Godzilla Sebenarnya Aktivis Lingkungan Dalam Wujud Monster
akreditasi foto dari screegrab
Film Legendaris

Godzilla Sebenarnya Aktivis Lingkungan Dalam Wujud Monster

Film ‘Godzilla vs the Smog Monster’ menunjukkan Jepang yang bertarung melawan masalah polusi udara di 1970-an. Film tersebut juga mendorong tercapainya solusi
25 September 2017, 11:00am

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Seri ini bagian dari Motherboard Guide to Cinema, kolom semi-regular yang membahas film asing yang obskur.


Sesungguhnya dari dulu Godzilla adalah seorang radikal. Selama lebih dari 60 tahun, antihero setinggi 91 meter tersebut menjulang tinggi di atas kaki langit Tokyo sebagai bentuk peringatan abadi akan bahaya dari perang nuklir dan kemajuan teknologi.

Raja monster ini dikisahkan telah menyelamatkan namun juga menghancurkan Jepang dalam puluhan film remake yang dibuat. Namun ada satu hal yang selalu konsisten dalam setiap film Godzilla: opini politis tanpa kompromi. Ini jelas terlihat di Godzilla vs The Smog Monster, sebuah film eksperimental tahun 1971 yang mengisahkan bagaimana rusaknya lingkungan hampir memusnahkan spesies monster Jepang tersebut.

Waralaba Godzilla dimulai di 1954 di bawah asuhan sutradara Jepang Ishirō Honda, satu dekade setelah AS menjatuhkan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Godzilla awalnya diciptakan sebagai metafora dari perang nuklir, dan beberapa bulan sebelum filmnya dirilis, AS melakukan uji bom nuklir raksasa bertenaga super di dekat Atol Bikini di Samudera Pasifik.

Sisa dari ledakan tersebut menciptakan badai abu radioaktif yang menutup area lautan lebih luas dari yang diperkirakan, dan mengekspos anggota kru 'Lucky Dragon No. 5'—sebuah kapal pemancing tuna Jepang—ke level radiasi yang mematikan. Kru Lucky Dragon kembali ke pelabuhan dengan kulit terbakar dan terkena racun dari radiasi mematikan yang akhirnya merenggut nyawa salah satu nelayan tersebut beberapa bulan kemudian. Semacam penghormatan dilakukan untuk kedua peristiwa mengerikan ini di adegan pembuka film Godzilla pertama, menampilkan sebuah kapal nelayan kecil di lautan tenang yang tiba-tiba dirusak oleh ledakan besar yang merenggut nyawa nelayan yang ketakutan. Pada saat film Godzilla yang pertama diputar, ingatan warga Jepang atas musibah yang menimpa kru Lucky Dragon masih begitu kuat. Film itu kabarnya ditonton dalam keheningan, dan membuat tangis sebagian hadirin pecah.

"Awalnya film Godzilla dimaksudkan sebagai sebuah pernyataan politik," jelas William Tsutsui, presiden dari Hendrix College dan seorang ahli kultur Jepang ternama ketika diwawancara lewat telepon. "Sekarang, kita terbiasa melihat Godzilla sebagai hiburan anak-anak, tapi sutradara Jepang saat itu melihatnya sebagai pernyataan keras tentang perang nuklir dan ancaman yang dilemparkan teknologi terhadap lingkungan alam."

Mengingat temanya yang berat, Godzilla justru meraup kesuksesan yang luar biasa di Jepang. Film ini sendiri berhasil menciptakan genre baru yang berfokus di petualangan monster raksasa. Genre itu dinamai Kaiju. Pada 1955, studio Toho merilis Godzilla Raids Again, namun baru di 1960-an, waralaba ini mulai merilis film baru Godzilla setiap tahun. Honda menyutradarai sebagian besar film ini dan mengawasi transisi Godzilla dari metafora yang mengerikan menjadi sebuah antihero yang ceria dan menghibur.

Baru pada film Godzilla vs the Smog Monster (1971), monster reptil favorit Jepang ini kembali ke akarnya sebagai makhluk yang radikal.

"Godzilla sempat ditargetkan untuk anak-anak, menampilkan tarian Godzilla dan semacamnya, membuat jumlah penontonnya berkurang," jelas Yoshimitsu Banno, sutradara film tersebut ke SciFi Japan sebelum dia meninggal. "Jadi untuk film Godzilla ke-11, saya ingin memasukkan pesan tentang polusi untuk para penonton dewasa juga."

Dikenal juga sebagai Godzilla vs Hedorah, film tersebut merupakan seri Godzilla ke-11 yang telah diproduksi studio Toho. Banno sebelumnya membangun karirnya bekerja sebagai asisten bagi sutradara legendaris Jepang, Akira Kurowasa, dan Hedorah merupakan karya debutnya di Studio Toho sebagai seorang sutradara. Namun sialnya, Godzilla vs Hedorah ini justru hampir mengakhiri karirnya yang baru saja dimulai.

"Ketika dia menunjukkan hasil akhir film tersebut ke produser seri Godzilla, Tomoyuki Tanaka, Tanaka mengatakan ke Banno bahwa dia telah merusak waralaba Godzilla," jelas Tsutsui. "Ini pernyataan lucu karena di 1971 tidak banyak ada kualitas artistik tersisa di seri ini yang bisa dirusak."

Dibuat hanya dalam 35 hari, dengan produksi yang besarnya hanya separuh dari film-film sebelumnya, Godzilla vs Hedorah menceritakan kisah seorang ilmuwan Dr. Toru Yano dan anaknya Ken, yang menemukan sebuah mikroorganisme beracun di dalam laut dekat pesisir Jepang. Ternyata Yano menemukan bahwa potongan lumpur yang terlihat tidak berbahaya ini memiliki kemampuan untuk mereplika diri sendiri dan potongan kecil mereka sanggup bergabung membentuk organisme yang lebih besar. Sebagai usaha untuk mempelajari makhluk ini lebih lanjut, Yano pergi scuba diving di mana dia bertemu dengan Hedorah dan pulang membawa luka bakar di sepanjang muka dan tubuh.

Berita serangan ini langsung menimbulkan rasa panik bagi warga Jepang sampai-sampai kantor berita mengeluarkan peringatan keselamatan meminta warga untuk berhati-hati, terutama bagi merek yang tinggal di kota-kota industri berpolusi tinggi. Di tengah kepanikan itu, Yano berusaha mempelajari biokimia dari Hedorah, yang menurut dia "jauh berbeda dari bentuk kehidupan lainnya." Akhirnya Yano menemukan bahwa Hedorah adalah produk dari polusi industrial yang semakin bertambah kuat setelah memakan asap yang dikeluarkan oleh pabrik dan kendaraan.

Semakin bertambah kuat, Hedorah pindah dari laut menuju daratan, sebelum akhirnya sanggup terbang, dan membunuh semua orang dengan belerang yang dia hasilkan seiring dia terbang. (Dalam satu adegan, sekawanan anak sekolah jatuh pingsan selagi sang monster polusi terbang melewati sekolah. Adegan itu terinspirasi dari insiden nyata yang pernah terjadi di Jepang. Suatu ketika sekawanan anak sekolah pingsan akibat kabut beracun).

"Film Godzilla biasanya lumayan aman untuk penonton muda," jelas Tsutsui. "Biasanya tidak terlalu banyak adegan kekerasan dan adegan orang mati. Di Godzilla vs Hedorah, ini jelas ditampilkan. Film ini benar-benar menggarisbawahi ancaman polusi secara nyata."

Selagi Yano kesulitan mencari cara mengalahkan Hedorah dengan ilmu pengetahuan, Godzilla muncul dari dalam lautan dan mengambil alih peran ini. Namun ternyata Godzilla sekalipun tidak sanggup mengalahkan monster polusi, dan ketika semua harapan terlihat sirna, Yano menemukan cara untuk mengalahkan Hedorah, yang intinya [SELANJUTNYA MENGANDUNG BANYAK SPOILER] adalah dengan menciptakan sebuah baterai raksasa.

Dengan cara menjebak Hedorah di antara dua kutub baterai, Yano dan militer Jepang berhasil menyetrum monster polusi tersebut hingga dia berubah menjadi debu. Pada satu adegan di bagian akhir ada kejadian aneh yang tidak sengaja juga lucu. Godzilla dikisahkan mengejar sebagian kecil dari monster polusi yang berhasil kabur dengan menggunakan nafas laser untuk terbang. Godzilla akhir berhasil mengejar si monster, ia memukul dada dan merobek hatinya yang dingin dan penuh polusi. Akhirnya si monster kalah.

Dari banyak sisi, Godzilla vs Hedorah mashih konsisten dengan segala ciri waralaba ini: banyak adegan manusia dewasa bergulat menggunakan kostum monster, ada perang laser serampangan, dan tentunya efek komedi yang tampaknya memang disengaja, imbas kombinasi film monster raksasa dan anggaran rendah. Namun secara gaya dan tema, interpretasi Banno akan Godzilla juga bisa dibilang unik.

Film ini diciptakan dengan latar belakang Jepang di 1970, dan sama seperti AS, efek dari flower generation telah mendatangkan hedonisme dan optimisme naif yang kerap dibawa kaum hippies.

"Ada semacam gerakan aktivis lingkungan yang mulai naik di Jepang di awal 1970-an," jelas Tsutsui. "Ada semacam protes ala California dan sentuhan psikedelik hippie dalam gerakan tersebut, tapi di Jepang isu lingkungan lebih terasa seperti gerakan warga karena ini menjadi isu sipil yang besar."

Setengah film ini menampilkan sebuah klub rock Jepang, di mana anak tertua Yano sibuk menikmati halusinasi psikedelik sementara Hedorah mengambil alih kota. Monster polusi ini akhirnya menyambangi klub tersebut dan mengakhiri pesta mereka. Yano dan murid-muridnya memutuskan untuk mengambil aksi dan memulai "demo satu juta orang" melawan monster polusi tersebut.

Biarpun penuh dengan intensi baik, demo tersebut tidak terlalu diminati dan justru berubah menjadi pesta joged lainnya. Satir Banno di sini memiliki target dan pesan yang jelas—kelemahan aktivis lingkungan yang secara naif mempercayai bahwa kerusakan akibat polusi industrial bisa dilawan hanya dengan demonstrasi dan perayaan api unggun."

Pengaruh psikedelik di era tersebut juga terasa di sepanjang film yang menampilkan banyak sekuens animasi aneh dan trippy. Salah satu adegan tersebut menunjukkan berbagai objek langit seperti nebula dan galaksi sementara sebuah suara berujar tentang luasnya alam semesta. Adegan lainnya menunjukkan dua orang perempuan yang berjalan mengenakan masker gas.

"Banno adalah sosok yang sangat kreatif dan saya sangat mengaguminya untuk itu," ujar Tsutsui. "Kalau ada film Godzilla yang bisa dibilang bernuansa indie, ya Hedorahlah jawabannya."

Film ini sesungguhnya adalah bentuk reaksi Banno terhadap isu asap dan polusi industrial yang menjangkiti kota-kota seperti Yokkaichi, di mana para penduduknya terkena "asma Yokkaichi" akibat terus-terusan menghirup udara penuh polusi.

Sesaat sebelum Banno mulai memfilmkan Godzilla vs Hedorah di 1970, Jepang menjadi tuan rumah World Expo di Osaka. Expo tersebut menampilkan sebuah paviliun yang dideskripsikan oleh New York Times sebagai "penekanan akan praktisnya teknologi modern" dengan cara menunjukkan visi kota masa depan di mana penduduknya hidup secara harmonis dengan alam sekitar. Sebagai bagian dari pameran ini, Banno membantu Tomoyuki Tanaka, produser Studio Toho, menciptakan elemen visual paviliun. Tapi ia resah dan terganggu kondisi paviliun yang begitu jauh berjarak dengan realita kehidupan nyata di Jepang.

"Di Expo, kami menciptakan paviliun memamerkan semua teknologi baru yang digadang akan membawa masa depan yang lebih cerah, tapi realitanya, situasi Jepang saat itu sangat parah," jelas Banno di sebuah wawancara dengan SciFi Japan. "Semua limbah dari pabrik telah menciptakan situasi yang buruk. Kami tidak tahu seberapa jauh isu polusi akan bertambah mengingat banyaknya jumlah kotoran yang manusia ciptakan sendiri."

Pada 1970, Jepang sedang bertarung melawan polusi yang parah, bisa terlihat sebagai awan kabut hitam menutupi kota-kota dan cairan kimia industrial yang dibuang ke laut telah menciptakan "Laut Kematian" di Teluk Dokai di utara Jepang, yang kehilangan semua bentuk kehidupan laut akibat limbah-limbah ini. Ketika dampak negatif dari polusi ini mulai mempengaruhi kesehatan penduduk Jepang dan menimbulkan banyak protes, pemerintah Jepang mengambil langkah drastis untuk membendung polusi. Dikenal sebagai Pollution Diet (Diet adalah legislatif nasional di Jepang), pemerintah Jepang mengesahkan 14 hukum yang mengambil pendekatan keras terhadap polusi industrial.

Hukum Pollution Diet ini bisa dibilang lumayan ekstrem, bahkan untuk standar peradaban manusia saat ini. Para pembuat hukum mengabaikan sebuah klausul dari Hukum Kontrol Polusi Dasar sebelumnya yang mengatakan regulasi polusi harus selaras dengan ekonomi karena takut warga akan melihat ini sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi di atas lingkungan. Mereka mengesahkan mekanisme kontrol polusi nasional yang berkuasa di atas aturan lokal lainnya dan menerapkan regulasi yang ketat terhadap sektor industri serta melarang total kontaminasi udara dan air.

"Dalam satu dua tahun, semua asap berubah warna dari hitam menjadi putih karena permintaan akan perangkat desulfurisasi meningkat tajam," ingat Banno di 2014. "Dikabarkan waktu itu bahwa Jepang telah menangani masalah polusinya, tapi polusi lautan dengan PCB dan plastik masih berlanjut hingga hari ini."

Di awal musim panas tahun ini, Yoshimitsu Banno meninggal di umur 86 tahun di Kawasaki, Jepang. Sutradara yang tak kenal kompromi ini sempat menyimpan ambisi untuk membuat sekuel Godzilla vs Hedorah. Dalam beberapa tahun terakhir, ada rumor bahwa monster polusi akan di rehabilitasi untuk sebuah remake Hollywood. Biarpun mimpi Banno tidak pernah menjadi kenyataan, dia sempat memainkan peran penting membawa kisah teror Tokyo kembali ke layar besar di 2014 lewat film blockbuster Hollywood, Godzilla, dan menjadi mediator antara Studio Toho dan Legendary Pictures.

Biarpun tentunya Jepang belum bersih total dari polusi lingkungan, kini kota-kota di Jepang merupakan salah satu dengan tingkat polusi terendah di dunia. Ini sebagian disebabkan oleh tindakan kongkrit yang diambil pemerintah Jepang melawan polusi industri 50 tahun yang lalu, dan ditekankan kembali oleh film unik Banno, Godzilla vs Hedorah. Di luar semua kekonyolan dan adegan laga yang murahan, inti dari film ini adalah pesan radikal yang masih relevan hingga hari ini: satu-satunya cara nyata untuk melawan perubahan iklim adalah dengan menyingkirkan isu utamanya—kepuasan diri.

"Bagi banyak orang di jepang, semua orang tahu polusi adalah isu besar dalam masyarakat, tapi tidak ada yang mau mengangkatnya," jelas Tsutsui. "Tapi ketika sebuah monster polusi raksasa menghancurkan kota Tokyo, semua orang harus melakukan sesuatu. Di titik itu, kita tidak bisa lagi mengabaikan masalah."