Dunia Pendidikan

Aku Kuliah di Salah Satu Jurusan ‘Paling Gak Penting’ Sedunia, Begini Hidupku Sekarang

“Kuliahnya berat banget, tapi rasanya enggak sia-sia kok,” kata sarjana Seni Sirkus, yang kena olok-olok pendidikannya tak berguna.
MP
ilustrasi oleh Marta Parszeniew
1.10.20
Daftar Jurusan Kuliah ‘Paling Gak Penting’ di Eropa
Kolase oleh Marta Parszeniew 

Memilih jurusan kuliah itu bukan perkara gampang. Kalian musti memikirkan banyak hal, supaya nantinya enggak menyesal dan pindah jurusan, yang sudah pasti enggak akan murah biayanya. Sebagian orang masuk perguruan tinggi karena ingin mengejar karier yang cemerlang di masa depan.

Mungkin di pikiran mereka, untuk apa kuliah mahal-mahal kalau cuma jadi pengangguran atau pegawai kantoran yang gajinya kecil? Akibatnya, kalian harus siap menjadi omongan tetangga atau diceramahi orang tua jika jurusan yang diinginkan enggak bergengsi dan menjanjikan, seperti kedokteran, teknik, atau bisnis.

Iklan

“Mau jadi apa nanti masuk jurusan sastra?” atau “Enggak perlu kuliah segala buat belajar gambar doang” adalah ucapan-ucapan yang biasanya keluar dari mulut orang ketika seseorang memutuskan masuk jurusan yang “tidak menjual dan dibutuhkan pasar”.

Namun, lain ceritanya di Eropa. Banyak universitas menyediakan jurusan yang tampaknya takkan mengajarkan hal penting sama sekali dan hanya akan menyulitkan mahasiswa untuk mencari pekerjaan. Jurusan Komedi Stand-Up di Universitas Kent, misalnya. Banyak komedian stand-up bisa terkenal tanpa perlu kuliah jurusan ini dulu. Berkuliah Komedi Stand-Up bahkan takkan menjamin kalian bakal cepat sukses.

VICE menulis artikel “Jurusan Paling Gak Ada Gunanya di Eropa” dua tahun lalu, dan jurusan Komedi Stand-Up serta beberapa lainnya— eperti Seni Sirkus dan Numismatik (studi yang mempelajari mata uang)—masuk dalam daftar ini. Ya, kami enggak seharusnya beropini begitu tanpa mendengar langsung pengalaman para mahasiswa yang menjalaninya. Oleh karena itu, kami bertanya kepada sejumlah lulusan yang jurusannya kami sebut enggak berguna.

Andrej adalah seorang pustakawan yang mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi saat berkuliah di Universitas Beograd. Lelaki asal Serbia ini mengaku “pilihan ini benar-benar tak terencana”.

Dia sangat mencintai profesinya, bahkan ketika artikel kami menyebutkan perpustakaan di Serbia makin berkurang. “Menjadi pustakawan sesuai dengan jurusanku dulu adalah hal langka di Serbia,” tuturnya. “Tapi pekerjaan ini berbeda dari lainnya, dalam arti positif. Aku enggak pernah merasa tertekan ketika bekerja, dan profesi ini memberikan semacam stabilitas [dalam hidup] pada situasi tak menentu seperti sekarang.”

Iklan

Ziemowit setuju dengan staf VICE Pawel Mączewski bahwa seseorang enggak perlu mengambil jurusan Ilmu Politik untuk masuk dunia politik.

“Memahami ilmu politik memang bermanfaat, tapi siapa saja bisa menjadi politikus sekarang, enggak peduli apa gelar mereka,” ujar lulusan Ilmu Politik dari Universitas Jagiellonian di Kraków, Polandia. Walaupun begitu, Ziemowit merasa sangat terbantu dengan jurusannya setelah berkecimpung dalam dunia jurnalistik.

Pertanyaannya adalah apakah suatu jurusan menjadi wajib diambil apabila mendapat label “berguna”? Alumni Universitas Milan, Giacomo, menganggap jurusan Konservasi dan Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Pegunungan tak terlalu penting.

Dia mengatakan mahasiswa jurusan ini sebenarnya enggak terlalu membutuhkan gelar mereka untuk berkarier di bidang yang sesuai. Namun, bukan berarti Giacomo menyesali pilihannya dulu. Dia menggambarkan jurusannya kurang lebih “mirip studi agrikultur, tapi berfokus pada wilayah pegunungan [di sebuah kampus di] Edolo, desa kecil di kaki Alta Val Camonica”.

Bagiku, Seni Sirkus adalah jurusan paling menarik dari daftar VICE ini. Lelaki 23 tahun bernama Dries telah menamatkan studinya pada jurusan Seni Sirkus di Universitas Codart. Dia memilih jurusan ini karena “bercita-cita menjadi juggler profesional saat masih kanak-kanak. Eh, mereka bilang aku enggak akan bisa memperoleh gelar Sarjana Seni Sirkus kalau enggak mampu koprol dengan bagus.” Dia lalu melanjutkan, “Gelar ini sama saja seperti seni pertunjukan lainnya. Proses seleksi masuknya sangat sulit kayak jurusan seni tari dan teater.”

Iklan

Dries menceritakan ada mata kuliah tari, anatomi dan kewirausahaan yang harus diambil mahasiswa. “Intens banget, tapi worth it kok,” ungkapnya. “Sirkus tradisional memang sedang sekarat, tapi Cirque du Soleil bukanlah tujuan akhirku. Sebagai seniman kontemporer, aku sering diminta tampil pada acara festival, teater dan pusat budaya.”

Emma Pivetta, dosen di School of Design Barcelona dan EU Business School, kurang setuju dengan label “jurusan enggak dibutuhkan”. Menurutnya, tak ada satupun jurusan yang pantas dianaktirikan seperti itu. Dia merasa semakin banyak pelajar di Eropa mengambil pendidikan tinggi bukan karena ingin mendapat pekerjaan bagus saja, tapi karena kurangnya pekerjaan yang tersedia. “Ada kecenderungan mengambil S2 dan pendidikan tinggi lainnya daripada [melamar pekerjaan],” terang Emma.

Dia “mendorong pelajar untuk mendalami bidang studi yang mereka sukai […] Selama kalian hidup, kalian takkan pernah berhenti belajar. Oleh karena itu, lakukan apa yang sesuai dengan keinginan hati. Belajar dan berkarier juga termasuk perjalanan hidup.”

Pendapat Emma benar adanya. Mempertimbangkan sejarah elitis yang rumit dari pendidikan tinggi, kita patut memuji orang-orang yang menekuni bidang studi pilihan mereka dengan sepenuh hati — tak peduli akan menghasilkan uang atau enggak. Jika kuliah jurusan Seni Sirkus mampu membuatmu bahagia, apa yang salah dari itu?

Wawancara tambahan oleh Maud Droste, Vincenzo Ligresti, Mihailo Tesic dan Pawel Mac.

@GINATONIC