noko
Noko sibuk menato. Foto oleh Megumi, ibu Noko.
The Year We Woke Up

Masih 10 Tahun, Bocah Jepang Ini Sudah Menjadi Seniman Tato Kenamaan

Noko Nishikagi takkan membiarkan stigma masyarakat dan usia belianya menghentikan impian dia menjadi seniman tato berbakat.
12 Desember 2019, 11:20am

Dalam rubrik “The Year We Woke Up”, VICE mengangkat kisah sosok-sosok yang tak takut melakukan perubahan sepanjang 2019. Kami merayakan para pejuang muda maupun aktivis gerakan yang menyadarkan kita agar berani memulai langkah mewujudkan perubahan.

Layaknya anak-anak kebanyakan, bocah kelahiran Jepang ini sedang aktif sekolah, bermain dan mendengarkan musik K-Pop. Noko Nishikagi juga suka “makan sushi, khususnya salmon” dan menggambar “rubah, serigala, dan binatang lain.”

Namun, Noko punya keunikan yang enggak dimiliki bocah 10 tahun lain. Dia seniman tato pemula.

Noko bilang, “aku mau terus menjadi seniman tato saat dewasa nanti.”

Bisa dibilang dia seniman tato termuda di dunia. Noko belajar menato dari ayahnya Gakkin, seniman tato freehand terkenal. Mereka kini tinggal di Amsterdam, setelah pindah dari Osaka pada 2016.

VICE ngobrol bareng Noko lewat Skype pada Minggu pagi waktu Belanda. Poni lurus menutupi alisnya, sedangkan rambut panjangnya dikuncir berantakan. Saat itu, dia mengenakan sweatshirt motif dan anting besar. Gaya berpakaian Noko sangat hip dan modis untuk seusianya.

Profesi sang ayah dan bakat menggambar Noko menggiringnya masuk ke dunia tato-menato sejak kecil.

“Aku lupa kapan pertama kali menyaksikan ayah menato orang. Mungkin aku masih bayi waktu itu,” katanya tertawa.

“Ayah ibu mendukungku untuk terus menggambar dan menato. Dari situlah aku mulai [menjadi seniman tato]. Benar-benar menyenangkan.”

Di negara asalnya, seni tato masih dicap buruk dan dikaitkan dengan yakuza atau sindikat Jepang. Seniman tato bahkan kurang mendapatkan perlindungan. Aparat tak segan mengamankan siapa saja yang buka jasa tato tanpa izin medis. Orang bertato di Jepang kerap dilarang mengunjungi tempat umum seperti pemandian air panas, kolam renang dan pantai.

Meskipun demikian, orang tua Noko terus mendukung cita-cita anaknya. Gakkin sendiri berulang kali menepis pandangan negatif tentang tato dan pilihan Noko. Dia membebaskan putrinya bereksplorasi sesuai minat. Noko magang jadi seniman tato dengan ayahnya. Setelah belajar menggambar di buku, Noko mempraktikkan kemampuannya di kulit silikon dan boneka.

Noko mulai menato pada usia 6.

“Awalnya aku cuma menggambar burung dan kucing. Kami pernah memelihara burung pipit Jawa saat masih tinggal di Jepang. Namanya Komajiro, dan aku suka menggambar dia,” tuturnya. “Komajiro tato pertamaku.”

Siapa klien pertama Noko? “Ayah,” lanjutnya. “Aku enggak gugup sama sekali saat menato ayah.” Komajiro jadi tato favorit Gakkin.

Rasa gugupnya baru muncul setelah jasa Noko mulai dibayar. Seenggaknya ketika baru mulai.

“Aku takut dan gugup banget saat menato klien pertama. Aku gemetaran dan lambat menggambarnya,” Noko memberi tahu VICE. “Aku enggak boleh membuat kesalahan karena tato bertahan selamanya. Ini yang membuatku gugup.”

Noko sekarang sudah pintar mewarnai tato, yang menurutnya enggak begitu menegangkan. “Warnanya masih bisa dibenerin kalau ada yang salah, jadi proses ini lebih mudah,” dia mengaku sambil tertawa.

Dia terus menggambar burung dan mencari inspirasi dari buku Masterpieces: 150 Prints from the Birds of America yang dihadiahkan oleh seorang seniman tato. Buku John Hames Audubon itu melatih imajinasinya untuk menciptakan kreasi baru. Selain burung, Noko juga suka gambar kucing—yang kini menjadi pesanan favorit klien.

“Aku enggak punya kucing, tapi mereka lucu banget dan gampang digambar,” terang Noko. “Saat aku mulai menggambar kucing, ada klien yang memintaku menato gambarnya di tubuh mereka. Lama-lama makin banyak yang minta tato kucing. Aku semakin senang menggambarnya.”

Noko awalnya suka menggambar warna-warni karena hobi nonton serial anime sekelompok perempuan ajaib Pretty Cure. Kalau sekarang, dia lebih suka warna hitam seperti tato-tato yang dikerjakan ayahnya.

Tato Noko “dipengaruhi ayah ibu. Ibu sering membantuku.”

Dia juga menyukai desain tato Sasha Unisex yang warna-warni dan mirip cat air, serta Nissaco yang serba hitam dan “goresannya sangat detail”.

Akan tetapi, sang ayah tetap menjadi idola nomor satu Noko. “Ayah hebat bisa bikin tato besar di punggung orang. Bikin tato kecil saja aku sudah capek.”

Noko makin terkenal seperti ayahnya. Dia punya klien dari seluruh Eropa. Bookingannya juga penuh di konvensi tato pertamanya di Singapura. Ketika artikel ini terbit, dia habis menyelesaikan pesanan ke-35. Dia menato jamur hitam merah yang dibubuhi namanya.

Akun Instagram Noko—yang dikelola ibunya—dibanjiri komentar positif. 51.000 pengikutnya mendukung setiap perkembangan Noko. Beberapa bahkan minta dibikinin tato sama dia.

“Kamu kapan main ke Spanyol? Aku kepingin ketemu,” kata @ __yolandagarcia__

“Kita menyaksikannya tumbuh sebagai seniman,” bunyi komentar @ inconsistenseas.

“Gambarnya bagus banget. Aku suka sama desainnya Noko. Dia hebat sudah bisa bikin tato kustomisasi,” menurut @ alineleal13_.

Berhubung Noko masih sekolah, dia cuma terima jasa menato di studio Gakkin setiap Sabtu.

Noko sadar kalau tato masih tabu di Jepang. Dia harap ini bisa cepat berubah.

“Di Jepang, orang bertato dikira jahat. Padahal banyak banget yang tatoan di sini. Guru dan dokter saja punya tato,” katanya.

“Aku mau tatoan juga, tapi enggak banyak-banyak. Aku suka berenang dan pergi ke pemandian air panas. Aku heran kenapa orang tatoan di Jepang enggak boleh masuk situ,” renungnya.

“Aku harap orang tatoan di Jepang bisa nyobain pemandian air panas dan main di kolam renang ketika aku dewasa nanti.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.