Ilmuwan Temukan Zat Kimia Berbahaya dalam Anjing dan Kucing Peliharaan Kita

Hewan seperti kucing dan anjing telah terpapar PFAS karena kebanyakan dari mereka hidup bersama manusia.
6.2.20
Anjing dan kucing

Bahan kimia industri ditemukan di mana saja, baik dalam alat masak anti-lengket, pakaian, kosmetik maupun busa pemadam kebakaran. Zat per- dan polifluoroalkil (PFAS) menjadi yang paling umum digunakan, tetapi juga berbahaya pada konsentrasi tinggi. Dan kini, ilmuwan dari Departemen Kesehatan Negara Bagian New York menemukannya di dalam tubuh hewan peliharaan.

Mereka mencari keberadaan 15 jenis PFAS dalam kotoran anjing dan kucing. Hasilnya menunjukkan ada 13 jejak “forever chemical” di dalam tubuh hewan peliharaan, mengindikasikan mereka—dengan ekstensi manusia sebagai pemilik—telah terpapar PFAS pada tingkat di atas minimum yang dapat diterima manusia.

“Perkiraan ekskresi feses harian menunjukkan baik anjing maupun kucing terpapar PFAS di atas tingkat risiko minimum yang dapat diterima manusia,” peneliti menyimpulkan. Penemuan 13 zat kimia ini menandakan “paparan luas PFAS terhadap hewan.”

Tim ilmuwan menerbitkan temuan mereka pada Rabu (5/2/2020) dalam jurnal publikasi American Chemical Society, Environmental Science & Technology Letters.

Bahan kimia buatan manusia ini telah digunakan sejak 1950-an. PFAS terbuat dari rantai panjang atom karbon yang terikat pada atom fluor, sehingga memiliki keunggulan daya tahan tinggi dan ketahanan terhadap panas, minyak dan air. Kuatnya ikatan karbon-fluorin membuat PFAS tidak mudah terdegradasi di lingkungan. Itulah mengapa PFAS dijuluki “forever chemical”.

Meskipun penggunaan PFAS di AS telah menurun sejak 2002, bahan kimia ini telah menyerap ke dalam air minum di seluruh negeri. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pada konsentrasi tinggi, PFAS dapat meningkatkan risiko kanker, mengganggu hormon, dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Paparan PFAS juga membahayakan makhluk hidup selain manusia. Dalam studi ini, para penulis mengutip penelitian pada hewan laboratorium yang menunjukkan PFAS memiliki efek negatif pada hati, otak dan gen mereka.

Menurut penelitian, pengumpulan dan proses analisis keberadaan PFAS pada kotoran manusia kemungkinan besar “tidak mudah” sehingga tinja hewan bisa dijadikan pendukung yang baik.

“Hewan peliharaan seperti anjing dan kucing hidup di lingkungan yang sama dengan manusia, dan telah melindungi manusia dari paparan kontaminan lingkungan termasuk PFAS,” bunyi penelitian tersebut.

Kannan dan rekan mengumpulkan 41 sampel kotoran kucing dan 37 kotoran anjing yang ada di Albany. Setelah ditumbuk dengan lesung dan alu porselen, sampel kotorannya diuji kimia secara ketat.

Mereka menemukan rata-rata 54,7 nanogram PFAS di setiap gram kotoran kering anjing, dan 85,4 nanogram di setiap gram kotoran kucing. Usia dan jenis kelamin peliharaan tidak memengaruhi konsentrasi bahan kimianya.

Tidak jelas bagaimana hewan peliharaan tersebut bisa terpapar PFAS. Namun, bahan kimia tersebut dapat masuk ke dalam tubuh lewat cara ditelan, dihirup dan disentuh. Setelah itu, PFAS akan merasuki darah, hati, dan ginjal. Kawanan sapi di peternakan West Virginia mati karena PFAS, gara-gara sungai di dekatnya tercemar berton-ton limbah kimia dari pabrik DuPont. Hewan sekali lagi bisa menjadi tanda awal paparan PFAS.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.