hahahahaha.

Ke depannya ada rencana coba diversifikasi produk lagi?
Kalau tahun ini kayaknya belum deh. Satu pelajaran yang cukup nampol itu bahwa dulu kita bikin produk berdasarkan request dari customer dan holder, semisal fitur baru. Sulit dan ribet. Nah, jadi sekarang kalaupun mau bikin fitur atau produk baru harus benar-benar based on data, bukan sekadar permintaan.

Jezzie Setiawan, Founder dan CEO Gandeng Tangan

Gandeng Tangan adalah marketplace pembiayaan mikro. Platform ini dapat membantu kalian berinvestasi di berbagai usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

VICE: Halo Jezzie. Apa sih Gandeng Tangan itu?
Jezzie Setiawan: Gandeng Tangan adalah micro finance marketplace, platform online di mana kamu bisa beri investasi atau pembiayaan kepada pedagang mikro. Jadi kami pertemukan pedagang mikro dan pendana yang mau berinvestasi dengan memberikan pinjaman. Bukan hanya pinjaman, pedagang mikro juga bisa mendapat pendampingan melalui local trustee di daerahnya masing-masing.

Iklan

Di saat semua bergerak untuk sesuatu yang ‘profit-driven’, Gandeng Tangan masih punya misi sosial. Apa yang mendorong semangat ini?
Di Indonesia, 50 persen masyarakat hidup di bawah 2 dolar, yang berarti masih berada di bawah garis kemiskinan. Sebagai salah satu orang yang beruntung bisa ambil pendidikan tinggi, bahkan lanjut master di luar negeri, aku merasa punya tanggung jawab sosial untuk melakukan suatu pengabdian yang berdampak bagi orang banyak. Lalu aku berpikir, salah satu tindak langsung yang berdampak mengurangi kemiskinan adalah pekerjaan. Ternyata 97 persen pekerjaan di Indonesia diciptakan oleh UMKM. Mayoritas usaha mikro. Karenanya, untuk tingkatkan taraf hidup masyarakat, Gandeng Tangan berupaya menjadi micro finance marketplace bagi pengembangan startup UMKM di Indonesia, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Tantangan mengembangkan startup macam ini apa sih?
Mencari tim yang solid dan rela berbuat apapun untuk startup ini tentu menjadi tantangan pertama. Lalu, bicara juga tentang produk, pengembangannya dan tentu masalah financing dan permodalan. Di awal, kami memang mendapatkan dana hibah untuk mengembangkan startup. Kami sempat terlena. Cuma, kami akhirnya sadar dan wah ini enggak bisa kita andalkan hibah terus. Kita terus mencari investment. Untuk pencarian investment, kami terus menyiapkan diri agar ‘investement ready’. Di 2015 kami memang belum ‘investment ready’. Nah, setelah bertransfomasi dari waktu ke waktu hingga sekarang, kami lebih percaya diri dan merasakan kita sudah lebih ‘investment ready’.

Iklan

Tantangan juga datang dari penarian tim human resource di digital startup, terutama di bagian IT, developer, programming. Persaingan mendapatkan SDM terbaik memang begitu ketat. ‘Harganya’ pun mahal. Sehingga itu juga menjadi tantangan buat kita.

Apa bagian tersulit bergerak di bisnis startup Indonesia?
Ada masa ketika kamu sendiri, kerja sendiri. pertama kali punya ide mungkin masih semangat. Namun, saat kita di atas lalu ada momen jatuh, kerap kali sendirian dan tak punya teman cerita. Ada masa seperti itu. Walau begitu, aku tetap mau maju karena ternyata lebih dari setengah loh masyarakat Indonesia yang tinggal di bawah garis kemiskinan. Saya beruntung menikmati fasilitas pendidikan tinggi di Indonesia. Maka, dengan segala keuntungan ini, kenapa enggak mau bikin impact terhadap 50 persen ini? Kalau bukan kita siapa lagi yang lakukan ini?

Hanifah Ambadar, founder Femaledaily

Female Daily adalah startup media yang fokus pada isu fashion dan kecantikan.

VICE: Hai Hanifah! Bagaimana sih awal mula berkembangnya Female Daily Network?
Hanifah Ambadar: Female Daily pertama kali muncul, yaitu Februari 2005, berdasarkan keinginan dan kebutuhan saya aja untuk menulis dan berbagi tentang beauty dan fashion di Amerika karena kebetulan saya sedang tinggal di sana. Ternyata, banyak teman di Indonesia yang relate dan ingin tau lebih jauh dan jadi berdiskusi di kolom komentar. Akhirnya di 2007 dibuat forum diskusi untuk memfasilitasi pembaca supaya bisa ngobrol lebih jauh lagi, berbagi pengalaman and connect to one another. Di situ masalah yang dilihat adalah ada banyak interest pembaca Female Daily yang tidak dapat disalurkan di keseharian mereka, misalnya their love of makeup, banyak teman-teman kerjanya yang enggak tertarik dengan makeup sementara kalo di forum Female Daily bisa ketemu teman baru yang punya makeup dengan jumlah ratusan. So they feel like they belonged to this group of people with similar interest, without afraid of being judged and misunderstood.

Iklan

Dulu fokus kami adalah menjadi media perempuan. Tapi di 2014 kami sudah fokus di beauty. We are not just a media, we’re a beauty review & recommendation platform for beauty enthusiast equipped with data driven consumer analytic capability. Di FD ada puluhan ribu beauty product yang disertakan oleh review dari ratusan ribu member kami (user kami 3 juta perbulan, kalau member jumlahnya 600 ribu). Kami juga tau data-data member kami dari mulai hair texture, hair concern, skin type, skin tone, skin undertone, skin concern, dan lain lain so we can give product recommendation that suits their beauty profile.

Tantangan dan masalah apa aja yang dihadapi startupmu?
Banyak! Dari awal sampai sekarang, dan pasti ke depannya akan selalu ada tantangan, hanya bentuknya aja yang berbeda mengikuti perkembangan bisnis. Tantangan sekarang adalah bagaimana bisa berkembang pesat dengan budget yang sangat minim :D.

Mengapa mau bertahan dan berjuang di dunia startup?
I enjoy doing this so much…udah 9 tahun berkantor setiap hari mengerjakan ini dan nggak pernah ada seharipun saya mempertanyakan apa yang lagi diperjuangkan. I do this because I see how we are progressing dari awal sampai sekarang, saya sangat-sangat menikmati prosesnya. Dan tentunya yang membuat saya bertahan adalah ternyata apa yang saya dan teman-teman di FDN kerjakan alhamdulillah banyak membawa manfaat untuk para pembacanya. Ada yang jadi menemukan informasi, dari mulai tentang beauty sampai tentang parenting, dokter anak, travel, wedding dan lain-lain. Ada yang menjadi terinspirasi untuk memulai sesuatu, ada yang jadi menemukan teman2 baru dari dunia maya, ada yang jadi menemukan pekerjaan baru, bisnis baru dan lain sebagainya. Setiap hari saya selalu mendapat msg/email tentang bagaimana FDN memberi impact di kehidupan mereka and I cannot be more thankful to have this privilege and opportunity to create something meaningful for Indonesian women.

Apa yang paling super duper ngeselin (masalah, tantangan, name it ) dari bikin startup?
Hmm..yang ngeselin sih kayanya nggak ada ya. Tapi miskonsepsi terbesar adalah punya bisnis sendiri = kerjaan nggak banyak, santai-santai, waktunya fleksibel dan pendapatannya gede banget :D. Trus miskonsepsi lainnya, entrepreneurship = glamorous. It’s far from it, there’s nothing glamorous about living your day thinking if we have enough money to cover this month’s salary or not and there’s nothing glamorous about making big decision that will affect all 55 of the people in your company. It involves lots of sweat, tears, stress and sleepless night.

Cara hadapi dan selesaikan tantangannya gimana?
Focus on the solution and see it as a way to be more creative. Your only limitation is you, jadi jangan jadikan tantangan itu alasan untuk enggak maju.


Seri 'The Road' adalah hasil kolaborasi VICE X Tokopedia menghadirkan profil orang-orang yang sekilas biasa, tapi berani mengejar mimpi, melawan keraguan, dan berbagai hambatan sampai akhirnya sukses memulai, berproses, hingga menjadi hebat di bidang masing-masing. #MulaiAjaDulu