The VICE Guide to Right Now

Kamp Pendidikan Seks Semakin Ngetren di Cina

Orang tua khawatir sekolah tidak mengajarkan edukasi seks dengan benar, sehingga mereka memasukkan anaknya ke "kamp pendidikan seks."
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
3.9.19
Pasangan kekasih di Cina dan edukasi seks
Dua sejoli lagi pacaran di Dalian Xinghai Square. Gambar oleh Gauthier Delecroix via Flickr.

Kamp musim panas biasanya diisi dengan kegiatan menyenangkan seperti pertandingan sepakbola, membuat karya seni dan nyanyi bareng sambil mengelilingi api unggun. Kegiatan mengisi liburan di Cina lebih serius. Peserta harus ikut kelas edukasi seks.

Kamp edukasi seks semakin umum ditemukan di sana, menyusul keputusan pemerintah Cina mengeluarkan sertifikasi bagi pengajar edukasi seks pada 2018. Sudah ada 330 pengajar berlisensi saat ini, dan para orang tua semakin tergerak hatinya untuk memasukkan anak mereka ke kamp pendidikan seks.

Iklan

Berdasarkan laporan Sixth Tone, seksolog dan pendidik Fan Gang berencana mengadakan kamp di 20 provinsi dan distrik Cina tahun ini.

Fang menginisiasi kamp pada 2013, dan itu adalah satu-satunya kamp edukasi seks di sana. Dia ingin anak-anak telah mengikuti pendidikan seks sebelum mereka memasuki tahun terakhir SMA. Lebih bagus lagi kalau mereka telah memahami seks sejak muda. Dia awalnya hanya menargetkan kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai, tetapi kini kamp dan kelasnya sudah menjangkau daerah-daerah pelosok.

Fang berpendapat sekolah wajib memberikan edukasi seks kepada murid supaya mereka bisa melindungi diri sendiri dan memahami seksualitas mereka. Dia juga menganjurkan pembelajaran tentang seks sebagai cara mencegah kekerasan seksual dan KDRT.

“Budaya patriarki masih melekat kuat di masyarakat Cina, sehingga laki-laki tidak tahu caranya menghentikan KDRT ,” kata Fang kepada Institut AS-Cina di University of Southern California pada Mei 2019.

Seks adalah hal tabu di Cina.

Pada Juni 2019, New York Times melaporkan penduduk Cina hampir tidak pernah membicarakan seks secara terang-terangan. Artikel tersebut mengutarakan para pelajar di Cina biasanya belajar tentang seks dari obrolan bareng teman atau menonton video porno.

Hal ini terbukti berbahaya. Pada 2015, laporan Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa menemukan setengah dari populasi remaja di Cina yang aktif secara seksual tidak menggunakan kontrasepsi saat pertama kali berhubungan seks. Selain itu, setengah dari 13 juta kasus aborsi di sana setiap tahunnya melibatkan perempuan di bawah 25 tahun.

Iklan

Dewan Kenegaraan Cina mewajibkan seluruh siswa sekolah mengambil pendidikan kesehatan seks pada 2011, tetapi kelas ini sayangnya masih banyak kekurangan. Sebagian besar guru menekankan pada tidak berhubungan seks pranikah, bukannya mengajarkan implikasi dari bersetubuh.

Inilah sebabnya popularitas kamp pendidikan seks meroket.

Sixth Tone melansir 11 anak berusia antara 7-11 mengikuti kelas pendidikan seks yang diadakan di Qingdao awal bulan ini sambil ditemani orang tua mereka. Kurikulum yang diterapkan mengajarkan anak-anak tentang mematahkan stereotip gender, perbedaan fisik laki-laki dan perempuan, dan penggunaan pembalut, tampon dan cangkir menstruasi.

Kelasnya sangat penting mengingat penduduk Cina semakin aktif secara seksual, menurut sejumlah pakar. Pada 2015, Wall Street Journal melaporkan 71 persen responden survei tentang seks mengaku telah berhubungan seks di luar nikah. Pada 1989, statistiknya hanya 15 persen.

Li Yinhe, seksolog dan penasihat kebebasan seksual yang melakukan survei, memberi tahu CGTN pada Mei tahun lalu bahwa Cina tengah mengalami kebangkitan seksual. “Untungnya negara ini mulai memberikan pendidikan seks dan menerbitkan buku tentang edukasi seks kepada anak-anak,” kata Li kepada CGTN. “Cina sangat membutuhkannya.”

Follow Meera di Twitter dan Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.