Apa Iya Kencing Di Kolam Renang Membahayakan Orang Lain?
Jangan Panik

Apa Iya Kencing Di Kolam Renang Membahayakan Orang Lain?

Penelitian baru menyebut di setiap kolam renang umum terkandung 75 liter air kencing. Tapi, ternyata kita tak perlu panik.
3.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Sebuah penelitian yang baru-baru ini dirilis oleh University of Alberta membuat banyak orang gempar. Dikabarkan kalau sekitar 75 liter urin terkandung dalam setiap kolam renang umum berukuran standar di kota-kota di Kanada—kurang lebih sama dengan "20 kontainer susu ukuran besar," seperti ditulis surat kabar The National Post. Banyak juga ya air kencingnya? Tapi apa iya ini hal yang buruk dan membahayakan pengunjung kolam lainnya?

Iklan

Ketika menelepon Lindsay Blackstock, ilmuwan yang menulis penelitian tersebut, hal pertama yang dia katakan adalah: "Sebetulnya engga terlalu berbahaya kok."

Dalam kolam renang umum, bakteria berbahaya dibunuh oleh kaporit. Bahkan kabarnya air kencing manusia bisa disaring dan diminum (astronot melakukan ini di Stasiun Luar Angkasa Internasional). American Chemical Society bahkan mendukung orang untuk kencing di laut. Lagipula, kata Blackstock, zat-zat menjijikan "yang berbahaya dibunuh di pabrik pengolahan air limbah" sebelum airnya dialirkan ke wastafel atau kolam renang.

Selain ungkapan rasa jijik dari berbagai media, satu-satunya hal yang dikhawatirkan oleh ilmuwan adalah kandungan nitrogen dalam urin—seperti urea tau amonia—apabila berinteraksi dengan klorin dari kolam renang akan menciptakan disinfection byproducts (DBPs) seperti ditulis sebuah makalah terbit dua tahun lalu. DBPs ini, sama seperti trihalomethane, berpotensi menyebabkan iritasi paru-paru, iritasi mata dan asma. Berpotensi loh ya—ini kata kuncinya. Anda tidak akan langsung mati apabila terjun ke dalam bak mandi berisikan air kencing.

Lalu kemudian saya tanya Blackstock: Kalau masalahnya itu DBP, haruskah kita berhenti memasukkan klorin ke dalam kolam renang? "Eh, jangan," katanya. "Ada banyak patogen berbahaya yang bisa tercipta dalam kolam renang, tapi klorin dan desinfektan adalah alat yang efektif untuk membasmi patogen-patogen ini."

Iklan

Jadi, sebetulnya urin dalam kolam renang itu masalah sepele.

Blackstock dan timnya mengukur kandungan urin di kolam renang dengan cara mengambil sampel dari 29 bak air panas, kolam renang indoor dan outdoor di dua kota Kanada yang namanya dirahasiakan. Mereka mengukur kandungan acesulfame potassium, juga disebut Ace-k, sejenis pemanis yang biasa dikonsumsi tapi tidak dapat diolah metabolisme tubuh.

Setelah mendapatkan angka rata-rata kandungan Ace-K di air kolam renang, Blackstock dan timnya mendapatkan angka "75 liter urin" dari dua kolam renang terbesar yang mereka teliti selama 3 minggu. Level Ace-K meningkat dalam tiga minggu tersebut, membawa kesimpulan bahwa tingkat urinnya tinggi.

"Perlu diingat bahwa urinnya sudah sangat tercampur dengan air  sebanyak 870.000 liter," katanya. Ditemukan bahwa kolam renang tersebut mengandung 0.0086 persen urin.

Memang jijik membayangkan berenang di kolam urin (biarpun banyak juga orang yang cuci muka di kolam renang). Namun aktivitas berenang itu jauh lebih menyehatkan dibanding efek air kencing dalam kolam renang ke tubuhmu, jelas Blackstock. Lagipula, solusinya mudah kok.

"Kami ingin orang tetap berenang tapi tidak kencing di kolam," katanya. "Pastikan membilas tubuh di shower sebelum berenang agar produk komestik yang bisa berinteraksi dengan klorin hilang…dan tinggalkan kolam renang ketika kebelet pipis."