nauru_nightmare
Seri Foto

Foto-Foto dari Pulau Nauru yang Mirip Seperti Mimpi Buruk Sureal

Selamat datang di pulau yang dipenuhi bekas tambang, debu karsinogenik dan sampah elektronik yang ditinggalkan begitu saja.
20 November 2018, 9:23am

Berkat fotografi, saya pernah menginjakkan di kawasan-kawasan yang keberadaannya susah dipercaya. Misalnya, Korea Utara atau Kuba. Tapi dari sekian kawasan macam ini yang pernah saya kunjungi, Nauru adalah yang memiliki kondisi paling rusak. September lalu, saya keluar dari terminal kedatangan Nauru, disambut udara panas khas pulau terpencil di tengah Samudra Pasifik itu. Kelembaban pulau yang bikin kita merasa klaustrofobik itu susah ditandingi.

Saking sempitnya, pulau ini, kita cukup menghabiskan setengah jam untuk berkendara mengelilingi Nauru. Banyak sekali pengungsi yang saya temui di sana menceritakan seberat apa hidup di Nauru, apalagi mereka harus tinggal dalam tenda-tenda terbuka—terpapar panas dan kelembapan keparat itu. Pengungsi yang saya temui kebanyakan tampak hanya bisa menyerah pada keadaan. Salah satunya adalah Saji, soorang bocah Tamil berumur delapan tahun asal Sri Lanka. Dia mengakui sudah pasti akan mengakhiri hidupnya di sana, jika tangannya sampai bisa meraih pisau.

Kondisi Nauru memang mengerikan hingga saya merasa di tempat lain selain di Bumi. Bayangkan, dengan panas dan kelembapan segila itu, pulau kecil di tengah samudra kini jadi rumah bagi pengungsi-pengungsi yang ingin segera mati. Makanya, saya ingin mengabadikan Nauru sebagai tempat yang ada dalam mimpi-mimpi buruk.

Sebelum saya pergi di Nauru, saya berhasil mendapatkan sisa-saia film infrared 35mm bukan Kodak yang dikenal dengan nama Aerochrome 1443 III. Saya membawa beberapa buah ke Nauru sebab saya pikir warna-warna psikedelik dari film yang hampir kadaluarsa akan sempurna menangkap tempat macam Nauru. Jadi, dengan berbekal film infrared, saya mencoba menunjukkan bagaimana Nauru menampakkan diri pada para pengungsi yang terdampar di sana.

1542591718115-F1090018

Dijuluki “Topside,” ini adalah kawasan dalam pulau Nauru yang posisinya lebih tinggi. Dulu, kawasan ini adalah daerah tambang yang terkenal dengan kandungan guano—atau lebih umum sebagai tai burung. Pada masanya, Nauru adalah negara terkaya di kawasan Samudra Pasifik setelah dunia tahu bahwa kotoran burung yang kaya akan posfat bisa meningkatkan panenan tanaman pangan. Tak pelak, untuk beberapa saat Nauru menjelma menjadi negara kecil yang tajir, setidaknya sampai pasokan kotoran burung di sana habis ditambang. Tanpa “emas” ini, Nauru langsung mengalami kebangkrutan. Saat ini, Nauru dipenuhi bekas-bekas hotel dan lanskap dalam pulau yang sepintas mirip bulan.

1542591020461-F1080010

Bangunan reyot ini merupakan salah satu bagian dari kompleks pengolahan fosfat di Aiwo. Seluruh fasilitas itu kini tertutup debu berwarna putih yang sukar dibersihkan dair baju saya. Kelak, saya tahu bahwa debu-debu ini mengandung cadmium, racun yang banyak terkandung dalam air dan udara Nauru. Para pengungsi di sana kerap mengeluh debu cadmium sering bikin iritasi mata dan bikin tubuh mereka nyeri-nyeri. Jadi, selama saya berburu foto di Nauru, sebisa mungkin tak menghisap debu putih itu. Cuma apa daya, sebagian kulit saya jadi agak terang gara-gara debu cadmium ini.

1542591143020-F1080012-2

Ini adalah foto ban besar yang dibiarkan tergeletak di depan conveyer belt yang sudah tak berfungsi. Lagi-lagi, ini masih bagian dari kompleks pabrik pengolahan fosfat di Aiwo—yang saya duga tak lagi berfungsi. Makanya, saya kaget ketika seorang penjaga keamanan kompleks tersebut menyeret saya dan berkukuh bilang pabriknya masih berjalan sampai sekarang. Saya sih sangsi tapi memilih angkat kaki.

1542590867459-F1070014

Di Pantai Yangor, saya menjumpai seorang bocah laki-laki Nauru yang tengah bermain pasir dengan latar belakang mesin-mesin tambang yang rusak. Cantilever raksasa yang dulunya digunakan sebagai alat untuk memasukkan fosfat ke kapal pengangkut tampak menyembual dari permukaan air berwarna pirus. Sisa-sisa kejayaan tambang itu kini ambruk perlahan-perlahan ditelan air laut.

1542591236095-F1080019

Sisa mobil yang terbakar ini saya temukan di pinggir jalan di Buada. Film infrared umumnya akan menghasilkan warna kontras antara materi organik dan inorganik—benda hidup dan benda mati. Cuma saya mengambil foto ini selepas badai dan dedaunan di dekat mobil itu pun menjadi pink, menyerupai warna permukaan mobil yang basah.

1542591274912-F1090004

Lokasi pembuangan benda-benda berwarna putih ini saya temukan di sisi jalan menuju pusat pemeriksaan pengungsi Nauru, di mana para pencari suaka ditempatkan. Saya tak bisa menjelaskan kenapa banyak mesin cuci, pengering dan oven dibuang begitu saja di dekat beberapa pohon hijau. Tapi, sampah-sampah seperti ini adalah pemandangan umum di Nauru. Barangkali, ini cuma tanda-tanda sentuhan konsumerisme modern di pulau mungil itu.

1542591388079-F1090013

Ini juga foto tumpukan rongsokan logam di jalan menuju pusat pemeriksaan pengungsi.

1542590627472-F1070023

Ini adalah kota Nibok, dilihat dari sekian banyak hotel suwung di sana. Kalian bisa melihat kolam-kolam yang mulai dipenuhi semak belukar.

1542591430117-F1090016

Sesampai di dekat pusat pemeriksaan pengungsi, saya baru tahu bahwa tempat ini dijaga dengan ketat. Saya cuma bisa sampai di sini. Sejatinya, ini adalah jalan yang menghubungkan pusat pemeriksaan pengungsi, Topside dan kembali ke pelabuhan. Dengan tubuh yang lengket gara-gara keringat, saya berusaha tampil tak mencolok melewati tenda-tenda pengungsi, yang benar-benar dibangun di kawasan paling panas di Nauru. Lingkungan di pulau itu sangat tak bersahabat, apalagi bagi anak-anak. Udaranya menyengat dan berdebu serta mengandung fosfat dari truk-truk penambangan. Meski warga setempat sangat ramah, rona sedih pulau ini begitu menghantui.

Dan, itulah kesan yang kamu bawa pulang dari pulau ini: kepedihan tak berkesudahan.

Follow Lachie di Instagram