Berita

Beberapa Warga Negara Indonesia Menjelaskan Pada Kami Alasan Tak Suka Sosok Trump

Jadi kesimpulannya, sebagian orang di Indonesia benar-benar khawatir membayangkan prospek Amerika Serikat dipimpin Donald Trump. Bukan cuma ikut-ikutan tema populer di Internet.
10.11.16
Foto: Carlo Allegri/ Reuters

Foto oleh: Carlo Allegri/ Reuters

Anda pasti sudah melihatnya—postingan teman-teman anda di media sosial meratapi kemenangan tak terduga dalam pilpres Amerika Serikat. Sebagian dari kalian barangkali bikin postingan serupa. Ada komentar, meme, atau postingan bikin ngakak, ada pula yang nyinyir. Pastinya, lebih banyak orang Indonesia yang tampaknya marah dan keki.

Bagi kita warga indonesia, apakah riuh rendah ini sekadar empati di dunia maya untuk kawan-kawan di Negeri Paman Sam sana? Apakah ini malah semacam kebingungan massal? Apakah Amerika baru versi Trump bakal benar-benar memberi dampaknya bagi kita di Indonesia? Atau, apa warga indonesia yang ikut bersedih melihat hasil pemilu AS sebetulnya paham alasan ikut-ikutan seneng atau ngambek seusai Trump menang?

Iklan

Kami bertanya pada beberapa warga Indonesia yang mengunggah kekecewaan atau kemarahan mereka pasca Trump berjaya di media sosial masing-masing. Ini jawaban mereka atas pertanya kami, "Kira-kira apa yang terjadi pada anda dan Indonesia ketika Trump menjadi orang terkuat di AS?"

Grace Susetyo (Travel Writer)

Sebagai negara superpower, Amerika adalah acuan bukan hanya dalam bidang ekonomi dan teknologi, namun juga dalam perihal kewarasan moral. Di masa ketika banyak permasalahan sospol di Indonesia seperti mewujud dalam diri Trump, saya waswas jangan-jangan warga Indonesia akan menurunkan standarnya dalam memerangi kedegilan (bigotry), rasisme, seksisme dan intoleransi beragama, kekebalan hukum militer dan hukum pelindung kaum berada yang menginjak-injak kaum papa. saya merasa kita mundur satu langkah dalam usaha membuat indonesia manusiawi lagi, cuma gara-gara Negara Paman Sam telah melego kemanusiaan dengan dalih "making America "great" again."

Muhammad "Gonzo" Fahri (Penerjemah)

Well, saya sih berharap Trump gak bakal seenak udelnya mengancam atau mengobral embargo pada negara-negara islam, cuma gara-gara dia gak suka Islam. Dan saya berharap gak main-main dengan senjata nuklir—ini yang paling saya khawatirkan. Trump gak gampang ditebak. Dia bisa berbuat apa semaunya dengan semua kuasanya? semoga pemimpin Indonesia gak gampang mengamini semua yang keluar dari cocot Trump.

Eka Annash (Vokalis The Brandals)

Tunggu saja 9/11 episode II. cuma kali ini lebih gede…

Mira Sumanti (Karyawan Swasta)

Karena saya bekerja di sebuah perusahaan Amerika, saya sempat menimbang-nimbang untuk pindah ke AS untuk tugas saya selanjutnya. Namun, setelah Trump jadi presiden, saya mikir-mikir lagi deh. Dengan Brexit di Inggris dan Trump di AS, tinggal di Asia adalah pilihan paling tepat.

Dwiputri Pertiwi (Penulis & Guru Bahasa Inggris)

Yang bikin saya khawatir bukan kemenangan Trump tok, namun lebih pada bangkitnya kaum sayap kanan di berbagai belahan dunia—termasuk Indonesia. Hasil akhir pemilu AS cuma sucuplik bagian dari sebuah masalah yang besar. Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. ini saya sudah cukup buat memicu masalah AS, terutama kalau kita memerhitungkan gelombang diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Satu lagi yang saya khawatirkan adalah kemungkinan menurunnya jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di AS. alasannya, bukan karena mereka enggan belajar di sana, namun juga proses aplikasi bakal jadi lebih pelik. Kalau pun mereka diterima, mereka akan menghadapi beragam diskriminasi. Beberapa kampus terbaik di dunia ada di AS. Namun, tampaknya kerja sama dengan universitas-universitas AS akan makin rumit.

Iin (pelajar, tak bersedia disebut nama lengkapnya)

Akan susah bagi kami, terutama yang beragama Islam, untuk mendapatkan Visa ketika hendak bepergian ke Amerika Serikat.

Wahyu Acum Nugroho (Bassit-Vokalis band Indie-pop Bangkutaman, Wartawan entertainment)

Bakal banyak musik-musik keren. Bakal banyak demonstrasi dan kerusuhan di AS, tapi musik, film dan konser yang penuh muatan kritik dan protes juga akan bermunculan. Agendanya jelas: sikat terus Trump. Dampaknya akan terasa ke ranah musik di Indonesia. Terus, gig-gig musik di tempat macam @atamerica (terletak Pacific Place mall) bakal dihentikan. Trump gak terlalu suka musik kayak Obama.

Ishak Tanoto (Pelaku Bisnis, CEO 5Beat)

Bagi saya, ini rasanya seperti Joker dari komik DC jadi presiden. Semuanya bakal susah diduga dan keadaan bakal makin brengsek. Saya rasa kemenangan Trump bisa diartikan dengan bermacam cara di Indonesia. Kita belum tahu seperti apa kebijakan ekonomi luar negerinya, jadi kita tunggu saja.

Keluarga saya yang tinggal dan punya kewarganegaraan AS—karena mereka penganut Kristen yang taat— memilih Trump. Alasannya? karena seperti Trump, mereka juga menentang perkawinan kaum gay, legalisasi ganja. Jadi bagi mereka, memilih calon konservatif baik bagi masa depan Amerika. Mereka lagi seneng-senengnya sekarang.

Anonim (PNS)

Belum ada dampak langsung kemenangan Trump pada kita karena Trump belum resmi menjabat. Namun dengan dukungan DPR, Senat dan Partai Republik, akan makin gampang bagi Trump untuk menggelontorkan ide-ide gilanya. Pernyataan Trump tentang senjata nuklir "kalau kita punya, terus kenapa gak dipakai?" dan larangan bagi muslim masuk ke AS jelas menyeramkan. Ini menunjukkan tendensi balas dendam dan sikap emosional dalam diri Trump.

Yopie Rifqy Fauzi (Analis Biaya Travel)

Dolar diramalkan bakal anjlok. Jadi ini, kalau ini kejadian, gue bakal shopping gila-gilaan.