Ngobrol Bareng Lelaki yang Gigih Mengajak Masyarakat Minahasa Agar Tak Lagi Makan Anjing

Frank Delano Manus mengaku punya bukti kalau konsumsi daging anjing bukan budaya masyarakat Sulawesi Utara sejak dahulu kala.
1.11.19
Ngobrol Bareng Frank Delano Manus dari AFMI yang Gigih Mengajak Masyarakat Minahasa Agar Tak Lagi Makan Anjing
Semua foto oleh Rizky Maulana.

Frank Delano Manus merasa dirinya sebagai sahabat para anjing. Di Sulawesi Utara, wilayah yang masyarakatnya menempatkan anjing sebagai hewan peliharaan sekaligus bahan pangan, Frank berusaha memberi suaka bagi anjing dan kucing yang sebenarnya hendak berakhir di piring hidangan warga lokal.

Frank menyelamatkan mereka dari takdir yang dianggap kejam oleh orang luar Sulawesi. Di lain pihak, bagi warga, tradisi makan anjing dan kucing termasuk tradisi penting Minahasa, salah satu elemen budaya kuliner mereka yang mustahil dibuang begitu saja.

Di Minahasa, menjadi aktivis penyayang binatang seperti dilakukan Frank sangat kontroversial. Kecintaannya akan hewan tersebut sudah membuat Frank menjadi target ancaman dari sesama orang Sulut.

"Pada awal kita melakukan edukasi dan kampanye berdasarkan observasi perlakuan hewan di sini, tantangan terbesarnya adalah dimaki orang, dilempar batu, diteriaki. Tapi itu tidak berlangsung lama, setelah dua tahun [ancaman] mulai selesai. Kampanye di Tondano, pusat Minahasa, banyak yang tergerak untuk ikut," ujar Frank saat ditemui VICE di Tomohon. Ia menambahkan, "banyak juga orang Tondano yang masih memegang adat dengan kuat, mereka lebih respek dan mentoleransi ketika tahu bahwa yang berkampanye adalah juga orang Tondano."

Namun tetap saja, aktivisme yang diusung Frank, terutama yang memiliki afiliasi dengan jaringan penyayang binatang hewan internasional, belum dapat mengubah pemikiran mayoritas orang Minahasa.

"Salah satu konfrontasi terbesar yang pernah terjadi adalah ketika kami kedatangan tamu dari NGO luar negeri," ujar Frank. "Maret lalu kita kedatangan tamu dari luar negeri. Ada yang dari Inggris, Jerman, Amerika, Italia, mereka memonitor keadaan disini. Kami mendampingi mereka untuk menyelamatkan anjing dan kucing di pasar. Namun setelah itu media online lokal malah mengatakan kalau ada sekelompok orang asing yang mencoba menunggangi warga lokal untuk merusak budaya."

Bagi Frank, tudingan tersebut tidak masuk akal. Ia tumbuh besar di Tondano, kota kecil yang dapat ditempuh dalam 30 menit dari Tomohon, kota lokasi Pasar Ekstrem—yang sering diliput media lantaran menjual daging hewan liar tak lazim bagi turis-turis yang penasaran. Di pasar itu, siapapun mudah menemukan anjing ataupun kucing dalam kondisi menyedihkan, disekap dalam kandang yang sempit, lalu dipukul sampai nyaris mati, dan segera dibakar dalam kondisi sekarat dengan harapan dagingnya tetap segar ketika dijual.

Daging anjing belum dianggap hidangan wajar di Indonesia. Namun untuk masyarakat dari beberapa daerah seperti Minahasa, Sulawesi Utara, daging anjing sudah menjadi bagian integral dari citarasa hidangan lokal. Pemerintah pusat pernah mencoba—namun gagal—untuk melarang konsumsi daging anjing di seluruh Indonesia. Nyatanya budaya yang begitu mengakar di Minahasa tersebut tidak mudah dihapuskan.

Hal yang paling unik, menurut Frank, ada bukti kalau kebiasaan memakan daging anjing itu sebenarnya bukan tradisi yang dipraktikkan sejak lama di sejarah Indonesia.

"Saya memiliki banyak sekali konflik batin dengan “budaya” memakan daging anjing dan kucing," ujar Frank. "Jadi pada 2013, saya melakukan riset dan bertemu sejarawan dari Universitas Manado dan Universitas Sam Ratulangi. Semua pakar itu setuju bahwa makan daging anjing belum bisa dikategorikan sebagai budaya, karena baru dilakukan sejak tahun 1930 an. Pada masanya, anjing menjadi teman berburu warga lokal. Namun karena perang warga jadi sulit mencari makanan, selain itu hewan buruan juga mulai habis. Sejak itulah anjing dijadikan hewan konsumsi."

Frank mengatakan bahwa dalam adat kuno suku Minahasa, tidak ada sama sekali aturan yang mengharuskan penggunaan daging anjing atau kucing saat upacara adat.

1572505881908-11_AFMI

Foto saat penyayang binatang di Tondano melakukan kampanye menolak tradisi makan anjing. Foto dari arsip Frank Delano.

"Dari penelitian itulah, pandangan saya tentang cara memperlakukan hewan domestik menjadi berubah."

Berbekal informasi pakar tersebut, Frank bergabung bersama Animal Friends Manado Indonesia (AFMI), organisasi nirlaba penyelamat hewan yang didirikan Anne Parengkuan. Ketika VICE mengunjungi penampungan hewan AFMI, sekitar 40 dari 130 anjing dan kucing yang dirawat di sana diselamatkan aktivis dari Pasar Ekstrem Tomohon.

Jumlah tersebut, menurut Frank, baru sebagian kecil populasi anjing dan kucing yang terlanjur diperjualbelikan pedagang pasar. Meski begitu, AFMI sadar jika ingin menyelamatkan anjing dan kucing dari tangan para penjagal, solusi yang paling kasat mata bukan cuma sekadar membelinya dari pasar. Menyelamatkan satu atau dua anjing tidak menuntaskan akar masalah. Malah, kalau strategi ini terus-terusan dipakai, yang terjadi justru memicu masalah baru.

"Membeli hewan yang ingin kami lindungi dari pasar langsung itu problematis, dan ini selalu menjadi dilema besar bagi aktivis," kata Frank. "Kami ingin menyelamatkan anjing dan kucing, tapi kalau kita membeli mereka, kita kan malah memperlancar perdagangan. Kita malah memotivasi mereka untuk semakin memperdagangkan anjing dan kucing tersebut di pasar."

1572505912806-07_AFMI

Setidaknya AFMI sukses menyelamatkan ratusan anjing dan kucing sejak organisasi itu berdiri. Penampungan anjing yang dikunjungi VICE adalah rumah bagi beraneka ragam anjing yang ramah dan energik, beberapa di antaranya masih anakan—yang kemungkinan besar pasti disembelih seandainya tidak ada AFMI.

Semua hewan yang ada di penampungan AFMI berlokasi di rumah yang halaman belakangnya berisi kandang dikelilingi lapangan rumput luas. Dari luar, tak ada plang atau tanda mencolok apapun yang menandakan bangunan itu penampungan hewan. Seperti rumah kebanyakan saja. Bagi pengunjung, satu-satunya indikasi bahwa kalian telah berada di penampungan AFMI adalah suara gonggongan anjing yang terdengar di balik pagar tinggi yang ada. Hal ini memang bagian dari strategi AFMI untuk mengamankan hewan yang ditampung.

"Itu untuk keamanan,” sebut Frank. "Bukan kita, tapi untuk hewannya. Di Sulawesi Utara salah satu kejahatan yang sering didapati adalah penculikan serta pembunuhan hewan. 90 persen rumah di Minahasa yang memiliki hewan peliharaan pasti setidaknya pernah kehilangan hewan mereka sekali."

Praktik penculikan binatang ini sering disebut sebagai ‘doger’. Doger adalah proses menggunakan potasium untuk meracun dan selanjutnya menculik anjing. Namun sekarang penculik tidak men-doger, langsung memukul anjing atau kucing tersebut di kepala hingga mereka kehilangan kesadaran.

Awal 2019, AFMI melaksanakan salah satu penyelamatan terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut. Mereka menyelamatkan 19 anjing dari sangkar para pedagang daging liar. Kebanyakan dari anjing itu diselamatkan dalam kondisi yang sangat buruk, saking buruknya tiga dari 19 ekor anjing mati tak lama kemudian. Tapi satu di antara anjing dengan kondisi ekstrem tersebut berhasil bertahan.

Salah satunya adalah anjing coklat kecil ras campuran. Frank bercerita anjing itu punya banyak sekali luka di kulitnya. Beberapa luka tersebut sudah terinfeksi parah dan penuh belatung. Tidak ada satupun dari mereka yang yakin bahwa anjing kecil tersebut dapat pulih dari kondisinya. Siapa sangka, berkat bantuan dari dokter hewan dan kasih sayang staf AFMI, akhirnya si coklat kecil pun selamat.

Selamatnya si coklat mungil adalah mukjizat yang memompa semangat Frank untuk terus berjuang agar anjing tak lagi jadi hidangan masyarakat Minahasa.

"Kondisi [si anjing kecil] adalah salah satu dari yang terburuk yang pernah saya lihat," ujar Frank. "Tapi ia selamat. Setelah pemulihan selesai, kami menamai dia Hope, yang artinya adalah harapan."

Rizky Maulana turut berkontribusi dalam laporan ini.