Kerusuhan Lintas Penjara Melanda Brasil, 16 Napi Tewas Terpenggal

Sebelumnya tiga kerusuhan berbeda dipicu oleh perseteruan antar geng dialami empat penjara Provinsi Manaus. Total 52 narapidana tewas akibat kekerasan brutal tersebut.
30.7.19
​Petugas memindah jasad para napi yang tewas dalam kerusuhan di beberapa penjara Negara Bagian Manaus, Brasil. Foto oleh Andre Penner/Associated Press 16 napi tewas terpenggal
Petugas memindah jasad para napi yang tewas dalam kerusuhan di beberapa penjara Negara Bagian Manaus, Brasil. Foto oleh Andre Penner/Associated Press

Brasil mengalami salah satu kerusuhan antar napi terparah sepanjang sejarah pada Senin (29/7) kemarin. Para napi saling bunuh mewakili afiliasi geng masing-masing. Akibatnya 52 narapidana tewas, 16 di antaranya dalam kondisi terpenggal.

Kerusuhan itu pecah pukul 07.00 pagi waktu setempat, di Lembaga Pemasyarakatan Altamira, Negara Bagian Para. Insiden bermula ketika anggota geng di salah satu blok mendatangi sel dihuni anggota geng musuh, merujuk laporan BBC. Tak terima digeruduk, warga di blok tersebut menyerang balik tapi ternyata kalah jumlah. Akibatnya yang terjadi adalah pembantaian kejam dari geng yang menyerang duluan.

Kerusuhan ini memicu kebakaran di salah satu gedung penjara, menewaskan 36 orang akibat keracunan asap. Tak ada sipir yang jadi korban, namun dua petugas sempat disandera oleh para napi. Beberapa jam setelah kericuhan mereda, dua sipir tadi dibebaskan.

Berdasarkan investigasi awal, selain perseteruan antar geng, pemicu kerusuhan ini adalah penjara yang kelebihan penghuni. Surat kabar lokal Rede Liberal menyatakan Lapas Altamira idealnya hanya dihuni 200 napi. Pada saat kejadian, jumlah pesakitan di seluruh blok mencapai 311 orang. Aparat kepolisian yang dikerahkan untuk memadamkan kerusuhan butuh waktu lima jam sebelum akhirnya bisa menjinakkan para napi.

Brasil sejak lama dikenal sebagai negara di Amerika Latin yang punya masalah kekerasan dalam penjara amat serius. Namun, 2019 menandai tahun terburuk terkait kekerasan narapidana. Baru dua bulan lalu Brasil mengalami kerusuhan lintas penjara terburuk sepanjang sejarah. Insiden pada Mei lalu terjadi di empat lapas berbeda Negara Bagian Manaus. Biang keroknya sama, dua anggota geng yang saling bermusuhan. Akibat kekerasan yang menular ke beberapa lapas itu, 55 orang tewas. Artinya, total selama dua bulan ini lebih dari seratus narapidana di Brasil mati gara-gara kekerasan brutal di penjara.

Negara tropis itu tercatat ada di urutan ketiga terbanyak sedunia, untuk urusan populasi terbanyak menghuni penjara. Lebih dari 725 ribu orang mendekam di berbagai penjara Brasil. Hanya Cina dan Amerika Serikat yang melampaui angka statistik Negeri Samba. Laporan dari lembaga pemantau HAM Human Rights Watch, menyatakan pengelolaan penjara di Brasil yang buruk sudah menyerupai "bencana kemanusiaan."

Di semua negara bagian masalahnya sama. Penjara berlebihan kapasitas, sementara geng-geng mendominasi pengaruh. Sipir saja tidak ditakuti sama sekali. Penjara di Brasil lebih mirip sekolah mendidik calon-calon kriminal baru.

Tiga tahun lalu, kekerasan tiga minggu berturut-turut juga pernah dialami lapas di Brasil. Akibatnya lebih dari 100 orang tewas. Seperti insiden kemarin, kala itu ada juga napi yang mati dipenggal anggota geng lawan. Pemenggalan adalah metode lazim dalam kekerasan dalam penjara di Brasil.

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, pernah menyatakan bahwa solusi dari maraknya kerusuhan lapas adalah pengamanan lebih ketat dan mempersenjatai sipir. Bolsonaro adalah pemimpin sayap kanan ultranasionalis yang sangat mengidolakan kekerasan sebagai solusi semua masalah sosial di negaranya. Dia berulang kali berkampanye soal perlunya aparat bersikap keras terhadap pelaku kejahatan dan mempersetankan HAM. Namun, janji-janji Bolsonaro tak begitu saja bisa dipenuhi. Sebab hak pengelolaan lapas adalah wewenang negara bagian, bukan pemerintah pusat.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News