Keuangan Pribadi

Pertemanan Berat Sebelah Bisa Bikin Kondisi Keuanganmu Morat-Marit

Menraktir atau meminjami duit ke teman tentu tak berdosa sama sekali. Cuma, kalau kamu terus-terusan jadi pihak yang mengeluarkan uang, itu pertanda ada masalah besar dalam "persahabatan" kalian.
19.11.18
Dua sahabat berantem
Ilustrasi oleh Getty Images / kali9

Menjadi salah satu orang yang sukses secara finansial di antara kawan-kawanmu itu bukan perkara gampang. Belum lagi, jika ada semacam konsensus bahwa siapa yang sukses dulu sebaiknya "membantu kawan yang masih susah."

Terlepas dari apapun pencapaian finansialmu—ngekos dengan biaya sendiri semasa kuliah atau jadi yang pertama menerima gaji, tuntutan untuk berbagi kesenangannya tetap sama. Sayangnya, kadang kita tak bisa membedakan mana pertemanan sungguhan dan mana pertemanan yang berat sebelah, apalagi jika uang terlibat di dalamnya.

Jika beban finansial terus-terus ditanggung oleh satu orang saja dalam sebuah pertemanan, kondisi ini bakal memicu sejumlah momen-momen kikuk. Yang paling parah, pihak yang “ditugasi” menjadi penanggung ongkos-ongkos pertemanan biasanya dimanfaatkan. Makanya, bila kamu pernah punya pengalaman kurang asoy macam jadi orang yang mentraktir teman-temanmu yang masih pengangguran makan-makan saat kamu ultah, atau merasa terbebani untuk membayari hotel yang lebih manusiawi pas liburan bareng atau sering ikhlas teman yang berutang tak mengembalikan utang lantaran kita dianggap “paham dengan penderitaan sesama,” kalian pasti ngerti banget pertemanan macam apa yang saya maksud.

Terus bagaimana pertemanan berat sebelah ini bisa pelan-pelan bisa mengganggu kondisi keuangan kita? Berikut paparan pendek kenapa hal itu bisa terjadi.

Utang yang jumlahnya enggak seberapa bisa bikin pertemanan amburadul

Pernah suatu kali, seorang teman datang menemui saya. Dia bilang dia butuh pinjaman karena ada keperluan mendadak. Jumlahnya tak seberapa. Cuma Rp3 juta saja. Dia bilang uang sebanyak itu bakal dikembalikan dalam jangka waktu beberapa minggu saja. Lantaran waktu itu keuangan saya lagi stabil-stabil saja—indikasinya saya punya penghasilan tetap, ada sedikit tabungan untuk keperluan-keperluan tak terduga dan tak memiliki hutang, saya enteng saja mengiyakan permintaan hutang teman saya itu. Malang, setelah beberapa minggu, teman saya itu secara sepihak mengubah uang itu. Dari pinjaman jadi pemberian alias hadiah,

Yang bikin runyam lagi, kami ketemuan secara teratur. Dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, mana pernah dia menyinggung-nyinggung perkara uang Rp3 juta itu, apalagi kenapa dirinya belum bisa melunasinya. Parahnya lagi, teman saya yang satu ini malah lebih sering ngobrol tentang malam-malam liar yang dihabiskan di klub-klub malam. Sebagai manusia biasa, saya semestinya bisa mengemukakan kekecewaan saya. Sayangnya, dia teman saya. Alhasil, saya dengan berat hati mengikhlaskan uang itu. Dalam hati, saya ngomong “Baiklah, pertemanan kami harganya jauh tinggi dari Rp3 juta. Kami mungkin tak sampai ribut tapi seiring waktu, saya makin merasa dimanfaatkan. Konsekuensinya, saya cuma mau nongkrong dengan teman saya yang satu itu kalau sedang kongkow ramai-ramai. Jelas, dia sudah lama saya keluarkan dari daftar teman terdekat saya.

Jangan sampai rasa bersalah jadi panglima kebijakan finansialmu

Jenis pengalaman seperti di atas bisa bermacam-macam, dari teman yang suka banget datang ke kosan cuma buat ngabisin snack di kamarmu sampai teman yang nebeng di kosan tapi ogah ikutan patungan bayar sewanya. Sebagai orang yang dianggap sudah lebih mandiri secara finansial, rasa bersalah jadi orang yang sukses dulu bisa terwujud menjadi rasa tanggung jawab yang merugikan dan keharusan membereskan masalah finansial teman-teman kita. Jika dibiarkan, ini bisa bikin kita lelah, bete dan mengidap stres-stres yang enggak perlu.

Makanya, jika sudah berurusan dengan persinggungan antara pertemanan dan uang, ada tiga hal yang seyogyanya kita camkan. Pertama, sadarilah bahwa uang yang kita pinjamkan pada teman enggak mutlak bakal dikembalikan. Jadi, bila kita sudah dari awalnya tak rela kehilangan uang, kita tak semestinya memberi utang. Kedua, kesepakatan antara dua teman dan ekspektasi bahwa janji-janji teman kita akan ditepati tak selalu berjalan selaras. Ada perbedaan mendasar antara “tenang, gue bisa bantu lo kok” dan “Gue sih ngarepnya ko bisa balikin uang ini sebelum cicilan rumah gue jatuh tempo bulan depan.” Penggunaan bahasa lebih jelas—alih-alih kalimat-kalimat pendek yang terkesan menyepelekan nilai uang—akan mengesankan kamu benar-benar serius ingin uangmu dikembalikan dan memperbesar peluang hal itu terjadi.

Terakhir, pastikan kamu tahu teman-teman mana saja yang bisa kamu pinjami uang. Perilaku buruk macam gampang mengingkari janji, gampang nebeng ke orang lain, dan menganggap enteng kerugian yang disebabkan oleh keteledoran mereka adalah pertanda jika teman-temanmu punya masalah yang lebih besar dari sekadar bokek. Nilai pertemanan memang tak bisa diukur dengan uang. Cuma, misalkan kamu jadi orang yang tugasnya membayar ongkos-ongkos pertemanan, mungkin sudah saatnya kamu mengevaluasi ulang nilai pertemanan tersebut buat kamu.

Menunjukkan rasa kasihan pada teman itu boleh-boleh saja, selama kamu tidak mengesampikan kebutuhan finansialmu. Lagipula, salah satu bagian penting dari pertemanan adalah mengakui dan menghargai batas. Jika kamu dan temanmu tak sepakat dengan dua hal ini, mungkin kalian tak ditakdirkan untuk berteman.

Follow Julien Saunders di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di FREE