Coronavirus

Coronavirus Terus Menyebar Sekalipun Ada Isolasi, Warga Wuhan Minta Tolong lewat Medsos

Lebih dari 3.000 orang terpapar virus itu di Cina saja, 81 tewas. Angka riil penularan bisa jauh lebih tinggi lagi. Rasa frustrasi pada pemerintah mulai disampaikan penduduk yang terdampak lewat Internet.
28 Januari 2020, 1:00am
Coronavirus Terus Menyebar Sekalipun Ada Isolasi, Warga Wuhan Minta Tolong lewat Medsos
Seorang petugas pabrik masker di Kyoto, Jepang memeriksa sampel produk mereka sebelum diekspor. Permintaan masker secara global meningkat akibat wabah coronavirus di Cina. Foto oleh Yomiuri Shimbun via AP.

Menteri Kesehatan Tiongkok memperingatkan warganya, serta delegasi internasional, bahwa epidemi coronavirus "terus meningkat dari segi sebaran penularannya." Pejabat setempat menyatakan, ada fakta baru bahwa virus ini bisa menular ke orang sehat tanpa harus ada persentuhan fisik ataupun gejala infeksi sebelumnya.

Seluruh provinsi di Tiongkok memperpanjang masa libur tahun baru Imlek menjadi tiga hari lebih lama, akibat penularan massif coronavirus jenis baru yang berbeda dari SARS ini. Dengan perpanjangan liburan, pemerintah berharap mobilitas warga dihambat, sehingga angka penularan virus dapat ditekan. Sejauh ini, data resmi menyatakan lebih dari 3.000 orang tertular virus tersebut, dan sedikitnya 81 orang tewas.

Angka penularan juga terpantau lebih cepat dari estimasi awal pemerintah. Selama Sabtu-Minggu pekan lalu, alias tak sampai 24 jam, otoritas kesehatan di Provinsi Hubei, dengan ibu kotanya Wuhan sebagai titik awal kemunculan wabah ini, mencatat ada 769 kasus pasien positif terjangkit coronavirus.

Selain mengisolasi Wuhan dan kawasan sekitarnya, menghentikan operasional semua transportasi umum, dan memperpanjang liburan agar penduduk diam di rumah, pemerintah Tiongkok juga meliburkan semua sekolah tutup sampai waktu tak ditentukan. Penjualan daging hewan liar juga dilarang keras selama masa karantina.

Kebijakan isolasi yang diberlakukan Tiongkok berdampak pada 50 juta penduduk dari 17 kota Provinsi Hubei, sebagai wilayah paling parah mengalami wabah coronavirus tersebut. Belum pernah terjadi sebelumnya, sebuah negara melakukan blokade total macam ini demi mengatasi penyakit menular, seperti yang dilakukan di Cina.

Coronavirus ini, menurut ilmuwan, punya karakteristik yang lebih berbahaya dari SARS. Keduanya virus yang bisa memicu sesak napas parah bagi penderitanya. Tapi coronavirus jenis baru ini (yang untuk sementara diberi kode 'nCoV') berbahaya karena sudah dapat menyebar dalam fase inkubasi.

Artinya, berbeda dari SARS atau ebola, pasien pengidap coronavirus bisa menulari manusia lain sekalipun belum menunjukkan gejala-gejala awal seperti panas, sesak napas, ataupun batuk. Orang yang terlihat sehat bisa menjadi penyebar coronavirus. Fakta tersebut membuat upaya penanggulangan penyakit jadi lebih sulit. Ilmuwan bilang, penderita nCoV bisa tidak menunjukkan gejala sakit apapun selama 14 hari. Dalam periode itu, tak terkira berapa manusia lain berisiko tertular.

Menteri Kesehatan Ma Xiaowei menyatakan, kemampuan virus itu menyebar meningkat seiring waktu. "Kami memperkirakan angka penularan wabah ini akan terus bertambah," ujarnya dalam jumpa pers. "Saya khawatir epidemi ini belum dapat berakhir dalam waktu dekat."

Pernyataan pesimis dari pemerintah Tiongkok diamini oleh Professor Gabriel Leung, Kepala Jurusan Kesehatan Masyarakat University of Hong Kong, yang sebelumnya sudah mengirim laporan terpisah pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam laporan independen itu, Leung memperkirakan bila angka penderita coronavirus dari Wuhan berisiko meningkat dua kali lipat tiap enam hari, mengingat langkah penanganan pemerintah setempat belum memadai. Apalagi vaksin baru tersedia paling cepat tiga bulan dari sekarang.

Penelitian Leung juga menduga angka pasien tertular yang dilaporkan masih jauh dari kenyataan di lapangan. Berdasar perkiraan yang disusun Leung dan timnya, pada 25 Januari seharusnya sudah ada 44 ribu kasus penularan coronavirus dari Wuhan.

Pemerintah Wuhan kini pontang-panting berusaha menangani wabah tersebut. Pemabngunan gedung rumah sakit anyar dikebut kurang dari 10 hari, demi menyediakan seribu ranjang tambahan untuk merawat pasien yang berjubel di RS lain. Pemerintah negara lain, di antaranya AS, Prancis, India, Korea Selatan, dan Australia yang warganya berada di kawasan Wuhan atau Hubei, berencana melakukan evakuasi memakai pesawat jet sewaan dalam waktu dekat.

Selain warga, kepanikan serta horor juga melanda tenaga medis di Wuhan dan kota-kota sekitarnya. Dokter dan perawat di sana kelelahan merawat pasien yang terus membanjir. Video kekacauan situasi RS setempat beredar di medsos. Dua hari lalu, dipastikan satu dokter yang berada di garis depan merawat pasien coronavirus meninggal akibat serangan virus yang sama.

Merespons situasi yang bertambah suram, ditambah isolasi yang membuat bahan pokok makin sulit didapat, sebagian warga mulai merasa frustrasi pada pemerintah setempat. Seorang anak muda dari Wuhan sampai membuat video untuk disebar kepada netizen di luar negaranya, demi meminta pertolongan internasional. Dia mengambil risiko diciduk pemerintah, dengan memakai VPN agar dapat mengunggah video yang bisa kalian lihat di bawah, melewati sensor internet ketat Tiongkok.

Video tersebut sudah ditonton lebih dari 500 rib kali. Pemuda itu mengatakan pemerintah setempat sebenarnya sudah sangat panik dan tidak sanggup lagi menghadapi wabah coronavirus. Upaya Beijing yang mengesankan penyebaran virus dapat dilakukan lewat isolasi, menurut si pemuda, hanya omong kosong. Ribuan orang, katanya, tidak mendapat perawatan kesehatan yang layak. Datang ke RS untuk minta pertolongan hanya seperti antre menunggu mati. Risiko makin besar untuk penduduk Wuhan yang punya penyakit berat seperti sakit jantung atau diabetes, dan harus datang ke RS setempat. Mereka justru bisa kena sakit tambahan, karena tertular coronavirus.

"Kalau kamu beruntung dan badanmu cukup kuat, mungkin kamu berpeluang selamat," ujarnya dalam video viral tersebut. "Tapi, kalau kamu dalam kondisi sakit, hampir pasti kamu mati. Bisakah kalian memberi contoh pemerintah yang lebih kacau dari Tiongkok menangani wabah seperti yang kami alami?"

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News