diet

Inilah Beberapa Alasan Anak Vegan Dianggap Nyebelin

Menjadi vegetarian sebenarnya mulia. Cuma kadang pemakan sayur ini agak rese'. Alhasil, niat mulia mendidik publik kesampaian.
Two Vegan demonstrators holding signs
Pacific Press/Getty Images

Makin kesini, makin banyak orang yang pantang memakan apapun produk dari hewan. Ironisnya, di saat yang sama, cibiran akan gaya hidup vegan atau vegetarian juga makin kencang mengalir. Bentuk cibirannya bisa macam-macam dari cemoohan di media sosial (meme Nobody likes a vegetarian) sampai stiker di belakang kendaraan (“Vegetarian is an old Indian word for bad hunter”).

Baru-baru ini, editor majalah makanan Inggris Waitrose William Sitwell mengundurkan diri dari jabatannya setelah mengatakan menunggu tulisan kaum vegan yang akan "menguak kemunafikan mereka."

Iklan

Bahkan, cemoohan bagi para vegan ini sekarang punya sebutan khususnya: “vegaphobia." Ada juga buku berjudul Living among Meat Eaters: The Vegetarian’s Survival Handbook. Pada dasarnya, ini buku self-help bagi para vegan agar bisa tabah menerima segala macam cemoohan yang diarahkan pada mereka. Nah, pertanyaannya sekarang, apa sih yang bikin kaum vegan ini terkesan nyebelin abis?

Salah satu alasan kaum vegetarian dan vegan jadi sasaran cemoohan adalah kemungkinan karena mereka punya tingkah polah yang 'holier-than-thou' alias dianggap sok merasa lebih suci. Dalam sebuah penelitian, nyaris separuh peserta penelitian sudah dari sononya pandangan negatif mengenai kaum vegetarian. Ketidaksukaan mereka ini makin menjadi setelah mereka merasa kaum vegetarian kerap sok lebih suci dari kaum pemakan segala.

Temuan yang sama saya jumpai dari hasil wawancara saya dengan sejumlah kaum omnivora di Australia. Mereka yang saya wawancarai umumnya menganggap pelaku diet makanan dari tumbuhan ini adalah sekumpulan "elit yang songong."

Lebih jauh persepsi bahwa kaum vegan atau vegetarian itu memandang rendah moral orang yang masih mengonsumsi daging bisa menimbulkan kebencian dalam diri kaum omnivora. Misalnya, sebuah iklan layanan masyarakat PETA menganggap “memberi makan anak dengan daging adalah sebuah pelecehan pada anak.” Iklan seperti ini sudah barang tentu menarik perhatian. Namun, di saat yang sama iklan semacam ini bisa menuai segala macam respon negatif.

Iklan

Sentimen terhadap kaum vegan inilah yang bisa menjelaskan kenapa penduduk kota Aargau di Swiss mengusulkan penolakan pemberian kewarganegaraan seorang perempuan vegan. Perempuan tersebut dianggap “menyebalkan” dan kelewat banyak mengkritik budaya Swiss, yang di antaranya mencakup berburu hewan liar, balapan anak babi dan memasang lonceng di leher sapi.

Hal yang mengganggu lainnya dari kaum vegan adalah keberadaan kelompok “vegan militan” yang tak segan-segan menggunakan intimidasi dalam menyebarkan pesan-pesan veganisme mereka, contohnya sekelompok vegan yang menyemprotkan darah palsu ke etalase toko-toko penjual daging hewan di Prancis awal tahun ini. Contoh kelakuan menyebalkan kaum vegan militan lainnya adalah sejumlah komentar negatif pasca Anthony Bourdain meninggal. Komentar-komentar ini segera mendapatkan respon pedas dari aktivis vegan Gary Francione karena kurang sensitif dan tak toleran sama sekali.


Tonton dokumenter VICE mengenai gaya arsitektur dan busana perempuan Kolombia yang seru dan warna-warni:


Alasan utama orang mengadopsi gaya hidup vegan adalah untuk menunjukkan empati pada penderitaan hewan dan perlawanan terhadap kekerasaan terhadap hewan. Sejumlah organisasi aktivis, dalam rangka menggalakkan pengurangan konsumsi daging binatang, menyoroti perlakuan buruk dan penyembelihan hewan dengan menggunakan gambar-gambar sadis pemicu emosi yang kuat.

Taktik ini, kendati efektif untuk menarik perhatian, bisa menjadi senjata makan tuan. Di satu sisi, kekerasaan terhadap binatang bisa begitu sadis hingga audiens memilih untuk tak melihat gambarnya sama sekali. Di sisi lain, imej yang sama bisa menimbulkan keengganan bertindak pada banyak orang.

Iklan

Saat dipaparkan pada bukti-bukti kekerasan terhadap hewan, banyak orang geram dan berharap kekejaman itu segera berakhir. Tak ada yang salah dengan hal ini. Masalahnya, cara masalah ini dikemukakan dikhawatirkan akan menumbuhkan benih-benih perilaku negatif pada pengirim pesan—dalam hal ini aktivis veganisme.

Paparan konsisten terhadap pesan-pesan tentang kekejaman terhadap hewan—dalam jangka panjang—malah akan menyebabkan audiens terlampau terbiasa menerima pesan-pesan semacam itu. Imbasnya, mereka malah mengesampingkannya lantaran emosinya sudah kebal dan kelewat apatis. Kesadaran akan kekerasan terhadap hewan yang datang tiba-tiba bisa menyebabkan rasa sakit dan kesepian. Pada sejumlah orang, kondisi yang sama bisa memicu rasa tak berdaya, apalagi jika mereka tak bisa merasakan keuntungan psikologis menolong orang lain.

Di sisi lain, ada jenis pesan yang bisa digunakan oleh kaum vegan dan vegetarian dan mungkin bisa diterima dengan baik. Pesan-pesan ini meliputi perubahan yang kecil dan sepele seperti kampanye senin tanpa daging atau kampanye reducetarian. Pesan macam ini tak akan menempatkan kaum vegan sebagai pihak yang secara moral lebih tinggi. Plus, kampanye macam ini akan menjadi visi yang berusaha dicapai oleh komunitas non-vegan.

Brian Kateman, co-founder dan presiden Reducetarian Foundation, menemukan sejumlah pesan standar dalam kampanye-kampanye veganisme. Isinya: konsumsi daging akan berdampak buruk pada lingkungan dan menyakiti hewan. Persoalannya adalah kendati kelompok vegan dan vegetarian menyakini bahwa solusi satu-satunya adalah dengan berhenti mengkonsumsi daging, pada kenyataannya, hal ini tak mungkin dilakukan oleh semua orang. Makanya, reducetarianisme adalah jalan tengah yang lebih memungkinkan.

Kendati popularitas makanan berbahan tumbuhan makin makin menanjak belakangan ini, rasa hormat dan empati pada binatanglah—jantung dari gerakan ini—yang seharusnya dipromosikan pada mereka yang memiliki pilihan jenis. Dengan demikian, ketegangan antara kedua kelompok bisa dihindari.


Tani Khara adalah kandidat PhD di bidang keberlanjutan University of Technology Sydney. Artikel yang dimuat Tonic setelah terlebih dahulu dipublikasikan di The Conversation di bawah Creative Commons license. Baca tulisan aslinya di sini.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic