​Elizaveta Bulokhova​
Semua foto oleh Elizaveta Bulokhova 
Seri Foto

Kisah Inspiratif Perempuan Kembali Jadi Model Usai Rahangnya Diangkat Akibat Kanker

Elizaveta Bulokhova berulang kali menjadi model catwalk di seluruh dunia, tetapi semuanya berubah ketika dia didiagnosis mengidap kanker. Siapa sangka, kanker tak mengakhiri cita-citanya.
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
6.1.20

Gaya berjalannya yang anggun mengantarkan Elizaveta Bulokhova ke catwalk Taiwan, Jepang, Hong Kong, Afrika Selatan, Yunani, dan London. Sedangkan di tempat tinggalnya di Manhattan, dia menghabiskan kesehariannya berdesakan di antara keramaian New York untuk memenuhi panggilan casting.

Elizaveta awalnya berkuliah untuk menjadi pegawai hukum, tetapi dia memilih merantau ke London setelah lulus dari Humber College di Toronto. Di sana, dia memulai karier sebagai model yang memungkinkannya berkeliling dunia.

Iklan

Pada Mei 2014, model yang saat itu berusia 24 dan sang kekasih, Roman Troubetskoi, sedang berlibur ke Amsterdam ketika rahang kanannya membengkak.

Dua bulan kemudian, rasa sakit di rahangnya semakin tak tertahankan. Dia akhirnya melakukan biopsi dan CT scan untuk menemukan sumber nyeri di rahangnya. Siapa sangka, dia mengidap osteosarkoma atau kanker tulang langka. Selain rahang, janin putranya mesti digugurkan jika Elizaveta ingin bertahan hidup. Alasannya karena dia harus menjalani lima siklus kemoterapi.

“Putraku sangat aktif dan saya sering ngobrol sama dia selama di dalam kandungan,” ujarnya. “Saking aktifnya, saya sampai harus meminta dia berhenti bergerak. Dia mendengarkanku; dia berhenti bergerak.”

16 jam dihabiskan untuk mengangkat tumor dan rahang, lalu dilanjutkan dengan operasi rekonstruksi menggunakan fibula, vena, saraf, dan cangkok kulit dari kaki kanan dan bahunya. Karier Elizaveta terpaksa kandas. Namun lebih buruknya lagi, putranya yang bernama Valentin terancam lahir dengan gangguan perkembangan akibat anestesi. Itu pun kalau janinnya bisa bertahan. Selama operasi berturut-turut, dokter mencangkok pembuluh darah kaki ke rahang barunya.

17 centimeter atau 95 persen bagian rahangnya diangkat. Dia baru siap melihat penampilan barunya sebulan kemudian. Roman sesekali mendapati Elizaveta melirik malu ke arah kaca jendela kamarnya. Sang kekasih menutup kaca kamar mandi sampai dia siap.

Hasil operasinya menimbulkan komplikasi, sehingga kemoterapinya diundur. Dua hari sebelum aborsi yang sudah dijadwalkan, Roman dan Elizaveta meminta dokter untuk melahirkan Valentin 10 minggu lebih awal.

Iklan

“Kami meminta dokter untuk membunuh bayi kami yang sehat. Parah banget memang, tapi tidak ada pilihan lain,” ungkap Roman. “Valentin sudah hampir 28 minggu di dalam kandungan, jadi kami menanyakan statusnya. Amankah kalau dilahirkan prematur? Dokter bilang aman.”

“Saya mulai ngobrol dengan bayiku lagi. Masa-masa yang sungguh sulit,” Elizaveta menambahkan.

Karena lahir 10 minggu lebih awal, Valentin harus menjalani perawatan intensif neonatal selama 51 hari. Kelahirannya merupakan suatu keajaiban. Padahal Valentin sempat divonis tidak akan bertahan hidup.

Namun, tantangan yang dihadapi Elizaveta belum selesai.

“Indra pengecap saya tidak merasakan apa-apa setelah kemoterapi, jadi saya tidak merasa lapar dan sulit mengunyah,” tuturnya. Dia mengatakan butuh satu jam untuk menghabiskan sebutir telur rebus. “Saya takut minum karena airnya suka mengalir sendiri dari sisi wajahku. Ini benar-benar membuatku trauma. Perut saya menyusut karena jarang minum. Sulit makan juga membuatku kekurangan gizi. Sama sekali tidak enak makan.”

14 bulan setelah cobaan dimulai—dan dua bulan setelah kemoterapi terakhirnya—Elizaveta dan sang kekasih yang berusia 30 duduk berdampingan di kondominium Vaughan, Ontario untuk saya wawancarai pada 2018. Ketika tetangga menjemput untuk mengurus Valentin, dia berkata “Valentin tambah besar saja setiap saya melihatnya.”

Rambut Elizaveta sudah mulai tumbuh. Deretan gigi atasnya masih rapi, tetapi gigi bawahnya hanya tersisa empat. Dia kesulitan berbicara karenanya. Dia masih akan menjalani operasi rekonstruksi dalam beberapa tahun mendatang. Kehidupan perempuan dengan tinggi 172 cm dan berat badan 48 kg—akibat turun empat kilo—ini masih sama menariknya seperti dulu.

Fotografer Toronto Manolo Ceron mengabadikan ketabahan Elizaveta selama 14 bulan terakhir dalam seri foto yang merayakan perjuangannya.

“Kami ingin menyampaikan kisahnya lewat karya seni,” terang Manolo. “Eli (Bulakhova) adalah cerita utamanya, sedangkan lainnya hanya alat meningkatkan kecantikan dan kekuatannya. Seri foto ini menunjukkan betapa rapuh dan cantiknya kita. Meski tak ada satu pesan inti, seri foto ini memiliki banyak harapan dan kekuatan yang bisa diambil penderita kanker. Mungkin itulah pesan tersiratnya.”

Dalam salah satu foto, tangan Valentin sang ibu. “Dia menyelamatkan hidupku—itu bagian terbesarnya,” kata Elizaveta. “Dia benar-benar memperhatikanku. Jadwalnya yang banyak mendorongku memperbaiki diri tanpa berhenti. Saya tidak sempat beristirahat, tapi untuk alasan yang bagus. Saya terus melanjutkan hidup, dan tidak sempat mengasihani diri sendiri. Saya yakin kalau waktu itu tidak hamil, saya akan diperlakukan layaknya pasien kanker lain yang butuh operasi. Dia merawat saya untuk memastikan semuanya hidup dengan baik.”

Roman selalu ada di sisi Elizaveta melalui semuanya. Dia mempelajari semua yang dia bisa tentang penyakit ini untuk menemukan cara terbaik mengobatinya. Dia bolak-balik kerja dan rumah sakit demi sang kekasih.

Tak peduli dengan masa depan karier modeling yang masih samar-samar, Elizaveta menemukan kedamaian lewat keluarganya.

Makeup artist Julia Stone . Asisten fotografer Ken Appiah . Studio foto oleh A Nerd’s World .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.