Dade Memimpin Revolusi, Mengubah Warteg Menjadi Masakan Kelas Atas
Semua foto oleh penulis

Dade Memimpin Revolusi, Mengubah Warteg Menjadi Masakan Kelas Atas

Dade Akbar mengelola akun Instagram Warteg Gourmet yang menyodorkan imajinasi penataan kontemporer terhadap makanan pinggir jalan. Dia terdorong melakukannya justru ketika kangen kerupuk, sambal tomat, dan mangkok ayam di luar negeri.
23.12.16

Sejak pagi, Dade Akbar sudah sibuk memegang kamera. Dia bolak-balik mengatur susunan panganan ketoprak di meja dapur kediamannya di Cinere, Depok. Dia mengutak-atik penataan kerupuk, tahu, sampai bumbu kacangnya. Setelah merasa puas melakukan sentuhan ulang, dia memotret beberapa kali. Sepiring ketoprak seakan menjadi menu berbeda; menjadi sangat fotogenik.

Sinar matahari temaram masuk melalui jendela pada kamar, sampai di dapurnya. Dade tak perlu tambahan lampu untuk sesi pemotretan itu.

"Elo engga kerja hari ini?" tanya saya pada Dede. Pertanyaan saya cuma ditimpali gelengan kepala dan tawa.

Dede pernah bekerja sebagai seorang art director perusahaaan periklanan. Kini, hari-harinya dihabiskan menggeluti makanan. Namanya mulai dikenal lewat proyek di Instragram berjudul "Warteg Gourmet". Lewat akun tersebut, Dede menunjukkan kepiawaiannya menyulap sajian yang normalnya kita temukan di warung tegal, makanan rumahan yang mudah ditemui di manapun, menjadi makanan terkesan disajikan dalam jamuan fine dining restoran kelas atas.

Warteg Gourmet dimulai dua tahun lalu sebagai proyek suka-suka, pengisi waktu luang Dede selama istirahat makan siang. Dede memesan makanan dari warteg dekat kantornya. Dia selalu minta agar nasi dan lauk yang dipesannya ditaruh di piring yang berbeda. Lama-lama, dia tergerak mengutak-matik proses penataan (plating) masakan warteg itu. Dia bereksperimen dengan tekstur, warna dan bentuk makanan, tapi tidak dengan rasanya.

Tingkah laku unik Dede ini jelas bikin penjaga warteg langganannya garuk-garuk kepala. Belum lagi, Dede kerap merepotkan mereka karena selalu meminta setiap bagian lauk yang dia pesan dibungkus terpisah. Di mata Dede, makanan yang dipesannya punya satu fungsi: bikin perutnya kenyang. Namun sejak lama, tanpa pernah dia bicarakan dia siapapun, dia meyakini sajian warteg bisa disajikan penuh gaya tanpa harus menghapus fungsi utamanya sebagai pengisi perut.

"Gue percaya tampilan makanan bisa enhance rasanya," kata Dade.

"Sesering itu elo makan di warteg?" saya menimpali pernyataannya.

"Karena dulu pas makan siang  di kantor, gue pengennya makan, gue engga pingin makan gaya," jawab Dede.

Jumlah like yang diperoleh foto-foto makanan yang diunggah Dade di Instragam melonjak dari cuma puluhan hingga jadi ribuan. Kebayakan follower terkagum-kagum menyaksikan cara Dede menata ulang sajian khas warteg. Sejak itu Warteg Gourmet  tumbuh dari sekadar akun sosial media yang memamerkan imajinasi ulang sajian warteg, menjadi layanan kuliner beserta beragam bisnis turunannya. Mulai dari penyelenggara event fine dining tertutup, konsultan restoran, food styling, hingga jadi pembicara seminar.

Setelah benar-benar terjun dalam dunia kuliner, Dade tak sekalipun mendaku sebagai seorang chef. Kendati begitu, kemampuan masak Dade dalam menggunakan perkakas dapur tak bisa dipandang sebelah mata. Tapi, yang dia inginkan adalah menyajikan masakan warteg tetap dalam rasa asli, menggunakan sentuhan penataan kontemporer. Dia yakin rasa masakan warteg atau kuliner pinggir jalan lainnya di Indonesia sudah cukup punya ciri khas.

"Jadi Warteg Gourmet itu lebih ke ide, state of mind, atau bahkan sebuah movement," tutur Dade. "Instagram cuma buat platform gallery karya gue."

Kecintaan Dade terhadap ragam kuliner yang kerap dipandang terlalu pinggiran, kelas bawah, mulai tumbuh ketika bermukim di Singapura selama empat tahun. Di Negeri Singa itu, Dade kesulitan menemukan bahan buat memasak makanan resep sang ibu. Kadang, Dade harus berkeliling kota, menyambangi berbagai toko bahan makanan Asia, untuk sekedar menemukan bahan yang dia cari.

Ketika akhirnya pulang ke Indonesia, Dade justru menjumpai kenyataan berbeda. Segala sesuatu yang penting dan mengingatkannnya pada masakan khas Indonesia dipandang sebelah mata, tak banyak dibahas bahkan oleh para penulis kuliner media massa. Misalnya, mangkuk lambang ayam, saus sambal misterius yang warnanya agak oranye yang pasti ada di setiap penjual mi atau bakso, dan tentu saja, kerupuk.

Dalam pandangan Dade Akbar, masakan khas Indonesia selalu membuatnya kangen rumah. Dia ingin ratusan juta penghuni rumahnya, Indonesia, semakin lebih cinta pada ragam kuliner asli yang memang dinikmati banyak orang. Masyarakat Indonesia, menurutnya, lebih terpaku pada tren kuliner impor, seperti rainbow cake atau cronut. Ini hal yang lazim di Instagram. Orang sibuk memotret makanan ketika mereka berkunjung ke restoran Barat atau Asia. Foto-foto yang sama tidak banyak muncul ketika mereka menyantap panganan pinggir jalan.

"Gue sebenernya engga suka foto makanan," kata Dade. "Gua lihat beberapa orang sekitar gue pas lagi makan di mana. Tapi giliran makan [warteg] gitu, engga ada yang naik nih foto."