industri pariwisata

Pemerintah India Ngebet Buka 'Wisata Karantina', Penolak Ide Itu Justru Pengusaha Hotel

‘Wisata karantina’ mengizinkan wisatawan berkunjung ke Himachal Pradesh, tapi mereka tidak boleh keluar hotel sama sekali.
9.6.20
shimla, ibu kota himachal pradesh
Shimla adalah ibu kota Himachal Pradesh yang sering dikunjungi wisatawan. Foto oleh vikram via Unsplash.

Kasus penularan Covid-19 terus meningkat di India, tetapi peraturan lockdown malah dilonggarkan. Negara bagian satu ini, misalnya, sudah tidak sabar memulihkan sektor pariwisata.

Ketua Menteri Jai Ram Thakur ingin menjadikan Himachal Pradesh sebagai destinasi “wisata karantina”. Sebelum Covid-19 menyerang, negara bagian di India utara ini merupakan tujuan utama wisatawan, dengan jumlah pengunjung lebih dari tiga juta orang setiap liburan musim panas.

Iklan

Thakur berencana memperbolehkan wisatawan bepergian ke Himachal Pradesh, dengan syarat mereka tidak keluar hotel sama sekali. Baik pengunjung maupun pihak hotel akan mendapat hukuman jika melanggar peraturan karantina.

Namun, industri perhotelan tidak sepakat dengan ketua menteri. “Wisata karantina bukanlah ide bagus untuk Himachal Pradesh,” Sanjay Sood, Presiden Asosiasi Hotel dan Restoran Shimla, memberi tahu VICE.

Dampak Covid-19 sangat terasa di Shimla. Pasalnya, peraturan lockdown diberlakukan bertepatan dengan puncak musim liburan. Ibu kota negara bagian yang biasanya ramai wisatawan kini sepi pengunjung. “(Wisata karantina) ini tidak aman bagi staf dan properti kami, serta penduduk kota dan desa.

Berhubung sebagian besar negara bagian kami sudah aman dan tidak ada musim liburan akibat pandemi—yang biasanya terjadi sepanjang April, Mei dan Juni—maka akan lebih baik jika perbatasan tetap ditutup bagi wisatawan. Seperti yang sudah diketahui, ada prediksi lonjakan eksponensial pada Juni dan Juli.”

Sood menyoroti peningkatan kasus penularan di dalam negeri, dan menyarankan industri pariwisata dihentikan sementara waktu sampai penerbangan lokal dan internasional kembali normal.

“Kasus penularannya terus bertambah di Maharashtra, Gujarat, Delhi dan Punjab. Oleh karena itu, hotel-hotel masih harus tutup setidaknya sampai akhir Agustus atau bahkan September—kecuali kalau vaksin COVID-19 sudah ditemukan,” terangnya.

Iklan

Industri perhotelan di Kota Dharamsala juga menolak usulan tersebut. Berdasarkan laporan The Tribune, anggota Asosiasi Perhotelan Dharamsala menuduh pemerintah berusaha mengalihkan beban terkait COVID-19 pada industri perhotelan yang paling merasakan dampaknya. Sanjeev Gandhi, wakil ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran India (FOHRA), menganggap usulan kementerian pariwisata tidak masuk akal.

Saat ini, hotel hanya melayani pengunjung yang datang untuk urusan negara dan bisnis. Para wisatawan dari negara bagian lain dilarang menginap jika tujuannya ingin berlibur, tak seperti Uttarakhand yang sudah membuka akses wisata dengan sejumlah batasan. Pelancong harus menyewa hotel terlebih dulu. Mereka juga tidak diperbolehkan masuk jika datang dari kota-kota dengan kasus penularan tinggi.

Pariwisata global menjadi sektor paling terpukul pandemi. Organisasi Pariwisata Dunia memprediksi kedatangan wisatawan internasional akan turun hingga 30 persen pada 2020 dikarenakan adanya penutupan perbatasan dan larangan penerbangan.

Himachal Pradesh melaporkan 400 kasus COVID-19, dengan total kematian lima jiwa dan pasien pulih 194 orang. Warga India yang positif corona telah menembus 250.000 orang. Jumlah infeksi di negara bagian Maharashtra melampaui total penularan di Tiongkok, yaitu sebesar 88.528 kasus. Pakar kesehatan telah memperingatkan India untuk tidak melonggarkan aturan lockdown, mengingat negara ini melaporkan jumlah harian tertinggi ketiga di dunia.

Follow Satviki di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US