FYI.

This story is over 5 years old.

Nostalgia

Ending Serial 'Ksatria Baja Hitam RX' Adalah Lagu Emo Terbaik Dalam Hidupku

Kesendirian. Baju zirah superhero. Jagoan berjalan pelan ke arah kamera. Penutup serial 'Kamen Rider Black RX' ini punya semua unsur sebagai anthem emo sepanjang masa.

Bagi mereka yang menghabiskan masa kecil di dekade 90-an, menonton Ksatria Baja Hitam RX (atau judul aslinya Kamen Rider Black RX) adalah sebuah keharusan. Jagoan tokusatsu ini—genre untuk seri pahlawan bertopeng dalam budaya televisi Jepang—di Indonesia menyamai popularitas serial Power Rangers, yang masuk kategor Super Sentai. Tokoh utama Ksatria Baja Hitam, Kotaro Minami, adalah panutan anak-anak Indonesia. Dia alasan saya dan teman-teman sekampung membolos madrasah sore. Kotaro adalah juru selamat anak kecil di manapun, pahlawan berbaju zirah dengan motif belalang yang melawan kezaliman alien di dunia.

Iklan

Ksatria Baja Hitam RX tayang setiap Selasa dan Jumat, pukul 5 sore di RCTI. Acara populer ini tayang pertama kali pada 1994. Kamen Rider RX punya andil besar dalam hidup saya, peran yang tak bisa digantikan serial televisi manapun. Berkat serial ini, saya akhirnya mengenal tradisi berburu action figure yang harganya mahal engga ketulungan, serta memperoleh lagu emo pertama dalam hidup: lagu closingnya yang begitu sendu.

Tentu saja, ketika mencatut istilah "emo", saya tak sepenuhnya setia pada definisi emo yang dipahami banyak orang—cabang hardcore dengan lirik personal dan penuh curahan hati. Yang saya maksud emo di sini juga bukan musik-musik yang seperti dirilis oleh Jade Tree Records. Jika tulisan ini dianggap penistaan terhadap emo, terserah! (Anda boleh bikin gerakan bela emo 101017 kalau mau).

Alhasil, saya woles saja menganggap closing Kamen Rider RX—musiknya cenderung synthpop bukan punk—sebagai lagu emo. Tapi, kita semua agaknya akan bersepakat, bahwa lagu ini menyesakkan dada para pendengar, seperti setiap lagu emo yang berhasil. Lagu penutup ini muncul setiap kali Kotaro selesai menghabisi musuhnya, cecunguk Kekaisaran alien, Crisis, yang ingin menguasai dunia.

Penonton Indonesia terhitung mujur, setidaknya terjemahan lirik lagu penutup Ksatria Baja Hitam RX tidak sekacrut opening Dragon Ball Z di Indosiar. Kita bisa menangkap keseluruhan lirik yang bicara tentang kesepian yang dihadapi para Kotaro Minami, baik sebagai pahlawan maupun sebagai pribadi.

Iklan

Lirik pertama lagu ending ini langsung nampol, menyorot kesendirian. "Dalam pertarungannya seorang diri/pada waktu lelah jatuh terdesak." Saya jadi memahami beban menjadi seorang Kotaro sulit ditanggung—terpaksa berjuang sendiri, musuh datang silih berganti, dan tak bisa curhat suka dukanya jadi superhero kepada pacarnya Reiko.

Setelah itu, syair lagu bukannya berubah lebih heroik, malah menukik jadi melankolis tak ketulungan. "Sepi hati ini/semilir angin bertiup sepoi-sepoi." Memang, ada sedikit penghiburan di bagian chorus "seseorang di sana mencintaimu." Dulu, kalimat macam ini mungkin bikin bocah kemarin sore nyengir. Sekarang, kalimat seperti ini biasanya cuma tipu-tipu yang keluar dari bacot para motivator.

Intinya, lagu ini sendunya keterlaluan.

Saya dan teman-teman akan segera berlari menuju masjid untuk salat maghrib dan mengaji, setiap kali lagu ini berkumandang. Hal yang sama mungkin dialami anak-anak lain era 90-an di Indonesia. Alhasil, ending Ksatria Baja Hitam RX ini kalah populer dibanding lagu pembukanya. Untuk opening-nya masih banyak orang yang hafal. Tak heran bila seniman visual Youtube kenamaan, Fluxcup, menggubah parodinya yang sangat-sangat jahil.

Banyak orang mungkin tak menganggap penting lagu penutup Ksatria Baja Hitam RX, karena toh puncak setiap episodenya adalah ketika Kotaro menyudahi lawannya dengan pedang matahari. Kami bahkan tak pernah bertanya apakah pedang matahari sekali pakai atau bisa kembali dimasukkan ke perut RX.

Meski demikian, saya bersyukur lagu penutup serial ini tak populer-populer amat. Setidaknya tak banyak orang, seperti saya di masa kecil dulu, bisa mengenal kesepian yang dialami orang dewasa. Gara-gara lagu ini, saya yang masih ingusan menyadari bahwa ketika hidup begitu berat, begitu menyebalkan, saya bisa merasakan beban yang sama sedang ditanggung Kotaro Minami (setidaknya setiap dua kali seminggu).

Saya kini akan pongah mengatakan pada setiap orang: "Mendengar penutup Kamen Rider RX itu sama emonya dengan menyisir rambut ke pinggir, memakai flannel & jeans ketat, serta menyanyikan penggalan lirik lagu Finch 'What It is to Burn' penuh gaya."

"…like a bad star, I am falling faster down to her!'"