natal 2018

Menikmati Perayaan Natal Aneh Bin Ajaib Bareng The Beatles

Seiring Beatles bertransformasi dari band live doyan amfetamin menjadi band studio penggemar halusinogen, single-single Natal mereka diproduksi dengan semakin ambisius
25.12.18
gambar psikadelik​
gambar psikadelik

Sebelum jaringan internet menguasai dunia, grup band mengkomunikasikan berita ke para penggemar lewat fan club. Biasanya, para pelanggan yang membayar (dan kadang mahal juga), mendapatkan kartu anggota fan club resmi seukuran dompet dengan nama mereka, nomor keanggotaan, dan kesempatan berlangganan newsletter resmi band, formulir merchandise anggota, dan beberapa suvenir lainnya.

Menurut biografi the Beatles karya Bob Spitz, “ribuan” amplop berisikan aplikasi dan biaya keanggotaan menumpuk di kantor Beatles Fan Club di Liverpool pada 1963, ketika demam The Beatles—alias Beatlemania—berada di puncaknya. “Entah deh berapa banyak amplop yang dicuri dari tangga menuju kantor mereka yang berada di atas sebuah toko buku lusuh,” ujar humas Beatles, Tony Barrow beberapa tahun nantinya.

Guna meredakan amarah para penggemar remaja dan menghindari tuntutan orang tua mereka, tulis Spitz, Barrow muncul dengan ide mengirimkan piringan hitam flexidisc 7 inci satu sisi yang murah ke semua anggota Beatles Fan Club saat liburan Natal.

Di rilisan ini, band penganut gaya rambut kain pel tersebut menyanyikan versi ngasal “Good King Wenceslas” dan membaca berbagai skrip karya Tony Barrowdan John Lennon. Lennon terdengar bosan membaca skrip tentang “tetek bengek seputar gear musik” yang terjadi “di tahun yang diwarnai seputar gear bagi kami.” Di rilisan tersebut juga ditemukan George berkelakar tentang hidung merah Rudolph, si rusa kutub.

The Beatles merilis album natal setiap tahun dari 1963 hingga 1969, tahun mereka bubar. Beberapa flexi Natal pertama direkam secara live, dengan biaya murah, menampilkan band mengelilingi sebuah mikrofon membaca dari skrip, menyanyikan lagu-lagu natal, dan bercanda gurau seenaknya. Tentu saja piringan hitam flexi bukanlah medium yang pantas untuk menonjolkan kualitas lagu-lagu baru Beatles, tapi sekadar plastik berisikan materi lima atau enam menit yang perlu diisi.

(Manajer The Beatles, Brian Epstein, yang memastikan bocah-bocah asuhannya bekerja keras bak sapi perahan saat Beatlemania terjadi, juga sempat mengadakan acara bertema Natal yang kini sudah dilupakan semua orang. The Beatles Christmas Show menampilkan band-band lain asuhan Epstein, sketsa Beatles, dan set live pendek Beatles, berlangsung dari malam Natal 1963 hingga 11 Januari 1964. Menurut buku Spitz, narasi acara tersebut sebagai berikut: Ermyntrude yang menawan (Harrison), mengenakan langgai dan sorban putih, diikat ke rel kereta api oleh Sir John Jasper yang jahat (Lennon) dan diselamatkan oleh Valiant Paul the Signalman (McCartney). Ketiganya ditemani oleh seorang peri bernama Fairy Snow (Starr) “yang meloncat-loncat di panggung, menaburkan confetti putih ke tiga anggota Beatles lainnya.”)

Seiring Beatles bertransformasi dari band live doyan amfetamin menjadi band studio penggemar halusinogen, single-single Natal mereka diproduksi dengan semakin ambisius. Awalnya, sampul dari flexi-flexi Natal mereka menampilkan pose foto bareng band, namun untuk single Natal 1966, “Pantomime, Everywhere It’s Christmas,” sampulnya menampilkan lukisan psikedelik McCartney. Albumnya menampilkan radio drama ngawur yang bergerak dari Corsica ke Swiss Alps, di mana “Dua lelaki tua Skotlandia melahap keju langka,” hingga King’s feast, dan Jasper dan Podgy the Bear duduk mengelilingi api unggun di tengah ruangan. Satu-satunya yang menghubungkan “Pantomime” ke rilisan-rilisan Natal sebelumnya adalah aksen Jerman yang kadang digunakan oleh Lennon.

Di rilisan Natal kelima mereka, the Beatles menciptakan parodi surealistik dari siaran BCC menampilkan audisi tap dancer, persaingan kontestan acara kuis, dan seorang perempuan cedera dari Solihull yang menelpon untuk meminta lagu “Prenty of Jam Jars” karya Ravellers diputar untuk semua orang di rumah sakit. Ini dan obrolan-obrolan absurd lainnya secara periodikal diinterupsi oleh lagu baru berjudul “Christma Time (Is Here Again).”

The Beatles nampaknya telah merekam konten flexi tahun 1968 dan 1969 sendiri-sendiri. Lennon membacakan “Two Virgins” dan puisi-puisi lainnya; dia dan Yoko ngobrol tentang cornflake dan bercanda gurau; Paul menggenjreng gitar akustik dan bernyanyi; George berbicara ke para penggemar dan memperkenalkan Tiny Tim yang menyanyikan “Nowhere Man”; Ringo hanya mengucapkan beberapa patah kata. Hanya lagu-lagu dari White Album dan Abbey Road yang diputar di latar belakang yang menyiratkan ada lebih dari satu anggota Beatles di ruangan yang sama.

John dan Yoko merekam single Natal “Happy Xmas (War Is Over)” dengan B-sidenya “Listen, the Snow Is Falling” pada 1971, dan Paul merilis “Wonderful Christmastime” dengan B-side “Rudolph the Red-Nosed Reggae” Pada 1979. Album natal 1999 Ringo, I Wanna Be Santa Claus, memasukkan versi baru “Christmas Time (Is Here Again).” George saat itu tengah mendalami Jai Sri Krishna, John Lennon terbuduh, dan beberapa orang brengsek merampok rumah Goerge Harrison dan menusuknya.