Fariz RM x Diskoria: Kolaborasi Membangkitkan Disko Nasional
Fariz RM saat beraksi di Suara Disko Vol.4. Semua foto oleh penulis.

FYI.

This story is over 5 years old.

Musik

Fariz RM x Diskoria: Kolaborasi Membangkitkan Disko Nasional

'Cinta Ditolak Disko Bertindak!' akan jadi jargon baru anak muda yang sedang gandrung menjamah lagi pop dan disko klasik Indonesia di lantai dansa.

Poster bernada merendahkan terpampang di sebuah klub yang sedang hip di Jakarta Selatan sembilan tahun lalu. "Dilarang Keras Memainkan Musik Indonesia Kalau Tidak Ingin di-banned."

Lagu Indonesia dianggap tidak layak dipakai ber-disco, atau cenderung dapat membubarkan crowd. Merdi Leonardo Simandjuntak dan kawannya Fadli Aat ingat betul kalimat menohok itu, yang membuat mereka semakin bertekad mendalami musik Indonesia. "[Poster itu] jadi semacam trigger ingin membuktikan bahwa crowd bisa dibuat jogetan pakai lagu Indonesia," kata Merdi saat dihubungi VICE Indonesia.

Iklan

Kini, tekad keduanya mulai membuahkan hasil. Lantai dansa di Baxter Smith, Senopati, menggila awal bulan ini. Musisi legendaris Fariz RM ada di panggung menyajikan nomor-nomor klasiknya, terutama ketika track "Barcelona" dan "Selangkah ke Seberang" berkumandang dari sound system. Deretan lagu itu membawa semua orang yang hadir serasa mengendarai mesin waktu menuju Jakarta dekade 80-an, suasana dansa-dansi ketika mesin politik Orde Baru masih kuat mencengkram masyarakat dan pelarian terbaik bagi kelas menengah perkotaan adalah ajojing dari malam sampai pagi.

Gelaran Suara Disko Vol. 4 dengan penampilan utama Fariz RM itu merupakan acara kesekian yang digagas Kolektif Diskoria. Acara-acara mereka berhasil mendapat sambutan positif pecinta dansa Ibu Kota yang butuh suguhan alternatif dalam kancah clubbing setelah sekian tahun sekadar mengekor tren terbaru musik elektronik Barat. Pada pentas malam itu, Diskoria turut menemani Fariz di atas panggung, membawakan repertoar lagu-lagu pop/disko klasik Indonesia.

Diskoria adalah duo DJ asal Jakarta yang memiliki kesamaan hobi mengoleksi piringan hitam klasik Indonesia. Merdi dan Aat berasal dari lingkar pertamanan yang sama. Gara-gara bokek setiap beli piringan hitam, keduanya justru semakin nyambung mengulik arsip pop lawas Indonesia. "Akibat mahalnya piringan hitam musik rock lawas pada saat itu akhirnya kami coba mendengarkan musik lawas lokal yang harganya masih terjangkau oleh kami, yaitu musik pop," kata Merdi. "Dari sana kami menemukan bahwa dari album-album pop lawas tersebut, setidaknya dari tiap album ada 1-2 lagu yang ternyata bisa dibawa 'joget'. Kami pelan-pelan mulai memasukkan lagu-lagu temuan kami itu di set DJ kami."

Iklan

Duo Diskoria saat beraksi dalam gelaran Suara Disko Vol.4.

Ide memakai nama Diskoria berasal dari lagu besutan grup Indonesia era 70-an Tita Sister yang berjudul "Disco Ria". Merdi bilang sebetulnya pemilihan sekadar iseng saja. "Mungkin satu-satunya yang kami sesali hanyalah kenapa Ria Jenaka sudah ada yang pakai, padahal kami suka sekali nama itu," ujarnya sambil tergelak.

Semangat zaman Indonesia pada kurun 1979-1982 pun ikut mempengaruhi estetika Diskoria sebagai kolektif musik, sebut saja soundtrack film Badai Pasti Berlalu dan juga pentas legendaris sendratari Swara Maharddhika yang digagas Guruh Soekarno Putra. Kekayaan musik Indonesia dan kapasitasnya untuk menggoyang lantai dansa inilah yang kemudian menjadi inspirasi utama Diskoria yang berusaha memperkuat rasa cinta akan musik dansa Nasional. Visi itu kemudian terejawantahkan dalam bentuk tema-tema pesta unik. Misalnya "Dansa Yuk Dansa"—upaya perdana Diskoria menggelar acara Suara Disko dua tahun lalu—atau "Pesta Joget Remaja" di tahun yang sama.

Fariz dipilih menjadi bintang tamu untuk gelaran Suara Disko Vol.4 karena Diskoria merasa musisi senior itu memiliki 'groove' yang mampu menggerakkan massa. "Fariz RM adalah idola kami berdua dari sejak lama. Kami selalu kagum dengan karya-karya beliau," kata Merdi. Saat Fariz tersandung masalah penyalahgunaan narkoba dua tahun lalu, Aat sengaja datang ke sidang memberi dukungan. Diskoria sampai membuat stiker bertuliskan 'Free Fariz' yang disebar ke banyak orang untuk menggalang solidaritas.

Iklan

Musisi 58 tahun yang menguasai berbagai instrumen musik itu mengapresiasi dukungan Diskoria dan langsung mengiyakan saat memperoleh tawaran manggung bersama. "Diskoria ini datang dengan konsep mengusung musik dansa nasional, wah saya langsung terkesima. Anak-anak ini berani sekali," kata Fariz saat dihubungi terpisah.

Proses kerja sama mereka terasa sangat luwes dan natural. Fariz merasa Diskoria memiliki kejelian melihat peluang dan memancing generasi sekarang menikmati karya musik yang boleh dibilang lintas generasinya terpaut dua tingkat. "Saya melakukan riset dan merencanakan produksi bersama Diskoria, mengkompilasi lagu-lagu dansa Fariz yang belum banyak disadari penggemar," kata Fariz.

Merdi terkejut, reputasi Fariz rupanya tidak menghalanginya bergaul akrab dengan musisi yang jauh lebih muda seperti mereka. "Setelah kenal, beliau justru sangat santai dan cenderung membebaskan kolaboratornya untuk berkreasi, bukan malah mendikte ini itu," ujarnya.

Selaku musisi senior yang sudah berkutat lebih dari tiga dekade mendalami kancah pop dan dansa, Fariz yakin sebenarnya genre ini punya basis penggemar potensial di Tanah Air. Kerja sama bersama Diskoria ini kemudian akan dilanjutkan dengan pembuatan album yang sementara ini diberi tajuk "Fariz RM Groove Collection". Fariz optimis proyek kolaborasi itu bisa memperoleh sambutan hangat. "Sekarang pasar mulai jenuh dengan klub-klub dan mulai mencari musik (dansa) Indonesia."