sekte sesat

Cerita Doktor Yang Mewawancarai Sekte Jepang Pelaku Pembunuhan Massal

Anggota sekte Aum Shinrikyo membunuh puluhan orang dengan serangan gas saraf di kereta bawah tanah Jepang. Seharusnya tidak ada yang bisa mewawancarai mereka, kecuali jika kamu penasehat keamanan dari AS.
28 September 2017, 4:43am
Korban serangan di Rumah Sakit, foto via corbisimages.com

Sampai 1995, tak banyak yang tahu Aum Shinrikyo. Di Jepang sendiri, mereka dikenal sebagai sekte yang populer namun penuh rahasaia. Namun, Aum Shinrikyo menjadi nama yang bikin merinding sejak tanggal 20 Maret 1995. Pagi hari Senin itu, di puncak kepadatan kereta bawah tanah Tokyo, lima anggota sekte ini mencoblos plastik berisi gas saris, gas syaraf tak berbau yang bisa memicu sesak nafas dengan melumpuhkan jaringan paru-paru. Tiga puluh orang tewas dan enam ratus orang lainnya hars dirawat di rumah sakit karena luka-luka. Pasca kejadian ini, seluruh anggota Aum Shinrikyo di Jepang, termasuk pemimpin mereka yang mengklaim dirinya sebagai "Yesus", Shoko Asahara (fotonya ada di awal artikel ini) digelandang dan dijebloskan ke penjara.

Shoko Asahara pemimpin sekte Aum Shinkiriyo

Yang menarik ada sempalan sekte ini di Australia. Mereka malah membangun peternakan domba kecil di Australia Barat. Ini jelas bikin saya, seorang penduduk Australia, penasaran.

Dr. Richard Danzig bersama penerjemahnya di Jepang

Dr. Richard Danzig adalah seorang pria yang tahu banyak tentang sekte asal Jepang ini. Mantan sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat di era pemerintahan Bill Clinton, Richard jelas punya kepentingan dengan keamanan nasional AS. pada 2008, Richard berhasil mewawancarai anggota Aum Shinrikyo yang masih mendekam di penjara. Danzig berusaha mengorek informasi tentang program senjata sekte sesat ini.Mendengar pengalaman Richard, saya akhirnya mengajaknya ngobrol guna mencari tahu apa yang dikerjakan sekte kiamat dari Jepang ini di Australia.

VICE: Hai Richard, bagaimana sih ceritanya sih sampai anda bisa mewawancarai anggota Aum Shinrikyo? Dr Richard Danzig: Begini, setelah 9/11, ada banyak perdebatan tentang apakah kelompok teroris bisa membuat senjata penghancur massal. Menurut saya, diskusi-diskusi ini cuma menghasilkan hipotesis-hipotesis belaka dan saya tahu ada sekte yang pernah mencoba membuat senjata pemusnah massal. Sekte itu adalah Aum Shinrikyo, yang selama dekade 90-an sibuk mengembangkan senjata biologis. Saya berharap, karena saya termasuk orang dalam di ranah keamanan nasional AS, pemerintah Jepang bisa mengabulkan pemerintah mengabulkan permintaan saya untk mewawancarai anggota Aum Shinrikyo. Ternyata, permintaan saya dikabulkan dan beberapa anggota sekte itu bersedia saya ajak ngobrol.

Aparat membersihkan sisa gas sarin di dalam kereta via

Terus wawancaranya sendiri bagaimana?
Kalau dari sudut pandang saya sih, mereka baik-baik saja. Malah, yang bikin saya kaget adalah usia mereka masih sangat muda. Maksudnya, mereka memang menua tapi sepertinya mereka mereka masih berdandan dan bertingkah seperti anak SMA atau anak kuliahan. Penjara yang menampung mantan anggota sekte ini ada di Tokyo dan bisa diakses dengan kereta bawah tanah. Kondisi penjara itu sangat bersih. Namun, yang menyedihkan, anggota sekte yang saya temui berada di sana menunggu pelaksanaan hukuman mati.

Apakah mereka menunjukkan penyesalan?
Saya merasakan sedikit penyesalan pada diri Tomomasa Nakagawa, anggota sekte yang paling dekat dengan saya. Nakagawa adalah seorang mantan doktor dan salah satu orang terlibat dalam program senjata biologis sekte. Dalam sebuah insiden, yang terjadi di awal pergerakan sekte, Nakagawa dan beberapa anggota sekte menyatroni seorang pengacara yang kerap mengkritik Aum Shinrikyo. Dengan bengis, mereka akhirnya menghajar pengacara malang itu beserta anak-anak dan istrinya. Mereka dihajar dengan palu hingga tewas.

Ini adalah kejahatan yang begitu mengerikan dan nyata, bahkan lebih terasa nyata daripada melepaskan senyawa berbahaya di udara. Saya bertanya pada Nakagawa apakah dia pernah menyesal melakukan ini, dia bilang merasa gusar. Rupanya, Nakagawa menemui sang pemimpin sekte dan memprotes kejadian ini. Akibatnya, dia dikurung dalam sel kecil dan dipaksa nonton video ceramah Shoko Asahara selama sebulan. Nakagawa bilang setelah itu ia tak pernah memikirkan hal itu lagi. Lalu, ketika saya tanya apakah dia menyesal lantaran ikut serta dalam serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo, dia bilang 'sayangnya tidak."

Tapi bukannya kata "sayangnya" menandakan kalau sebenarnya dia merasa bersalah? Nah, itu benar. Menurut saya, setelah dipenjara dalam waktu lama dan bersentuhan dengan masyarakat yang lebih luas, rasa bersalah itu muncul. Tapi begitu dia kembali ke sekte, satu-satunya kekecewaannya adalah bahwa dirinya tak bisa merasakan penyesalan. Bagi saya, ini menunjukkan bagaimana organisasi seperti ini bisa menciptakan sebuah dunia yang mengisolasi pengikutnya dan mendorong mereka mengikuti seorang mesias. Kalau sudah begini, apapun yang dikatakan orang akan cuma jadi angin lalu.

Lalu bagaimana dengan anggota sekte ini yang ada di Australia. Saya dengar mereka berada di sana kemungkinan membangun dan menguji coba bom nuklir? Rasanya itu hampir tidak mungkin. Dalam wawancara kami bicara tentang senjata nuklir tapi tak satupun berhasil jadi kenyataan. Malah, ide-ide mereka tentang senjata nuklir terhitung kelewat fantastis.

para komuter di rumah sakit via

Lalu, apa yang mereka kerjakan di Australia?
Kami sedang menyelidiki kemungkinan mereka menguji coba senjata pada domba. Sejauh yang kami tahu, ketika beberapa anggota Aum Shinrikyo terbang ke Australia pada 1993, mereka dicegat di bagian bea cukai karena membawa beragam senyawa kimia di tas mereka. Ada banyak carian asam sulfur dalam sebuah botol besar dan diberi tulisan sabun cuci tangan. Bea Cukai Australia menyita dua krat asam sulfur dan melepaskan mereka. Sepertinya, mereka membeli asam sulfur lebih banyak setelah berhasil masuk. Beberapa waktu kemudian, polisi Australia menemukan 29 mayat domba di sebuah fasilitas. Hasil tes dari mayat domba ini menunjukkan adanya jejak asam yang konsisten dengan gas sarin. Meski ada penemuan seperti ini, kami sayangnya tak punya akses untuk membaca laporan polisi Australia jadi aku memasukkan kasus ini dalam kategori "belum jelas." Intinya, saya percaya mereka menguji gas sarin di Australia bukan uji coba bom nuklir.

Dengan semua pengalaman tersebut, apakah anda merasa lebih paham tentang psikologi sekte agama sempalan macam ini?
Ya, tapi saya rasa banyak percobaan telah dilakukan untuk memahami sebuah sekte. Ada buku yang sering saya rekomendasikan. Ini adalah salah satu buku terbaik tentang terorisme yang sama sekali tak membahas tentang terorisme. Judulnya Among the Thugs. Buku ini sebenarnya tentang kekerasan dalam sepakbola Inggris. Di dalamnya, dikisahkan kelompok hooligan jadi beringas di akhir Minggu kembali alim di hari-hari kerja. Saya pikir kekerasan lah yang menyatukan komitmen para fans sepakbola garis keras ini. Sepintas ini mirip seperti seks. Kamu bisa segera menikmatinya dan merasakan ada kaitan yang kuat antara satu sama lain. Kamu enggak mikir apapun di luar itu. Seks berfungsi sebagai pelarian dan hiburan yang menyenangkan. Dalam beberapa hal, ini yang bikin Aum Shinrikyo begitu kuat sekaligus menyebabkan sekte ini hancur.

Laporan Richard Danzig yang dirilis pada 2012 tentang program senjata pemusnah massal Aum Shinrikyo bisa dibaca di sini .

Follow Julian di Twitter