Begini Rasanya Tinggal dan Tumbuh Besar di Banda Aceh

Aceh sering dijuluki "Serambi Mekkah," padahal aslinya Aceh sangat tidak mirip Arab Saudi.
29.11.16

Banda Aceh sering masuk berita, meski berita tentang kota saya ini kebanyakan bernada negatif. Saya tak akan menyalahkan siapapun. Barangkali bagi para jurnalis luar, yang patut diliput dari Aceh cuma satu: penerapan syariat Islam. Akhirnya pemberitaan tentang Banda Aceh tak jauh-jauh dari pelaksanaan hukuman cambuk, pembakaran gereja, aturan ketat soal pakaian wanita, larangan nongkrong di tempat tertentu bagi wanita, lalu yang paling dahsyat, larangan ngangkang saat naik motor bagi—lagi-lagi—perempuan. Aceh juga dikenal sebagai tempat anak punk dirazia, digunduli, dan diajak kembali beragama (Makasih buat liputannya lho VICE :P). Singkatnya, Banda Aceh, kota yang saya sayangi, punya kesan kurang mengenakkan di media massa dalam maupun luar negeri.

Persepsi buruk tentang kota saya kadung mengakar di pikiran banyak orang. Saya masih ingat seorang teman pernah bertanya "Bro, kalau gue ke Aceh dan gue punya tato, gue harus pakai kaos lengan panjang ya?" Dia pikir bakal dirazia karena punya tato. Tapi, saya memakluminya. Kalau semua berita tentang Aceh bernada negatif, wajarlah orang luar pelan-pelan ketakutan.

Jadi, benarkah kehidupan di Banda Aceh serepresif itu? Jawabannya: engga segitunya kok. Biar saya beritahu apa saja yang gampang anda temukan di jalanan Banda Aceh: perempuan mengenakan skinny jeans, perempuan naik motor sepuasnya, anak punk yang nongkrong di Museum Tsunami Aceh lengkap dengan anting, rantai, dan jaket berduri; serta tentunya pemuda-pemudi melek fashion keluyuran semalam suntuk.

Jilbab memang wajib dikenakan perempuan sesuai hukum syariah Aceh. Tapi, banyak kok perempuan yang santai saja keluar rumah tanpa jilbab. Alkohol termasuk barang haram di Aceh. Tapi larangan ini tak bikin anak muda pemberontak Aceh ciut. Mereka woles saja tuh menyeruput bir—botolnya disembunyikan di balik kantong kertas—di bawah sengatan sinar matahari tropis. Banyak dari mereka santai minum bir di hadapan penduduk Aceh yang lalu lalang. (Saya sih tidak menyarankan anda mencobanya. Saya cuma mau bilang, ada lho yang senekat itu.)

"Kini, kami bebas. Kami ingin merasakan segala yang dulu tak bisa kami rasakan." - Tiara

Tapi tunggu, bagaimana dengan Wilayatul Hisbah alias polisi syariah Aceh? Mereka memang bakal mengulurkan sarung jika jeans-mu terlalu ketat atau jilbab jika anda kedapatan keluar tanpa kerudung. Tapi yang kayak gini cuma terjadi kalau mereka sedang menggelar razia. Selebihnya, mereka pura-pura menutup mata saja terhadap semua pelanggaran yang kalian buat. Mereka memang ditugasi berpatroli ke seluruh wilayah Banda Aceh, tapi kan mereka tidak harus menindak semua pelanggaran yang mereka lihat di jalanan.

Asal anda tahu, saya sering keluar rumah mengenakan celana pendek—tentu saja termasuk pelanggaran hukum syariah Aceh—dan saya sering berpapasan polisi Syariah di jalan. Kalau ini terjadi, kami cuma saling pandang. Setelah itu, kami jalan terus. Tak ada yang menyuruh saya push up sepuluh kali; tak ada yang memberi saya kultum tentang hukum syariah.

Sejatinya, hidup kami normal-normal saja di Banda Aceh. Seperti penduduk kota lain, kami punya pekerjaan dan memiliki kendaraan. Kami juga bisa santai nongkrong di kafe semalam suntuk; kami bersekolah tanpa harus khawatir diceramahi bahwa pendidikan terlarang bagi perempuan.

Ada yang bilang Banda Aceh sebelas-duabelas sama Arab Saudi. Ngawur!

Kami tidak melarang perempuan keluar rumah tanpa seizin suami. Kami tidak memburu kaum LGBT hanya karena mereka gay. Mayoritas penduduk Aceh menganut Islam mazhab arus utama di negara ini. Memang penerapan hukum Islam di Aceh sangat ketat, tapi—boleh percaya boleh tidak—banyak orang Aceh mengganggap segala yang dilarang hukum syariah belum tentu haram.

Penulis saat masih anak-anak.

Ada beberapa hal tentang Aceh yang harus anda ingat. Provinsi di ujung pulau Sumatra ini pernah melakukan perlawanan 30 tahun terhadap pemerintah Indonesia. Kami berusaha memerdekakan diri. Orang tua saya pernah sangat khawatir, melarang saya keluar rumah setelah petang. Takutnya saya akan jadi korban kekerasan bersenjata yang dapat meletus sewaktu-waktu. Kami dulu menyangka perseteruan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI tak akan pernah selesai. Bencana tsunami mengubah takdir Aceh selamanya.

Pada 26 Desember 2004, gelombang tsunami dahsyat menyapu Aceh, memakan korban lebih dari 170.000 jiwa. Kota-kota di Aceh porak poranda. Setengah juta penduduk Aceh kehilangan tempat tinggal.

Saat gelombang tsunami melanda Banda Aceh, saya sedang di rumah. Di luar, saya melihat orang berlarian di jalanan. Saya membatin "ini pasti kiamat." Kami bergegas mencari dataran tinggi. Saya tinggal di perbukitan sebulan lamanya. Kehancuran akibat tsunami di daerah dekat pantai tak terbayangkan. Saya melihat ratusan mayat dijejer begitu saja di jalan. Beberapa teman saya selamat dari gelombang tsunami. Sisanya tak seberuntung kami.

Salah satu ruas jalan di Banda Aceh beberapa hari setelah tsunami. Sumber foto dari the U.S. Federal Government/Wikimedia Commons

Pascatsunami, muncul pergeseran pola pikir warga Aceh. Ada yang mendadak lebih penting dari perang: membangun kembali Aceh. Selang setahun dari bencana itu, perjanjian perdamaian ditandatangani oleh pihak GAM dan pemerintah Indonesia. Dalam perjanjian ini disepakati bahwa Aceh boleh menerapkan hukum Syariat.

Perjanjian damai ini memberi kami kesempatan memulai kehidupan baru di Aceh. Tapi, ada yang harus kami bayar: kami hidup dalam beragam peraturan yang kaku.

"Semuanya berubah setelah bencana Tsunami merampas segala yang kami punya," ujar Tiara, salah satu kawan saya. "Sejak saat itu, kami memulai lembaran hidup baru. Selama konflik Aceh, kami membatasi diri karena kondisinya begitu pelik. Kini, kami bebas. Kami ingin merasakan segala yang dulu tak bisa kami rasakan. Berita bagusnya: kami makin terbuka, semakin berani dan punya harapan. Sayangnya, jauh di dalam sana, kami sangat rapuh, keras kepala, dan gampang berprasangka kepada orang lain."

Kini, 11 tahun berselang setelah konflik Aceh berakhir. Dampak perang tak begitu terlihat di Banda Aceh seperti di kota-kota lain, tapi masih ada hal yang mengganggu saya. Salah satunya, Banda Aceh belum punya bioskop. Memang pernah ada sebuah bioskop tua di Aceh. Dulu, jam buka bioskop dibatasi karena konflik rutin berkecamuk. Malangnya, ketika kami mulai membangun kembali Banda Aceh selepas tsunami, para ulama Aceh sudah buru-buru menganggap bioskop sebagai ladang subur perzinahan.

Anda pasti tahu cerita selanjutnya: bioskop batal direnovasi dan peristiwa macam ini yang bikin citra negatif Aceh makin menancap di otak banyak orang.

"Media internasional menggambarkan Aceh sebagai sebuah provinsi fundamentalis, tapi mereka luput menilik kehidupan sehari-hari kami dan berbagai bentuk pembangkangan kecil-kecilan yang kami lakukan," kata Raisa, peneliti dan pengarsip dari Kolektif Akar Imahi. "Generasi saya tumbuh melewati masa konflik, tsunami, dan kini hukum syariah. Engga gampang merawat harapan di Aceh. Dulu, selama konflik, masih hidup saja sudah disyukuri. Belakangan, saya menemukan harapan setelah kerap menggelar kegiatan yang menunjukkan cara hidup alternatif. Bentuknya macam-macam seperti pemutaran film, gig musik atau diskusi publik."

Awalnya perkara syariah ini memang lumayan bikin pusing. Setelah beberapa lama, saya mulai hidup dengan santai dan mendapati hal-hal yang membuat Banda Aceh begitu unik. Saya menemukan sisi menyenangkan dari budaya kami. Kami menyebutnya Peumulia Jamee—terjemahan harfiahnya menghormati tamu. Saat pengungsi Rohingya sampai di pantai Aceh, kami menyambut mereka dengan tangan terbuka.

Tentu saja, jangan sampai anda lupa, kami punya ragam kuliner yang luar biasa sedap: martabak telur. Kalau masih kurang, anda bisa menikmati nongkrong di kedai kopi yang tak terhitung jumlahnya di Banda Aceh.

Intinya, tak ada kota yang bersih dari masalah. Saya menghabiskan seluruh hidup saya di Banda Aceh. Di kota inilah saya tinggal dan tumbuh besar. Saya tak berencana meninggalkannya.

Teuku Fariza aktif menulis tentang musik, perjalanan hidupnya, serta mencurahkan perhatian khusus untuk isu-isu seputar hardcore/punk. Dia mengelola bisnis booking label. Follow dia lewat akun Twitter @Teuku_Fariza.