Ada Lho Hari Baik buat Mencuri, Selama 9 Tahun Dua Pencuri di Jateng-DIY Membuktikannya

Bertahun-tahun buron, keduanya tertangkap polisi karena melanggar arahan kitab Primbon yang dianggap magis dalam kebudayaan Jawa.
27.8.19
Ada Lho Hari Baik buat Mencuri, Selama 9 Tahun Dua Pencuri di Jateng-DIY Membuktikannya
Ilustrasin pencuri [kiri] via Pixabay/lisensi CC 2.0; ilustrasi aksara Jawa via Wikimedia Commons/Domain Publik

Rudianto (39) dan M. Adnan Rifai (27) adalah dua pencuri yang sangat mempercayai Primbon, kitab Jawa berisi panduan hidup, ramalan, serta taksiran hari baik. Saban menjalankan aksinya, keduanya selalu mempertimbangkan hitung-hitungan kalender Jawa sebagai acuan. Sudah sembilan tahun cara ini dipakai Rudi dan Adnan tanpa pernah tertangkap, membuat mereka terus menjadi buruan polisi.

Sampai pada Jumat (23/8) pekan lalu, mereka akhirnya diperkenalkan Polres Magelang sebagai tahanan baru.

Percaya atau tidak, Rudianto merasa penangkapan itu terjadi karena ia secara nggak sengaja melanggar hitung-hitungan kalender Jawa yang ia buat sendiri. Saat ditangkap ia sedang berada di satu acara temannya di Pakis, Magelang, yang mana menurut Primbon, hari itu seharusnya dia tidak boleh berada di sana.

"Saya kan menghadiri pernikahan teman di Pakis. Setelah acara selesai, saya ditangkap. (Dari) hitungan [Jawa] itu, semestinya bukan ke arah itu [Pakis], tapi saya terjang," tutur Rudianto, dikutip Borobudur News. Sedangkan rekannya, Adnan, terlebih dahulu ditangkap saat sedang mengunjungi rumah temannya di Klaten.

Rudianto dan Adnan mengaku sudah beraksi di 28 lokasi sekitar Jawa Tengah serta Yogyakarta. Dalam jumpa pers, Rudi menjelaskan cara menentukan tempat dan hari pencurian menurut kalender Jawa.

"Saya biasanya jalan dulu, terus menggunakan pitungan (perhitungan) Jawa. Hitungan itu menurut nama kampung. Misalnya sekarang hari Jumat Kliwon: Jumat ada 8, Kliwon 8, jumlahnya 16. Terus nama kampung misalnya Magelang, dihitung dari Hanacaraka Datasalawa Padhajanya Magabathanga [aksara Jawa-red]. Ma ada 18 ditambah 16 (hasil) tadi ada 34, kemudian dibagi 7," ujar Rudiantoro menjelaskan matematika Primbondengan cara yang cuma bisa dipahami Primbon enthusiasts.

Untuk lebih mengerti maksud Rudiantara, saya kemudian mencari-cari info di internet soal primbon untuk mencuri, lalu munculah blog Primbon Mujarobat. Blog ini berisi cara menghitung keberuntungan agar sang maling sukses dan selamat. Kalau Anda mau belajar cara hitungnya, silakan merapat ke blog tersebut atau ke artikel ini. Menurut saya, yang menarik justru bukan cara hitungnya, melainkan aturannya yang banyak danspesifik.

Misalkan, ketika seorang pelaku berniat maling dan sudah menentukan hari eksekusi, hitungan Primbon membuat pelaku paham pintu sebelah mana yang bisa dilalui agar selamat, pintu sebelah mana yang berbahaya, dan pintu sebelah mana yang bisa menyebabkan kematian. Selain itu, primbon akan memberi tahu jam berapa rekomendasi aksi pencurian sebaiknya dilakukan. Rudianto sendiri menjelaskan mereka menghindari bulan purnama saat mencuri. Pantangan ini disebabkan bulan purnama membuat bayang-bayang mereka terlihat dari jauh.

Terlepas dari benar atau tidaknya cara hitung ini serta siapa pujangga Jawa masa lalu yang niat amat bikin panduan sukses mencuri, Kabag Ops Polres Magelang Kompol Ngadisa mengatakan, dua pelaku itu berhasil nyolong di dua TKP di Magelang, satu TKP di Boyolali, empat TKP di Klaten, tiga TKP di Wonogiri, 10 TKP di Bantul, dan 11 TKP di Sleman.

“Menurut pengembangan dan penyidikan, sasaran utama barang-barang elektronik. Ada hape, ada TV, laptop,” ujar Ngadisa kepada Detik. Korban terakhir Rudianto dan Adnan bernama Fitri Agustiningrum (39) yang kehilangan laptop dan tiga ponselnya pada 5 Juli 2019 lalu.

Duh, sembari menulis soal beginian, ingatan saya langsung nostalgia menuju kompilasi iklan-iklan legendaris di Tanah Air, yang bisa kalian simak cuplikannya di atas.