Energi Surya

Harga Listrik Tenaga Surya di India Cetak Rekor Termurah

Ongkos produksinya jauh lebih terjangkau dibanding batu bara. Sementara di Indonesia, listrik dari sinar matahari masih terlalu mahal.
12.5.17
Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Utara India. Foto oleh Brahma Kumaris.

Pembangkit listrik tenaga surya benar-benar sedang populer di India. Ongkos produksinya mencapai rekor terendah sepanjang sejarah Negeri Sungai Gangga itu, membuat banyak negara jadi serius memikirkan sinar matahari sebagai alternatif terbaik untuk menghasilkan pasokan listrik.

Dalam lelang tender listrik pemerintah digelar awal pekan ini, dua perusahaan pembangkit berbasis tenaga surya menawarkan harga per kilowatt hour (kWh) senilai 2,62 Rupee (setara Rp543 saja). Phelan Energy dan Avaada Power, yang sama-sama berani mengajukan harga jual listrik murah meriah itu, berebut konsesi pembangunan pembangkit berkapasitas 250 Mega Watt di Negara Bagian Rajasthan.

Iklan

Tawaran harga yang murah tersebut bukan hal yang baru dalam tren energi terbarukan di India. April lalu, perusahaan asal Prancis berani mengajukan harga jual per kWh sebesar 3,15 Rupee. Angka ini menandai semakin murahnya listrik berbasis tenaga surya di India, yang awal 2016 masih dihargai 4,34 Rupee per kWh. Sebagai perbandingan, harga listrik untuk pembangkit tenaga surya di Indonesia masih berada di kisaran Rp1.995 per kWh. Akibatnya, harga itu membuat ongkos produksi listrik dari sinar matahari di Indonesia (yang terhitung negara kawasan khatulistiwa) jauh lebih mahal daripada Kamboja. Dampak lainnya, di Indonesia Pembangkit Listrik Berbasis Batu Bara yang kurang ramah lingkungan masih dianggap lebih murah, karena berada di kisaran Rp800-Rp900 per kWh. Harga di India masih bisa jadi lebih murah lagi, mengingat dalam waktu dekat pemerintah setempat bakal menggelar tender pembangunan pembangkit tenaga surya berkapasitas 500 MegaWatt. Banyak pengamat energi di India meyakini harga per kWh masih bisa ditekan jadi lebih murah lagi.

Sama seperti Indonesia, mayoritas pembangkit listrik India masih memakai batu bara. Jumlahnya mencapai 61 persen dari total pembangkit di negara tersebut. Energi terbarukan baru memperoleh porsi 14 persen, sementara sisanya ditalangi oleh pembangkit berbasis solar.

India awalnya sempat akan melirik pembangunan PLTU (yang memakai batu bara) secara besar-besaran. Rencana ini jelas bertentangan dengan Perjanjian Paris, yang mengatur tingkat emisi karbon negara-negara sedunia. Belakangan, Perdana Menteri Narendra Modi mengubah sikap. Pembangkit listrik berbasis energi terbarukan diberi prioritas utama.

Iklan

Badan Kelistrikan India menyatakan target mereka, pembangkit energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, dan angin, diharapkan bisa mencapai kapasitas 175 GigaWatt pada 2022. Dengan begitu, bauran energi terbarukan dalam sumber penyediaan listrik India melonjak menjadi 24 persen.

"Berkat target yang ambisius itu, disertai keseriusan pemerintah India, perusahaan energi swasta terdorong menawarkan harga jual listrik yang rendah," kata Simon Evans, Editor di Jurnal Carbon Brief saat diwawancarai Motherboard. "Tapi memang patut diingat, masih belum jelas sampai kapan perusahaan terus berani menawarkan harga jual rendah dalam tender pemerintah seperti ini."

Evans berharap pemerintah India konsisten meninggalkan PLTU. Data menunjukkan utilisasi pembangkit yang memakai batu bara semakin lama makin tidak efisien. Tahun lalu, tingkat utilisasinya turun menjadi 60 persen saja.

Di berbagai negara, tren pemanfaatan pembangkit tenaga surya sedang dilirik banyak pemain besar. Pengusaha Elon Musk di Amerika Serikat misalnya, sedang merancang panel surya untuk konsumen rumahan. Dia berharap panel yang bisa menjamin satu rumah tersedia listriknya sepanjang tahun itu menelan ongkos ringan, yakni setara Rp300 ribu per meter persegi.

Jika pembangkit listrik tenaga surya semakin efisien dan terbukti berhasil, maka umat manusia tampaknya perlu bersiap-siap meninggalkan nuklir, lalu beralih kepada sumber energi tata surya kita, yang selama ini sudah tersedia di depan mata.