Game

Mari Mengenang Kode Cheat, Andalan Gamer Cupu Menikmati Sebuah Game

Mari mengenang kode cheat yang bisa bikin kita jadi dewa gamer bermodal memencet variasi tombol doang.
2.12.18
​Gambar dari wikimedia commons
Gambar dari wikimedia commons

Semasa generasi pertama PlayStation sedang jaya-jayanya, saya terobsesi dengan satu game sederhana berjudul Spider-Man , sebuah game petualangan bergenre side-scrolling keluaran Neversoft (yang juga merilis Tony Hawk's Pro Skater guys). Jujur sih, Spider-Man bukan game yang gimana banget. Tapi, yang jelas alasan utama saya memainkannya adalah ini satu-satunya game superhero yang enggak kacrut. Spider-Man adalah game yang saya tamatkan berkali-kali sampai saat ingat setiap jengkal New York dalam grafis komputer game itu.

Iklan

Namun, saya punya satu rahasia yang enggak pernah saya ceritakan pada teman-teman saya. Jadi gini, saya enggak pernah menamatkan game ini dengan jujur. Maklum, skill gaming saya cupu berat sebenarnya. Konsekuensinya, saya enggak pernah beres main game ini. Apalagi kalau sudah ketemu bos pamungkasnya—Monster Ock AKA gabungan Doctor Octopus dan symbiote (bayangkan gabungan black goo dari serial X-Files dengan Xenomorph dari francise Alien) yang terus mengejar Spider-Man di laboratoriumnya. Bermodal skill gaming seadaanya, monster macam ini jelas tak bisa kalahkan.

Tapi, ternyata saya enggak harus mempecundangi monster ini. Kok bisa? Ya bisa dong. Saya kan tahu rahasia untuk mengalahkan monster bangsat ini: pakai kode cheat. Yang perlu saya lakukan adalah membuka layar tempat kita memasukkan passowrd.

Setelah itu, saya tinggal mentik “RUSTCRST," dan dalam sekejap karakter saya jadi sakti mandraguna. Symbiote—mau sebanyak apapun—tak akan bisa menyenggol karakter saya. Main game dari awal sampai akhir dalam sekali duduk? Bukan masalah. (sedikit spoiler nih: Spider-Man menang di ujung game. J. Jonah Jameson masih skeptis kayak bias dan game ini punya laugh track loh).

Ya begitulah, cheat punya kekuatan yang luar biasa besar. Saat itu, saya—yang masih terbatas pengalaman main gamenya—langsung kepincut. Bahkan kini, setelah dewasa dan berprofesi sebagai gamer profesional, saya kadang-kadang merindukan kode cheat.

an-ode-to-cheat-codes-834-body-image-1430898129

Mau musuhmu mati lebih gampang di MKX? Siap-siap keluarin duit dari rekening sob

Bisa dibilang, kode cheat sudah punah saat inii. Padahal, satu dekade lalu, hampir semua game ada kode cheatnya. Dengan kode cheat, kamu dapat membuka semua level, menemukan karakter rahasia atau bikin kepala semua karakter dalam game menggelembung bak balon. Kini, game yang masih ada cheat gamenya cuma ada dua jenis: 1) game yang dimainkan sebagai nostalgia saja macam Shovel Knight atau 2) game macam Grand Theft Auto V yang mentok enggak diupdate lagi sejak 2004.

Hilangnya kode cheat bukannya tanpa alasan. Pada dasarnya, kode cheat diciptakan untuk membantu pengembang menguji game buatan mereka. Jadi, tes pengujian game bisa berjalan macet, bukannya macet karena tim penguji kesulitan mengalahkan monster bos dalam game buatan mereka sendiri. Cuma sekarang, dengan teknologi yang sudah jauh lebih maju dan munculnya studio-studio besar, pengembang tak lagi perlu membuat kode cheat untuk menguji game-gamaya.

Lebih jauh, dengan mode pengujian game baru yang menihilkan keberadaan kode cheat dan meningkatkan sejumlah faktor lainnya seperti PC Modding dan fitur bermain game menggunakan internet pada konsol tertentu yang jelas terganggu jika salah satu pemainnya enggak bisa mati atau amunisinya enggk habis-habis, kode cheat diam-diam menghilang dengan sendirinya. Sebagai gantinya, kita ditawari kode cheat “yang lebih santun dan legal” seperti fatality yang sederhana tapi mematikan (dan tentunya bisa dibeli) di Mortal Kombat X . Padahal dulu, fitur macam ini bisa diperoleh secara gratis lewat kode cheat.

Mau fatality yang gampang di 'MKX'? Bayar dulu Bos!

Iklan

Bagi banyak gamer, musnahnya kode cheat jelas bukan perkara besar. Pasalnya, game dibuat untuk menantang kemampuan pemainnya kan? Plus, game zaman sekarang —bukannya saya sombong—didesain dengan level kesulitan yang sudah jauh menurun. Bagi saya, game itu bukan soal tantangan. Yang penting dari game adalah pengalaman memainkannya. Alhasil, bagi sebagian gamer—saya termasuk di dalamnya—tantangan atau tingkat kesukaran itu malah jadi rintangan untuk menjajal semua fitur yang dimiliki sebuah game.

Belakangan ini, muncul tren game yang dipasarkan dengan satu kelebihan: game-game tersebut susah banget ditamatkan. Dugaan saya, game-game ini banyak terinspirasi game-game Dark Souls serta ramainya nostalgia game 8-bit dan 16-bit yang dari sononya memang susah dimainkan. Memang game tempo dulu memang diciptakan dengan level kesusahan maksimal. Pasalnya, tantangan untuk menaklukan game-game adalah satu-satunya kenikmatan yang bisa ditawarkan. Maklumlah, kemampuan hardware kala itu terbatas banget sampai-sampai untuk bikin visual yang lumayan saja sudah PR berat. Jangan salah, beberapa game tempo adalah game yang brilian, bahkan dengan ukuran game saat ini. Masalahnya, tingkat kesukaran macam ini jadi halangan bagi gamer-gamer dengan skill pas-pasan untuk menikmati sebuah game.

kode cheat tak peduli sejago apa kita bermain game. kode cheat membuyarkan korelasi antara skill dan kenikmatan bermain game. Dampaknya, kode cheat membuka dimensi dunia game baru yang merombak pengalaman bermain game secara mendasar. Dengan kode cheat yang tepat, siapa pun bisa bermain video game dan dalam prosesnya, mereka bisa menciptakan gameplay yang tak terduga. Misalnya, dengan memasukkan Konami Code (lihat gambar utama artikel ini) di game Contra, seorang player akan mendapatkan stok 30 nyawa selama bermain. Dengan persediaan nyawa sebanyak ini, seorang gamer pemula—atau cupu—bisa bereksperimen, belajar dan berjuang menawatkan Contra. Dengan nyawa sebanyak itu juga, seorang gamer bisa menikmati kebebasan untuk mengalami kegagalan berkali-kali—sesuatu yang sudah dinikmati dalam setting game normal. Sebuah invincibility code bisa mengubah game paling susah sekalipun menjadi sebuah simulator, merekontekstualisasi dunia game dan memberikan kesempatan gamer melihat sisi game yang bisa saja terlewat jika mereka bermain jujur.

Iklan

God Mode mengubah DOOM dari game fantasi brutal menjadi game jalan-jalan absurd di mana pemainnya bisa menjelajahi neraka tanpa sekalipun diganggu oleh para cyberdemon. Sejumlah kode cheat memungkinkan gamer mengaskes mode debug, jauh melampui God Mode itu sendiri. Pendeknya, kode cheat mengubah game biasa menjadi setingkat dewa, memberi akses ke perangkat yang digunakan oleh para pengembang dan mempreteli sebuah game sampai kita tahu seperti apa bentuknya saat sedang error.

Game sejatinya adalah sebuah sistem dan bagian yang meyenangkan dari sebuah sistem adalah kesempatan untuk menghancurkannya. Saya masih ingat pernah bermain Grand Theft Auto: San Andreas dengan beberapa teman—sebagian gamer dan sebagian lagi awam akan game. Ternyata, bagian paling menyenangkan dari kegiatan main bareng itu adalah saat kita mengaktifkan semua kode cheat yang aneh. alhasil, kami bisa muncul bareng-barang naik tank, menerbangkannya dan berperang lawan sepasukan jet di Area 69 (nama daerah beneran kayak gini, sumpah!).

Kami menumpuk satu cheat di atas cheat lainnya. Begitu terus sampai gamenya crash. Dengan cara ini, kami bisa menyaksikan bagaimana game bekerja di tingkat yang paling dasar dan menemukan aturan mana yang penting agar sebuah sistem game tetap berjalan. Seperti yang diungkapkan Carolyn Petit dalam artikelnya untuk VICE, Axiom Verge , melanggar semua aturan dalam sebuah video game adalah cara “berinteraksi langsung dengan hantu dalam sebuah mesin,” alias cara menggali sampai ke elemen paling dasar sebuah game.

Dan untuk melakukan ini, kalian cuma perlu Nintendo Power, atau sambungan internet atau teman yang paham sekali dunia cheat. Asal sabar, segala macam gamer bisa menggunakan kode cheat. Tenang, kode cheat itu tak pilih-pilih gamer, menyenangkan dan royal. Saya bukan tipe orang yang gampang terjebak nostalgia. Tapi masa-masa jaya kode cheat adalah era yang selalu saya rindukan.

Follow Jake di Twitter .