Ramalan Kiamat

Aliran Duit di Balik Eksodus Warga Ponorogo ke Malang Menghindari Kiamat 2019

Sosiolog menilai doktrin kiamat seringkali menjadi ajang komodifikasi. Ajaran Thoriqoh Musa yang membuat 52 jamaah ponpes di Ponorogo itu pindah, juga menuntut 'investasi' sebagai bekal di akhirat.
14.3.19
Sekte tarekat di Ponorogo pindah ke Malang akibat ramalan kiamat.
Foto ilustrasi saat anggota sekte Gafatar dipulangkan kembali ke Pulau Jawa dari Kalimantan Barat naik KRI Teluk Banten. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Lebih dari lima puluh warga Desa Watubonang, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur berbondong-bondong angkat kaki dari tanah kelahiran mereka sejak awal Maret 2019. Mereka rela menempuh perjalanan 167 kilometer demi meraih keselamatan. Keputusan mereka untuk melakukan eksodus, dipicu doktrin Thoriqoh Musa. Doktrin tersebut disebar Katimun, salah satu pemimpin spiritual desa tersebut.

Katimun mengatakan kiamat akan terjadi pada bulan Ramadan 2019, yang jatuh pada Mei-Juni mendatang. Katimun, yang juga dikenal sebagai pengurus pondok pesantren, mengatakan satu-satunya lokasi yang dapat menyelamatkan nyawa mereka berada di desa Kasembon, Kabupaten Malang, juga di Jawa Timur. Maka, seluruh warga yang percaya pun segera meninggalkan kampung halaman mereka, mengikuti jejak Katimun, hijrah menuju Kasembon.

Iklan

Kepanikan serupa akibat rumor kiamat pernah terjadi sepanjang kurun 2009–2012. Dunia dibuat gempar oleh rumor bahwa dunia akan berakhir tepat pada pergantian tahun 2012. Berbagai upaya melindungi diri dari kiamat dilakukan manusia berbagai negara. Sementara di Tanah Air, jemaat satu gereja di Bandung memperoleh julukan 'sekte kiamat' karena meramalkan akhir dunia terjadi pada 10 November 2003. Para jemaat bersama pendeta mereka, Sibuea, berlindung di bangunan gereja dan menggegerkan masyarakat.

Katimun dilaporkan sejak tahun lalu sudah rutin bersyiar dari rumah ke rumah tentang ramalan kiamat saat ramadan 2019. Dalam sebuah fatwa yang disebut oleh Katimun sebagai Fatwa Thoriqoh Musa, ia mengatakan jamaahnya harus menjual seluruh aset yang mereka miliki, dan mulai memikirkan bekal di akhirat nanti.

Kepala Desa Watubonang, Bowo Susetyo, mulanya tidak mengetahui kepergian warga yang percaya pada ajaran Katimun. Menurutnya, warga melakukan eksodus secara sembunyi-sembunyi. Tak satupun dari 52 warga yang melaporkan kepindahanya kepada perangkat desa. Semua serba mendadak, dan tertutup. Seluruh jamaah ponpes Watubonang hijrah menuju pondok Miftahul Falahin Mubtadin yang diasuh Muhammad Romli atau Gus Romli, yang diyakinin mampu menyelamatkan mereka dari kiamat itu.

"Ada warga yang waktu siang saya tanya, apakah jadi pergi? Mereka mengatakan tidak. Waktu malam hari, tiba-tiba udah enggak ada aja," tutur Bowo Susetyo dikutip awak media.

Geger Riyanto, sosiolog dari lembaga riset Purusha, menganalisis fenomena kepanikan massa macam ini. Menurutnya, manusia sering mengimitasi sekitarnya. Karena itulah, dengan isu apapun, secara alamiah kepanikan dapat menular.

Baginya, ketika ada sebuah keributan, manusia memiliki kecenderungan untuk mengoreknya dari orang-orang terdekat. Bisa jadi dari teman, kolega, atau masyarakat sekitarnya. Kemudian itulah yang menyebabkan mengapa jika sekitarnya tengah berada di kondisi panik, maka secara spontan manusia di sekitarnya juga turut larut dalam kepanikan yang sama.

Iklan

"Seperti yang dikatakan sosiolog Emile Durkheim, fiksi itu bisa menjadi nyata ketika ada gestur-gestur yang mengafirmasinya," kata Geger kepada VICE.

Sebagian warga yang mempercayai doktrin Thoriqoh Musa versi Katimun, menjual seluruh harta benda dengan harga miring. Ada satu keluarga rela menjual tanah dan rumahnya seharga Rp20 juta saja. Ternak-ternak pun dibanting harga menjadi Rp8 juta per ekor. Sebagian hasil penjualan masuk ke kantong pondok pesantren. Katimun menyebutnya sebagai sumbangan untuk bekal di akhirat kelak.

Katimun meramalka, selain terjadi bencana dahsyat akan membunuh seluruh umat manusia—kecuali dia dan umatnya—pada Ramadan tahun ini sekaligus akan terjadi perang besar. Maka, untuk berjaga-jaga, jamaah diminta membeli sebuah bilah pedang dari ‘Pak Kyai’ seharga Rp1 juta. Dia buru-buru menyatakan itu semua dilakukan tanpa paksaan. Warga boleh membeli senjata sendiri.

Satu-satunya hal wajib dimiliki oleh para pengikutnya, adalah satu buah foto pemilik pondok pesantren. Menurut Katimun, foto itulah yang menjadi pusaka penyelamat mereka di hari akhir nanti. Tapi untuk memperoleh potret diri sang empu ponpes, warga wajib memberi ‘penebusan’ senilai Rp1 juta. Warga pun juga diminta menyetorkan 5 kuintal beras, yang nantinya akan digunakan jamaah bertahan dari musim kemarau panjang yang diramal terjadi selama kurun waktu 2019 – 2021.


Tonton dokumenter VICE mengenai sekte yang berjanji membebaskan semua manusia di dunia dari utang:


"Ini fenomena yang menarik. Kita bisa melihat kehidupan yang konon dikatakan sebagai ‘tradisional’ dan barat yang konon ‘modern’, bisa dimobilisasi dengan isu-isu seperti ini. Mulai dari yang beragama atau sekuler, termakan oleh hal-hal seperti ini," ujar Geger.

Motif ekonomi, menurut sosiolog, sering menguntit di balik kepanikan ramalan kiamat. Geger Riyanto ingat, pada 2012, isu kiamat justru menjadi komoditas besar-besaran.

Penerbit-penerbit merilis buku terkait fenomena akhir zaman meraup untung besar. Bahkan, ia ingat mendiang sastrawan Danarto, membelanjakan sebagian uang yang ia peroleh dari Bakrie Award pada 2009 untuk membeli buku bertema 2012, dan membagikan ke teman-temannya. Film dengan judul 2012 tercatat sebagai lima film dengan penonton terbanyak pada 2009.

"Ketika orang dilanda kepanikan, maka pikirannya menjadi tidak rasional, bahkan dalam mengeluarkan uang. Saat manusia keamanan ontologisnya terganggu, ia secara alamiah mencari sebuah 'pegangan'," kata Geger.

Hingga artikel ini dilansir, kepanikan masih melanda warga Desa Watubonang. Menurut Bowo Susetyo, sang kepala desa, Katimun masih memiliki 200 jamaah lain yang tersisa dan siap meninggalkan desa kapan saja.