Merayakan Valentine

Ironi Valentine di Indonesia: 'Dirayakan' Sama Kelompok Paling Getol Menolak Hari Kasih Sayang

Buatku, mereka yang tiap tahun konsisten demo menolak Valentine lebih getol mengingat dan secara tidak langsung malah 'merayakan' momen 14 Februari. Gue aja ga inget sekarang tuh Valentine.
14.2.19
​Pelajar berunjuk rasa menolak Hari Valentine di Surabaya.
Pelajar berunjuk rasa menolak Hari Valentine di Surabaya. Foto oleh Zabur Karuru/Antara foto via Reuters

Jujur saja, aku tuh enggak pernah ingat kapan tepatnya Hari Valentine. Buatku lebih penting ingat tanggal ulang tahunku sendiri, yang ternyata jatuhnya empat hari sebelum hari paling haram versi anak muda saleh di Indonesia itu.

Jangankan beli coklat yang bikin kaya perusahaan besar. Sengaja jalan bareng gebetan atau keluarga yang tersayang pas Valentine aja enggak pernah seumur-umur. Beneran. Pendek kata, aku tuh cuek sama isu Valentine. Dibilang menolak enggak, peduli juga enggak.

Iklan

Sialnya tiap tahun menjelang Valentine, selalu ada orang-orang yang sukses bikin populasi yang acuh sama ribut-ribut Valentine—misalnya aku (dan pasti banyak juga yang kayak gini)—jadi peduli dan ingat kalau ada perayaan beginian. Siapa kah mereka?

Siapa lagi kalau bukan anak-anak muda yang rajin demo menjelang dan saat 14 Februari. Pesannya konsisten: Valentine mendorong orang pacaran, budaya impor yang negatif, dan ujung-ujungnya mendorong anak muda mendekati zina.

Demonstrasi menolak Valentine di Indonesia udah kayak ritual wajib. Momen penolakan dan demo itulah yang justru bikin banyak orang jadi sadar, 'eh iya, mau Valentine ya bentar lagi'. Mirip lah sama Natal dan kontroversi mengucapkan selamat Natal. Orang yang kuper sekalipun pasti jadi ngeh, karena banyak yang ribut perkara halal-haramnya. Makasih lho ya.

1550138772375-demo

Aksi menolak Valentine di Indonesia. Foto dari akun ini.

Valentine semakin akrab di telinga masyarakat Indonesia lantaran DILARANG sama beberapa pemerintah daerah.

Contohnya di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Dinas pendidikan setempat mengirim surat edaran ke lembaga-lembaga pendidikan negeri maupun swasta agar murid tidak diperkenankan merayakan hari kasih sayang. Begitu pula dengan Banda Aceh, yang melarang warganya merayakan 14 Februari lewat surat edaran.

Kebanyakan alasannya seragam: Valentine adalah simbol pergaulan bebas. Khusus buat Aceh, itungannya aturan gitu overkill enggak sih? Siapa juga mau merayakan Valentine di Negeri Serambi Makkah? Lawan jenis duduk semeja bareng di tempat umum saja bisa diciduk polisi syariat.

Iklan

Upaya menolak perayaan kasih sayang Ini sampai jadi tagar populer di Twitter Indonesia. Contohnya #ValentineBukanBudayaKita, terus ada #RemajaMuslimTolakValentine, dan #SelamatkanGenerasiMuslim. Tidak ada perayaan 'receh' lainnya yang bisa membuat kepala daerah membuat surat larangan dan trending topic di Tanah Air seperti Valentine.

Makanya, sebetulnya aku merasa aktivis anti-Valentine di Indonesia terjebak mempopulerkan efek Streissand. Maksudnya, semakin kita berusaha melarang, menyembunyikan, atau menyensor sesuatu, yang terjadi justru informasi tadi tersebar luas. Dengan bikin tagar populer, yang tadinya bodo amat jadi malah tahu sekarang sedang Valentine.

Jujur aja, berapa persen coba orang Indonesia yang betulan mempersiapkan diri merayakan Valentine? Susah nyari datanya. Mayoritas orang baru peduli sama kalender dan perayaan tertentu, kalau ada libur kejepit. Lagian nih, mereka yang emang bergaul bebas alias mau 'ena-ena', ngapain nunggu Valentine?!

Bahkan, setelah meneliti praktik perayaan Valentine di berbagai negara, aku setuju-setuju saja untuk menolaknya. Tentu karena alasan yang berbeda dari kelompok anti-Valentine di Indonesia ya.

Sederhana aja sih alasannya. Valentine zaman sekarang pemborosan doang. Tradisi membeli dan memberi coklat, serta berbagai rayuan diskon belanja adalah taktik pemodal meraup kekayaan. Kapitalisme dalam wujudnya yang paling luwes. Enggak ada demand, ya dibikin aja. Bila tema cinta-cintaan bisa buat merayu orang lebih rajin belanja, kenapa enggak?

Iklan

Padahal industri kakao, hulu dari pabrik-pabrik coklat itu, salah satu industri yang paling eksploitatif sama buruhnya. Beberapa di antaranya mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Sementara kita di sini malah pesta, sambil bertukar coklat dengan dalih merayakan "hari kasih sayang".

Munculnya penolakan Valentine di Jepang karena alasan tak jauh beda. Sebab budaya itu di Negeri Matahari Terbit emang sangat patriarkis. Para perempuan di Jepang seakan dituntut oleh budaya massal agar memberi coklat kepada rekan kerja pria pada 14 Februari.

Sebagai gantinya, para lelaki punya tekanan sosial membalas coklat yang diberikan para perempuan pada 14 Maret yang disebut White Day. Padahal mah itu semua bikin-bikinan para pengusaha industri coklat, biar penjualan mereka naik pesat. Intinya alasan menolak Valentine tuh mending yang konkret gitu. Melawan kapitalisme kek

Kalau aksi menolak hari Valentine tiap tahun di Indonesia masih gitu-gitu aja, sayang banget. Bisa jadi mereka yang menolak Valentine secara ideologis akan rugi dalam jangka panjang. Sebab, mereka yang paling kenceng menolak, secara tidak langsung jadi yang paling getol merayakan valentine. Bukan dengan coklat tentunya, tapi dengan demo.

Amsyong kan…