Game of Thrones

'Game of Thrones' Musim Ini Sembrono Membuang Karakter Perempuan Kuat

Musim ke-6 serial populer itu dipenuhi tokoh-tokoh perempuan yang karismatik dan menentukan plot. Namun episode 'The Queen's Justice' menunjukkan musim ini karakter cowok yang bakal lebih dominan.
3.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly. Oh iya, pastinya artikel ini mengandung spoiler.

Episode terbaru Game of Thrones menyodorkan satu fakta pahit: season enam GOT adalah season paling menipu sepanjang sejarah serial TV. kita semua mafhum season enam GOT diakhiri dengan beberapa lakon perempuan memimpin perang di semua lini. "The Queen's Justice" membalik tren keren itu. Beberapa karakter perempuan dicoret dari cerita dengan ending kacrut, sementara karakter-karakter pria kembali muncul, kali ini dengan kekuatan supernatural.

Iklan

Episode terbaru GOT mengisahkan Cersei Lannister—ratu bergaya Pixiecuts dan penguasa sisa-sisa King's Landing—membantai siapapun yang pernah berbuat salah pada dirinya dan anak-anaknya. Ada empat perempuan yang dincar oleh Cercei: Ellaria Sand dari Dorene (yang membunuh anak perempuan Cercei, Myrcella) dan anak perempuannya Tyene; Yara Greyjoy dari Iron Islands; dan Olenna Tyrell dari Highgarden (yang membunuh Joffrey, anak laki). Karakter favorit penggemar GOT, Olenna Tyrell mati dengan sangat terhormat: Sang Queen of Thorns meneguk anggur beracun dengan tabah dan memanfaatkan nafas terakhirnya untuk mengobrak-abrik warisan keluarga Lanister dan dengan gamblang mengaku membunuh si "bangsat" Joffrey.

Bahkan, dengan sangat mendatil Olenna menggambarkan saat-saat terakhir Joffrey. Tapi, maaf-maaf aksi balas dendam Cercei lainnya—termasuk kecupan beracun untuk Tyrene di depan sang ibu Ellaria—kelihatan kacrut.

"Tell Cersei. I want her to know it was me." Foto oleh HBO

Di satu sisi, kita seharusnya bersyukur melihat Sand Snake tewas. Setidaknya, kuping kita bisa aman dari aksesn aneh antah berantah dan kalimat-kalimat terburuk yang pernah diucapkan oleh karakter dalam sejarah GOT (ini contohnya: "You want a good girl, but you need the bad pussy.") Di sisi lain, meski kadang karakter ini bikin keki (mereka pernah mengubur seorang pria sampai menyisakan kepalanya saja, menutupi kepala pria itu dengan sekawanan kalajengking cuma buat ditusuk dengan tombak beberapa saat kemudian), keduanya harusnya mati dengan cara yang lebih anggun. Sepanjang penayangan GOT, kita pernah melihat perempuan-perempuan ini ditahan dan menyaksikan mereka memilih mati daripada menyerah. Kita juga pernah jadi saksi bagaimana Tyene mengancam akan menghabisi saudara perempuannya jika menghalang usaha balas dendamnya. Kita juga pernah menonton Ellaria membunuh kekasih saudarinya gara-gara menolak mengangkat senjata.

Dari semua penggambaran culun perempuan-perempuan ini dalam GOT (mengapa misalnya perempuan ini memanggil saudarinya dengan julukan "slut" padahal mereka hidup di kawasan di mana aktivitas seksual blak-blakan, hubungan inses dan anak-anak haram dianggap biasa aja), ada satu hal yang dengan mudah kita pahami: cara perempuan ini tewas di episode terbaru bisa ditafsirkan sebagai cara penulis skenario menendang karakter-karakter perempuan kuat ini. Tak aneh, kalau kemudian kita sebel banget melihat mereka mati tanpa perlawanan.

Tyene dan Ellaria, tersekap dan terikat di penjara bawah tanah. Foto oleh HBO

Dengan dikurungnya Ellaria dan Yara, bisa dipastikan dua perempuan kuat yang bertarung memperebutkan Daenerys bakal menyingkir dari pandangan kita di sisa episode GOT (kalaupun nama mereka muncul, paling banter mereka cuma disebut-sebut dalam perkataan Cercei atau Theon. duh). Dua karakter perampuan lain yang disingkirkan dengan seenaknya adalah Melisandre dan Meera Reed. Setelah kehilangan saudaranya Jojen yang pergi menolong Bran memeroleh kemampuan psychic dan bertarung melawan Army of the Dead, Meera kemungkinan besar tak akan nongol di layar lagi karena dia berhasil membawa pulang warg-Lord ke Winterfell. Setelah pengembangan karakter yang dilakukan secara ajaib selama tujuh season, kita sepertinya dipaksa percaya bahwa Mellisandre memutuskan pergi meninggalkan Westeros begitu saja. Terlepas dari fakta bahwa Mellisandre punya kekuatan yang luar biasa dan peranannya dalam menyulut perang (entah itu perang antar manusia atau perang manusia lawan Army of The Dead), penulis naskah GOT bangsat itu mengharap kita percaya bahwa Mellisandre jadi penonton di pinggir medan perang.

Hilangnya Meera dan Mellisandre yang bertepatan dengan menurunnya kekuatan tempur Daenerys serta kembalinya Jon, Euron dan Sam menjadi awal perubahan trendi season finale GOT: meningkatnya jumlah karakter pria dengan kekuatan magis. Bran, yang secara konsisten punya kekuatan magis, tiba di Winterfell dan kembali bersatud engan Sansa. Ini adalah reuni membahagiakan pertama antara anak-anak Stark sejak Sansa dan Jon bertemu di season enam. Tapi, semua jadi aneh ketika Bran mengaku punya kekuatan supernatural kepada Sansa. Bran adalah Three-Eyed Raven dan memiliki semacam indera penglihatan spesial. Artinya, Bran bisa melihat semua yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa depan. Ada banyak cara yang logis—meski tetap mengagetkan—yang bisa digunakan Bran untuk membeberkan pada Sansa bahwa dirinya bisa melihat dengan rinci apa peristiwa yang terjadi kapanpun. Misalnya dengan mengkonfirmasi dengan tepat bagaimana Rickson mati, mengungkap fakta bahwa Arya masih hidup dan membongkar jalur keturuan Jon yang ujung-ujungnya bisa mengubah arah perang yang tengah berkecamuk. Opsi yang dipilih amatlah bodoh kalau bukan kurang ajar. Bran menunjukkan kemampuannya dengan merinci detail tentang malam ketika saudarinya diperkosa, termasuk betapa "anggunnya" Sansa dengan "balutan gaun pernikahan berwarna putih" di malam jahanam itu. Mantap! Kendati kita tahu bahwa Bran adalah sesosok pageranyang baik hati, kita toh bisa apa. Penulis naskah GOT menentukan insting pertamanya untuk membeberkan kemampuan dengan secara kurang ajar menyuguhkan kenangan menyakitkan Sansa. Kalau ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa Bran jadi lebih tegar dan tertempa setelah bertualang di luar The Wall, penulis naskah GOT pasti sudah gila.

Foto dimuat seizin HBO

Sementara itu, Jon tiba Dragonstone guna bersemuka Queen Daenerys dan menambang dragonglass, senjata ampuh dalam perang melawan Army of the Dead. Namun tujuan sejati Jon, entah disadari atau tidak olehnya, adalah untuk merenung dan merayu. Rasanya susah untuk tidak membayangkan hati Jon dan Dany bersatu apalagi setelah melihat sirat rindu di wajah Daenerys setelah Jon menyingkir dari panjang. Dan coba bayangkan apa yang terjadi apa jika Jorah kembali. Apa yang dirasakan Jorah menjumpai Khalesinya di pelukan lelaki lain. Belum lagi, "ayah' Jon pernah mencoba mengeksekusi Jorah sementara Jon sendiri memegang pedang keluarga Mormont yang diwariskan ayah Jorah dalam momen "kamu adalah anak yang tak pernah aku miliki." tapi apapun yang terjadi, bersatunya Daenerys dan Jon di dalam dan di luar medan perang adalah suatu yang pasti. Dan bersatunya kedua tokoh sentral ini akan bikin serial ini penuh kekuatan magis lantaran darah Targaryen dalam tubuh Jon berarti dia juga bisa jadi penunggang naga. Namun, teman baik Jon, Sam, mengalami petualangan yang lebih sulit namun juga familiar menuju dunia magis: berguru di bawah Horace Slughorn (secara resmi dijuluki "archmaester" tapi ya gitulah). Sebagai murid ketiga yang menanyai Slughorn tentang buku dan sihir gelap terlarang, kita bisa berasumsi bahwa Samwell Tarly akan memiliki nasib yang sama dengan entah Lord Voldemort atau Harry Potter. Dia menunjukkan kebaikan, keberanian dan skill ketika secara sukses menyembuhkan Jorah dari Greyscale, sebuah penyakit mematikan yang kabarnya membunuh hampir setiap pasien. Seiring Slughorn memaki dan memuji Sam, kita bisa melihat kelipan di mata sang guru: kesadaran bahwa dia sedang mengajarkan seseorang dengan talenta alami yang luar bisa. Hukuman-penghargaan bagi Sam setelah menyembuhkan Jorah adalah kesempatan untuk mentranskrip surat gulung busuk yang sudah penuh rayap, yang nampaknya mengandung sihir kuno (sesuatu yang Maester Luwin sempat isyaratkan di musim kedua) yang akan dipelajari Sam dan digunakan untuk melawan Army of the Dead, membangun kembali The Wall, dan menjadikannya seorang penyihir luar biasa.

Kita juga akan melihat kebangkitan sosok lain sebagai penyihir: Euron Greyjoy. Sejauh ini, dia hanya memerankan peran pria jahat fuckboy brengsek yang menggantikan Littlefinger seiring sang penjaga brothel semakin inkompeten dalam pekerjaannya. Namun dibandingkan Littlefinger, Euron adalah peningkatan karena beberapa alasan: Satu, gairah seksualnya diarahkan ke Cersei, dan bukan versi remaja dari gebetan masa kecil. Kedua, kalau GOT terinspirasi sedikitpun oleh bab terakhir George RR Martin, maka Euron memainkan perang spiritual yang jauh lebih hebat dibanding Littlefinger. Littlefinger (gak sabar nunggu dia mati) memang karakter yang jahat, tapi dengan motivasi manusiawi dan politik, sama seperti Tywin Lannister dan Ramsay Bolton. Masih ada beberapa orang dan benda yang dianggap suci oleh Littlefinger, seperti dirinya sendiri dan ketertarikannya yang tidak pantas terhadap Sansa. Biarpun karakter Euron ditulis layaknya penjahat buku komik yang doyan dengan kejutan (Jari di dalam pantat?) perlu diingat bahwa dia telah membunuh saudara lelakinya sendiri, berjanji membunuh keponakannya sendiri, dan menyebut dirinya Drowned God. Tidak ada yang suci dimata Euron, yang pastinya akan membawa kekejaman ke tingkat yang baru—dimana pengorbanan nyawa seseorang dibutuhkan.