Penyiksaan Binatang

Nihil Pengunjung, Banyak Kebun Binatang di Indonesia Tak Mampu Beri Makan Hewannya

Hewan-hewan itu terancam kelaparan, terutama di bonbin swasta. Porsi makan hewan dan seberapa sering hewan dipakani berkurang.
28 April 2020, 6:21am
Ribuan hewan di Kebun Binatang di Indonesia Terancam kelaparan akibat corona
Orangutan menyaksikan petugas menyemprot disinfektan dekat kandangnya, di Bonbin Kampar, Riau. Foto oleh Wahyudi/AFP

Puluhan ribu hewan di kebun binatang seantero Indonesia terancam kelaparan. Absennya pemasukan dari pengunjung selama pandemi membuat kebun binatang kesulitan membeli makanan hewan.

Kepada The Jakarta Post, Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) mengaku udah melakukan survei dan mencatat 92 persen anggotanya (55 kebun binatang) di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Borneo hanya memiliki stok makanan hewan sampai pertengahan Mei.

Sisanya lebih mengkhawatirkan: tiga kebun binatang yang merasa mampu menyediakan makanan untuk satu hingga tiga bulan ke depan, dan hanya dua kebun binatang yang mengaku punya persediaan makanan untuk lebih dari tiga bulan.

Melihat prediksi paling optimis berakhirnya corona baru jatuh pada 6 Juni 2020, 55 kebun binatang ini harus putar otak untuk ngasih makan hewannya sejak pertengahan Mei.

PBSI menaungi lebih dari 70 ribu hewan dari hampir lima ribu spesies Indonesia dan dunia. Juru Bicara PKBSI Sulhan Syafi’i, diwawancarai The Jakarta Post, mengatakan tidak semua kebun binatang menerima uang dari pemerintah. Beberapa udah dimiliki swasta sehingga menggantungkan pemasukan utama dari penjualan tiket. Karena tiket kosong, hewan di dalamnya terdampak. Saat ini solusi darurat tahap satu sudah diambil: para hewan terpaksa dikurangi jatah makannya.

"Sebagai contoh, kami biasanya memberi makan macan tutul setip dua hari tiga sampai empat kilo [daging sapi dan domba]. Sekarang, kami ganti makananya menjadi daging sapi dan ayam. Harimau biasanya makan enam hari seminggu, tapi sekarang kami hanya ngasih makan lima hari. Mungkin saja nanti kami akan kurangi jadi empat hari seminggu kalau kondisinya tetap seperti ini," ujar Juru Bicara PKBSI Sulhan Syafi’i kepada The Jakarta Post.

Sekjen PKBSI Tony Sumampau mengatakan anggotanya sebenarnya sudah punya rencana untuk kejadian-kejadian tidak terduga, tapi cuma untuk satu sampai dua bulan. Sedangkan saat ini, sudah hampir sebulan sejak kebun binatang diminta tutup akibat PSBB.

Salah satu Kebun binatang yang masih beruntung dapat subsidi adalah Ragunan di Jakarta. Humas Kebun Raya Ragunan Wahyudi mengatakan sampai saat ini semua binatang dan karyawan dalam kondisi normal.

"Kondisinya baik-baik semua hewannya, kan Ragunan punya anggaran sendiri soal makanan, sudah disubsidi oleh Pemprov DKI, jadi enggak ada masalah dengan itu [makanan]. Untuk pegawai ya tetap masuk, memberi makan satwa, membersihkan kandang seperti biasa. Namun, mereka dijadwal ya, shifting dua hari libur, dua hari masuk," ujar Wahyudi kepada Liputan6. Kini, pihak Ragunan mengaku hanya tinggal menunggu instruksi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk kembali beroperasi.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indra Exploitasia mengaku sedang mengusahakan bantuan berupa pengenduran pajak kepada para pengusaha kebun binatang. Indra mengaku udah menyurati Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri terkait ini.

Namun, Indra tetap membuka kemungkinan terakhir bahwa kalau emang masih mengalami kekurangan makanan, maka hewan pemakan rumput bisa dikorbankan untuk dimakan hewan pemakan daging. Dengan catatan, hewan yang dikorbankan tidak boleh yang langka dan dilindungi.

"Ini cuma akan jadi cara terakhir. Kita tidak mau itu terjadi, kita berharap pandemi ini cepat berakhir," kata Indra.

Medan Zoo, sebuah kebun binatang di Medan, Sumatera Utara, termasuk salah satu kebun binatang swasta yang enggak dapat subsidi pemerintah. Alhasil, mereka mengambil inisiatif sendiri agar tetap mampu memberikan makan binatangnya di tengah kondisi tanpa pemasukan. Karyawan Medan Zoo dilaporkan melakukan penggalangan dana mandiri.

"Penggalangan dari medsos, kalau ada yang mau ngasih kita jemput. Karena sekarang masih ada anjuran untuk stay at home, pengumpulan dana terkendala juga karena itu. Karena biaya makan hewan dan gaji pegawai hanya mengandalkan dari karcis, tidak ada APBD. Sekarang [jadinya] mohon sana-sini dan sebagian pinjam," kata Dirut Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan Kota Medan Putrama kepada Detik.