9 Alasan Mayoritas Koki Membenci Para Penulis dan Kritikus Kuliner

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Sejak awal artikel opini ini, saya ingin menegaskan satu hal: Para koki berhak membenci penulis makanan. Para penulis, apalagi kritikus, sering memberi opini namun mereka tidak tahu apa-apa, dan mereka memiliki kelebihan yang diimpikan oleh para penyantap makanan biasa. Berikut adalah sembilan alasan penulis kuliner seringkali dibenci para pekerja keras dari industri restoran. Uniknya, saya adalah penulis kuliner juga. Jadi opini ini saya garap dari hasil refleksi selama saya menulis soal dunia kuliner, termasuk saat saya membuat ulasan makanan tertentu.

Banyak orang di industri ini yang mungkin membenci saya, jauh lebih hebat daripada yang saya sadari. Bukan karena saya orang jahat—walaupun memang kadang saya masuk kategori manusia brengsek. Saya wajar bila dibenci, karena saya memiliki profesi sebagai penulis kuliner.

Koki, saya kasih tahu nih, mayoritas membenci penulis ataupun kritikus makanan. Sekali lagi, mereka benar-benar membenci para penulis kuliner. Sebagian besar alasan kebencian itu berdasar kok. Inilah sembilan di antaranya. Ngomong-ngomong, alasan kebencian tadi berlaku untuk semua penulis maupun reviewer tempat makanan. Tapi yang lebih dibenci koki adalah “kritikus kuliner”.

Oke, jadi berikut alasannya:

1. Pada Dasarnya Koki, Seperti Setiap Seniman, Benci Dikritik
Adam Gopnik, yang menulis tentang keahlian memasak di Majalah New York pada tahun 2005, membuat pernyataan tegas yang membuat saya duduk tegak di tempat tidur saya saat membacanya: “Semua seniman di semua bidang sangat membenci semua kritik setiap saat.” Sebagai seorang penulis, tidak ada argumen yang membuat saya mendidih lebih dari masukan menyedihkan dari penulis buruk yang entah bagaimana bisa naik ke posisi editor. “Saya pikir, apa yang ingin Anda katakan di sini tidak lebih buruk daripada “ramen yang tidak bersemangat menunjukkan hampir tidak ada usaha sama sekali atau semacamnya”. Tidak harus kebencian koki diarahkan pada kritikus yang menulis untuk media. Siapa saja yang bisa mengetik bisa menulis secara kritis tentang mereka, berpeluang dibenci sama besarnya.

2. Kerugian Terbesar dari Satu Ulasan Ngaco Ditanggung Restoran
Pertama, kalau si penulis memberikan ulasan buruk, tentu restoran akan dirugikan. Kedua, kalau si kritikus makan-makanan gratis, restoran tentu rugi. Tapi itu sebenarnya tak seberapa. Yang lebih merugikan dari sebuah ulasan buruk adalah si penulis mengambil jatah meja yang seharusnya bisa ditempati oleh tamu lain, yang barangkali akan memasan makanan lebih banyak. Apalagi kalau si kritikus nongkrong lama, sambil mesen anggur. Aduh, penulis yang suka memanfaatkan situasi kayak gitu akan membuat semua jadi lebih buruk lagi.

3. Koki Selalu Diminta Bersikap Baik Terhadap Penulis Kuliner
Semua orang yang saya temui sebagai penulis baik kepada saya. Apalagi saya sudah cukup lama berpikiran lemah benar-benar menganggap profesi saya, pada akhirnya, populer dan sangat disukai pembaca. Faktanya, saya jauh dari status disukai atau dihormati publik! Semakin koki dipaksa berpura-pura senang dan bersifat hangat di hadapan penulis, semakin dia membenci mereka. Sudah sifat alami manusia buat memberontak dengan kekerasan melawan kepura-puraan. Pikirkan semua perpisahan penuh amarah yang mengikuti periode panjang dari harmoni yang palsu.

4. Kebanyakan Penulis Kuliner Tidak Tahu Apa Yang Mereka Bicarakan
Salah satu kesalahan penulisan makanan terbesar dan paling menjengkelkan adalah bagaimana keseluruhannya berkisar pada perspektif penulis. Sebuah restoran, dalam sepengelihatan penulisnya, muncul hanya sebagai rangkaian piring yang muncul di atas meja, dikirim oleh orang-orang muda yang ramah. Upaya yang sangat besar di belakang mereka sama sekali tidak terlihat, seperti fakta bahwa hidangan yang dimakan penulis adalah salah satu dari lusinan yang dibuat semalam sebelumnya, yang semuanya secara kualitas hanya sedikit berbeda.

Videos by VICE

5. Kebanyakan Penulis Kuliner Tidak Dikenal Karena Pengetahuannya Yang Luas
Karena mereka begitu terbiasa dengan semua orang menjilati mereka, mereka secara tak terhindarkan mulai menganggap remeh pelayanan semacamnya. Seluruh hak istimewa yang tak terpikirkan bagi reservasi makan malam seorang warga sipil yang diutamakan dan dalam waktu singkat, mengobrol dengan koki, mendapatkan waktu sebanyak yang Anda inginkan dengan pengantar anggur, mendapatkan hal-hal tidak dalam urutannya atau dalam porsi yang telah dikurangi-hanyalah istilah-istilah dasar hubungan antara penulis dan koki. Gimana tuh?! Wajar dong kalau profesi penulis kuliner jadinya menjengkelkan di mata koki.

6. Penulis Kuliner Rata-Rata Munafik
Kecanggihan utama seorang penulis kuliner itu satu faktor berikut: ketika seorang penulis tidak berprasangka dan informasinya lengkap, sebetulnya pendapat mereka soal suatu masakan jarang dipegang teguh oleh diri mereka sendiri. Penulis kuliner mengambil beberapa pujian setinggi langit sembrono kepada satu restoran atau warung makan, dan kemudian menjatuhkan masakan yang sempat dipuji tadi di kesempatan berbeda ketika menemukan masakan lain yang lebih enak.

7. Penulis Kuliner Sering mengobral pujian menyesatkan
Penulis kuliner akan menulis betapa hebatnya Anda sebagai juru masak, kemudian tidak pernah menulis tentang koki yang sama di kesempatan lainnya, atau menulis dengan sedikit perasaan di kesempatan lain. Pujian samar-samar dari penulis kuliner semakin menjengkelkan. Sebab, penulis kayak gitu bikin publik bingung. Koki seperti apa yang harus diapresiasi oleh publik?

8. Nyebelinnya, Penulis Kuliner Betulan Punya Kekuatan Pengaruh
bahkan penulis yang buruk memiliki kekuatan untuk membantu atau menyakiti restoran-bahkan yang paling lemah dan paling tidak berkualitas di mata mereka. Setiap bajingan yang punya sarana media untuk menulis soal kuliner dapat berbuat lebih banyak membantu atau menyakiti bisnis restoran, jauh lebih ngefek daripada pelanggan yang paling setia sekalipun.

9. Ini alasan terbaik: Kebanyakan penulis kuliner bodoh dan sok tahu
Banyak penulis itu bodoh, dan seperti semua orang bodoh, mereka pikir mereka pintar karena mereka terlalu bodoh untuk mengetahui hal yang sebaliknya. Orang- orang ini ibaratnya granat yang siap untuk meledak.

Para koki—dan juga para GM, pemilik restoran, barisan juru masak, dan orang-orang lain
yang bergantung pada restoran untuk penghidupan mereka—biasanya pria atau wanita
berjiwa besar—seringkali merupakan seniman dengan cara mereka sendiri. Tidak ada
yang bisa lebih alami daripada bagi mereka untuk merasakan antipati yang kuat. Sayangnya bagi para pekerja industri kuliner ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk berdiri seimbang dengan para penulis kuliner ataupun influencer makanan yang berpengaruh besar “membentuk” selera publik. Saya merasa kasihan pada para pekerja keras dari industri kuliner atas kondisi yang timpang sekarang.

Thank for your puchase!
You have successfully purchased.