kesehatan

Komodo Adalah Penyelamat Manusia Menghadapi Bakteri Super Penangkal Antibiotik

Darah komodo ternyata mengandung protein khusus yang dihasilkan dari liur mereka yang juga penuh bakteri dan terkesan menjijikkan.
31 Mei 2017, 11:56am
Photo by Tambako The Jaguar/ Flickr CC License

Komodo mungkin mulutnya menjijikkan (hasil jutaan tahun tak pernah gosok gigi). Setidaknya, temuan ilmiah terbaru menunjukkan bila bakteri di liur mereka bisa menyelamatkan umat manusia.

Tim peneliti dari George Mason University (GMU) di Virginia, Amerika Serikat, berhasil memproduksi senyawa kimia sintetik mirip dengan darah Komodo yang membunuh bakteri yang kebal antibiotik. Senyawa ini di saat yang bersamaan mendorong pertumbuhan sel tubuh agar luka sembuh dalam waktu singkat. Hasil penelitian, yang diterbitkan Jurnal Nature Partner Journal Biofilms and Microbiomes, menarik perhatian banyak pihak karena bisa menjadi solusi atas mewabahnya resistensi manusia modern terhadap antibiotik akibat bakteri berjuluk superbugs.

Luka yang dirawat memakai cairan kimia sintetik tersebut—saat ini disebut dengan nama DRGN-1—akan sembuh lebih cepat dibanding yang dirawat memakai cara biasa. DRGN-1 membongkar selaput yang menempel pada luka sebelum benar-benar membasmi bakteri. Mekanisme ini tak dijumpai pada antibiotik. DRGN-1 juga mampu mempercepat regenasi sel kulit pada pasien.

"Hasil uji klinis menunjukkan bakteri dari liur komodo berhasil mempercepat proses penyembuhan luka," kata Monique van Hoek, salah satu peneliti dari GMU saat dihubungi The Huffington Post.

Keampuhan obat ini, rupanya, justru terbantu oleh kebiasaan hidup komodo yang memang jorok di habitat aslinya. Hewan yang diperkirakan sudah hidup sejak akhir era dinosaurus ini menjadi satwa endemik Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sejak lama para peneliti mengira liur komodo mengandung bermacam bakteri berbahaya yang bisa memicu infeksi jika ada manusia atau hewan sampai tergigit. Setelah diperiksa lebih lanjut, rupanya mulut komodo tak semenjijikan bayangan awal. Bahkan, kajian terbaru menyatakan rangkaian gigi komodo (plus liurnya yang selalu menetes itu) lebih bersih dibanding singa atau Tasmanian Devil.

Ilmuwan sekarang menyadari jika gigitan komodo bukan penyebab utama mangsa-mangsa mereka mati. Justru, kebanyakan tewas karena kehabisan darah daripada infeksi.

Selain itu, keunikan lain dari kadal raksasa ini adalah kemampuan mereka memproduksi protein khusus untuk mengatasi infeksi. Ande Kefi, pakar dari Taman Nasional Komodo, menyatakan bayi komodo sering mati jika makan daging yang sudah busuk. Seiring bertambahnya usia, banyak komodo menjadi lebih resisten terhadap bakteri, bahkan yang paling ganas sekalipun, berkat produksi protein khusus di tubuhnya. Kefi menyatakan penting bagi para ilmuwan untuk terus meneliti hewan langka ini, terutama demi mencari solusi atas penyakit resisten-antibiotik yang di masa sekarang terus berjangkit.

"Indonesia sangat kaya dengan tanaman dan binatang endemik yang memiliki kemampuan menyembuhkan yang ajaib," ujar Kefi saat dihubungi VICE Indonesia. "Komodo cuma salah satu spesies saja. Kita harus bekerja sama dengan pakar internasional to menangkarkan dan mengembangkan populasi Komodo serta melakukan penelitian terhadap pemanfaatan potensi bagi umat manusia. Jelas, kita butuh lebih pakar lokal yang mau ikut serta dalam proyek penelitian yang terinspirasi kekayaan alam Indonesia."

Resistensi terhadap antibiotik akibat bakteri super berjuluk superbugs menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan salah satu ancaman kesehatan paling serius tahun lalu. Apabila tubuh manusia menolak antibiotik, maka akan banyak penyakit tak bisa tertangani dan dapat berujung pada kematian pasiennya.

Salah satu pemicu berjangkitnya resistensi terhadap obat antibiotik ini ditengarai akibat kesalahan perusahaan farmasi di masa lalu. Pemberian resep antibiotik dilakukan tanpa kendali, serta harga jual kelewat murah, memunculkan bakteri imun terhadap obat yang kini telah memicu kematian 700.000 orang di seluruh dunia setiap tahun.