urusan berat badan

Kabar Gembira: Kita Bisa Menurunkan Berat Badan Tanpa Puasa Alkohol

Catatan: selama enggak dikonsumsi secara berlebihan alkohol enggak menghalangi program penurunan berat tubuh kita.
16.12.18
segelas bir di antara barbel
tzahiV/Getty Images

Bila kamu ingin punya tubuh yang bugar, kamu sering dapat peringatan untuk memantang alkohol. Bunyi peringatannya juga serem-serem. Katanya, barang satu atau dua gelas alkohol di akhir minggu otomatis bakal bikin tubuh kembali gendut. Mau selama apapun kamu ngegym, usahamu bakal percuma kalau sudah kena alkohol. Kamu bakal kalah mirip seperti Superman yang dideketin ke kryptonite. Jadi, singkatnya, satu-satunya cara agar punya tubuh yang ideal itu yang menjauhi alkohol. Tapi, apa benar begitu?

Iklan

Berlawanan dengan apa yang dipercaya banyak orang, hanya sebagian kecil alkohol yang kita konsumsi disimpan dalam bentuk lemak dalam tubuh. Lebih jauh lagi, berat badan kita bisa tetap turun meski mengonsumsi alkohol secara teratur—bahkan setiap hari dalam beberapa kasus. (tentunya selama dosisnya enggak berlebihan ya. Jika sekali minum dua botol dan teratur sih, berat badan kalian bakal meroket).

Kok bisa? Ya bisalah. Nih penjelasan ilmiahnya.

Pertama, kurang dari lima persen alkohol yang kita minum dikonversi menjadi lemak. Cuma, ini enggak lantas dipahami bahwa alkohol yang enggak punya sangkut pautnya dengan membengkaknya bobot tubuh. Yang benar adalah alkohol memperlambat tubuh membakar lemak. Penelitian membuktikan bahwa dua sloki vodka dan lemonade bisa mengurangi oksidasi lipid—ukuran sebanyak apa lemak dibakar oleh tubuh—sampai 70 persen.

Alih-alih disimpan sebagai lemak, alkohol diubah menjadi asetat. Asetat dialirkan lewat aliran darah dan memiliki fungsi signifikan dalam metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Cara tubuh kita merespon alkohol sebenarnya sama saja seperti cara tubuh kita membereskan kelebihan karbohidrat. Kendati karbohidrat langsung diubah menjadi lemak, kita enggak auto-gendut kecuali kita makan kelewat banyak karbohidrat.

Malah, masalah utama makan karbohidrat secara berlebihan adalah karbohidrat akan menggantikan lemak sebagai pemasok tenaga tubuh. Dengan menghambat pembakaran lemak, alkohol membuat lemak lebih gampang menumpuk dalam tubuh. Artinya, alkohol baru bisa dibilang bikin kita gendut jika dan hanya jika asupan kalori kita melebihi jumlah yang dibakar tubuh. Malah, ada banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa kita bisa kurus walau terus menenggak alkohol—tentunya dengan jumlah yang manusiawi.

Dalam sebuah uji coba, peneliti dari Colorado State University meminta sekelompok laki-laki menghabiskan dua gelas anggur setelah makan malam. Enam minggu kemudian, enggak banyak perubahan yang ditemui. Maksudnya, bobot dan kadar lemak pada laki-laki peserta uji coba ini enggak berubah. Berikut rangkuman kesimpulan yang diambil oleh para peneliti:

“Temuan penelitian kami menegaskan konsep bahwa mengonsumsi alkohol sewajarnya (dua gelas anggur per hari) tidak berpengaruh terhadap bobot, komposisi, metabolisme selama beristirahat dan penggunaan sustrat yang memicu kegemukan dalam kurun enam minggu.”

Penelitian lainnya‚masih dikerjakan oleh tim yang sama—juga menghasilkan kesimpulan yang sama: meminum dua gelas anggur, lima hari seminggu selama lima minggu, enggak memiliki dampak terhadap bobot dan persentase lemak pada sekelompok perempuan yang mengalami obesitas.

Ilmuwan Jerman asal University of Hohenheim merekrut 49 subyek penelitian bertubuh gemuk dan meminta mereka mengikuti salah satu diet yang mereka sediakan (masing-masing terdiri dari 1.500 kalori). Diet yang pertama terdiri dari satu gelas anggur putih setiap hari dan diet kedua mencakup segelas jus anggur saban hari. Setelah tiga bulan, grup yang mengonsumsi anggur putih justru mengalami penurunan berat badan yang lebih tinggi—rata-ratanya 5,2 Kg dibanding 4,1 kg di kelompok yang mengonsumsi jus anggur—meski enggak terlalu signifikan dalam ukuran statistik.

Pendeknya, alkohol enggak serta merta bikin badan menggelembung. Yang bikin kita gendut adalah makan dalam jumlah banyak, melampui kebutuhan energi badan kita. Selama asupan makanan kita di bawah kebutuhan energi kita, lemak dalam tubuh bisa berkurang tanpa harus memantang alkohol.

Iklan

Nah pertanyaannya, kenapa alkohol punya reputasi buruk sebagai penghalang usaha seseorang menguruskan tubuh? Ternyata, masalahnya enggak ada sangkut pautnya dengan kalori tapi dengan bagaimana alkohol berdampak pada perilaku makan kita. Selidik punya selidik, alkohol bikin kita susah menahan nafsu untuk melahap makanan tertentu.

Sejumlah penelitian menunjukkan kita cenderung makan lebih lahap jika sajian yang kita santap dipadukan dengan minuman beralkohol daripada jika dilengkapi dengan soft drink. Alhasil, asupan kalori kiat membengkak karena berasal dari dua sumber: alkohol dan tambahan asupan makanan karena kita menyantapnya sambil minum alkohol

Saat sekelompok perempuan diminta mencicipi kue kering setelah minum vodka, lemonade atau placebo yang berbau dan berwarna mirip, mereka ternyata makan lebih banyak kue setelah menyesap vodka. Dan, dari tiga faktor gaya hidup yang bisa menyebabkan kebiasaan makan spontan, alkohol berada di posisi paling atas, diikuti nonton TV dan kurang tidur.

Bayangkan situasi ini: Hari Jum’at, kamu dan temanmu makan di luar. Sebelum sampai di tempat makan, kamu sudah berniat ingin sedikit bersenang-senang dengan alkohol, tapi dengan takaran yang enggak berlebihan. Begitu sampai di restoran, kamu minum alkohol beberapa teguk. Kamu berkukuh akan minum sedikit saja. Siapa nyana, dari gelas pertama berkembang ke gelas lainnya dan kamu pun enggak bisa berhenti minum.

Iklan

Seperti sinar matahari senja yang perlahan hilang, kemampuanmu untuk menahan diri untuk enggak makan sajian tertentu meruap entah kemana. Lalu, yang muncul malah mentalitas “bodo amat.” Konsekuensinya, usaha untuk membatasi apa yang kamu makan malam itu jadi sia-sia. Pertahanan diri kamu jebol. Tekad untuk diet tiba-tiba hilang. Dan apa yang direncanakan sebagai makan malam di luar berakhir menjadi petualangan semalaman yang berakhir makan pagi di McDonalds keesokan harinya.


Simak tips menjaga kebugaran dari seorang petinju

Dan kamu enggak berhenti di situ. Rencana olahraga di hari Sabtu dengan sendirinya dibatalkan. Alih-alih mencari keringat, kamu malah tidur-tiduran nonton Narcos secara maratin. Kamu lapar, geram dan sebel karena enggak bisa menjaga komitment. Solusi yang kamu pilih: makan junk food lebih banyak lagi. Prinsipnya: mumpung udah salah, sekalian saja salah terus seminggu. Alhasil, pola makan junk food ini bisa bertahan selama beberapa hari. Dalam hati, kamu mikir “ya elah, ini gue udah salah, mending dilanjutin saja seminggu sekalian. Gue mau makan apa yang gue makan.”

Baru setelah benar-benar lepas dari lingkaran setan ini, kamu memasang target lagi untuk mulai berolahraga, entah besoknya, minggu depan atau malah tahun depan. Intinya, kabar bahwa alkohol langsung diubah jadi lemak dan bersemayam di lingkaran pinggang itu keliru. Alkohol cuma mengerem pembakaran kalori di tubuh. Sekali lagi, alkohol enggak sejahat asupan karbohidrat dan lemak berlebih dalam perkara menggemukkan tubuh.

Alkohol jika dikonsumsi secara wajar dan teratur enggak serta merta bikin bobot tubuh melambung. Jika pun memang alkohol perlu disalahkan karena tubuh kalian enggaj lekas kurus, maka itu sebab alkohol (bila dikonsumsi dalam jumlah banyak) bisa bikin runyam rencana kita menguruskan badan.

Intinya sih, konsumsi alkohol jika pengin tapi kokohkan usaha untuk menguruskan badan setelahnya.