Memberantas Misogini Dalam Kancah Musik Heavy Metal Lewat Tagar #KillTheKing
metaltoo

Memberantas Misogini Dalam Kancah Musik Heavy Metal Lewat Tagar #KillTheKing

Kami ngobrol bersama perempuan yang melawan misogini dan pelecehan seksual di kancah metal. Pertanyaannya, bisakah muncul gerakan sekelas #MeToo di dunia musik gahar?
19.3.18

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Di sebuah festival musik yang diadakan di venue Södra Teatern di Stockholm bulan lalu, band thrash-black metal kontroversial Destroyer 666 menyerang tagar #MeToo, sebuah gerakan global melawan kekerasan seksual dan misogini yang berusaha menciptakan perubahan sosial. Lebih tepatnya, mereka mengutarakan kemarahan mereka terhadap #KilltheKing, sebuah kampanye terinspirasi #MeToo yang dimulai oleh organisasi Swedia dan dipimpin tiga perempuan dalam upaya melawan pelecehan, perlakuan kejam dan misogini dalam komunitas metal setempat.

Iklan

Nama Destroyer 666 disebut dalam pernyataan awal #KilltheKing sebagai contoh dari toxic masculinity yang menjangkit komunitas metal secara keseluruhan. Ini menyulut kemarahan frontman Keith “K.K. Warslut” Destroyer begitu dia dan bandnya menginjakkan kaki di atas panggung kota asal pergerakan tersebut. Surat kabar Swedia StockholmDirekt menjadi yang pertama melaporkan kelanjutan dari kisah ini dan memberikan Noisey versi terjemahan Inggris mereka.

Menurut StockholmDirekt, frontman gemuk tersebut melontarkan kemarahannya terhadap gerakan tersebut dan juga perempuan secara umum. Dia berteriak ke mikrofon, “Beberapa perempuan di negara ini memiliki masalah dengan kami. Saya tahu apa yang mereka butuhkan. Kontol ngaceng! Persetan dengan orang-orang brengsek politis ini. Lagu ini didedikasikan ke orang-orang brengsek dari Kill the King.”

Setelah laporan StockholmDirekt diterbitkan, Södra Teatern buru-buru meminta maaf secara publik dan mencela pernyataan si band. Menurut booking agent di sana, gig tersebut bukan dicetuskan oleh venuenya sendiri, tapi lewat sebuah promotor lokal yang masih memiliki koneksi ke Destroyer 666—yang menurut Johanna Carlberg, kepala komunikasi Södra Teatern, tidak akan diundang lagi untuk bermain di situ. Noisey meminta komentar dari label band tersebut, Season of Mist, tapi tidak menerima respon hingga artikel ini ditayangkan.

Sejak itu, Destroyer 666 telah diusir dari sebuah acara tanggal 16 Maret di DNA Lounge, San Francisco. Mereka seharusnya dijadwalkan untuk menjadi artis pembuka band black metal Swedia, Watain dalam tur Amerika Utara mereka. Menurut laporan Brooklyn Vegan, acara tersebut dibatalkan setelah penyelenggara mendengar tentang insiden Stockholm. Acara tersebut dipindahkan ke venue lain sesuai permintaan Watain agar rekan-rekan tur mereka tetap bisa bermain sesuai rencana. Pernyataan Facebook Destroyer 666 soal isu ini sangat agresif dan diakhir dengan kalimat singkat “Persetan dengan mereka semua! Pantang menyerah!”

Iklan

Seiring drama Destroyer 666 terus berlanjut (dan terus meluas seiring tur terus berjalan hingga gig terakhir di Gramercy Theatre, New York pada tanggal 31 Maret), para perempuan yang terlibat dalam kekisruhan ini tetap bertahan tegas dan teguh.

“Tidak heran bahwa Destroyer 666 terus mempermalukan diri mereka sendiri seperti ini,” kata Emelie Draper, juru bicara grup anti-rasis Swedia, Heavy Metal Against Racism dan salah satu penyelenggara #KilltheKing ke StockholmDirekt menyusul aksi marah-marah Destroyer 666 di panggung. “Sayang sekali saking mediokernya musik mereka, mereka harus mengisi set mereka menangisi eksistensi kami. Namun ini bisa dilihat sebagai bukti kenapa #killtheking ada dan akan terus ada, hingga pesan kami menyebar luas."


Baca juga liputan VICE tentang pelecehan seksual di kancah musik Indonesia:

Ketika saya menghubungi penyelenggara #KilltheKing lainnya, Emmy Sjöström—yang aktif mengorganisir festival Heavy Metal Action Night di rumahnya di Stockholm—dia menjelaskan kenapa Destroyer 666 sebagai contoh perwujudan hal-hal yang ditentang pergerakan tersebut.

“Kami menyebutkan Destroyer 666 di pernyataan awal karena mereka adalah contoh yang jelas,” ujarnya via Skype. “KK mengejek semua orang, terutama perempuan, dan dia tahu kami eksis dan kami sudah cukup menganggunya hingga kemudian ketika manggung di Stockholm dia menyisihkan waktunya untuk menghina kami. Dia melakukan segala hal yang kami tuduh dia lakukan, dan dia menggali lubang kuburannya sendiri.”

Iklan

Sjöström tidak sendiri dalam pertarungannya ini. Dia didukung oleh sekelompok perempuan metalhead Swedia lainnya dari Dear Darkness, sebuah komunitas feminis Instagram berisikan penggemar musik metal. Ada juga Heavy Metal Against Racism, sebuah grup yang melawan rasisme, misogini, homofobia, dan transfobia lewat media sosial dan aksi organisasi dunia nyata.

Menurut Sjöström, para perempuan ini terinspirasi oleh gerakan #MeToo Swedia dan melihat kemiripan antara diskusi tersebut dengan apa yang mereka alami sebagai penggemar metal dan anggota dari komunitas metal Swedia. Masih banyak lagi yang juga turun serta mendukung gerakan ini. Jurnalis metal Sofia Bergström berbagi pengalamannya sendiri tentang misogini dalam dunia metal lewat sebuah kolom opini surat kabar harian Swedia, Aftonbladet, menyebut #KilltheKing sebagai inspirasinya untuk buka mulut. Sekitar 1.381 orang menandatangani petisi #KilltheKing.

“Revolusi #metoo berkembang sangat besar di Swedia dengan cepat, dan memunculkan berbagai petisi di beberapa area,” jelas juru bicara Dear Darkness, Frida Calderon. “Perempuan dalam industri musik memulai petisi mereka, dan kami masuk ke situ dan memulai petisi sendiri untuk kancah musik hard rock dan metal—karena komunitas ini selalu dimarginalisasi secara umum dan terutama bagi perempuan dan orang-orang non-biner. Ada kultur bungkam yang sangat kuat, dan kita perlu menghapus itu agar para perempuan bisa berbicara.”

Iklan

“Kami merasa ini juga terjadi terhadap kami dalam komunitas metal,” jelas Sjöström. “Kami harus memulai pemberontakan kami sendiri karena situasinya sudah sangat parah. Kami sudah sangat lelah, ini saatnya membunuh sang raja. Jadi kami memulai pemberontakan ini, menyebarkan ke orang ini saatnya mengakhiri dominasi laki-laki; ini saatnya mulai memperlakukan perempuan dan individu non-biner secara setara. Cukup sudah. Bunuh sang raja.”

Pada Januari 2018, para feminis dari kancah metal itu memulai aksi riilnya.

Mereka mengunggah manifesto #KilltheKing di media sosial pada 11 Januari, menyebut band macam Destroyer 666, Pentagram dan Venom Inc. Ini langsung menarik perhatian, dan Sjöström mengatakan reaksi awalnya sangat positif. Banyak perempuan dan orang non-biner menghubungi mereka untuk mengucapkan terima kasih karena mengambil inisiatif dan membahas isu yang epidemik. Biarpun mereka menghadapi beberapa reaksi negatif di Facebook (“Orang di Facebook yang tidak bernama atau menampilkan wajah mengatakan kami adalah perek-perek bodoh dan seharusnya tinggal di rumah, ya komentar-komentar basi gitu lah, tapi tinggal kami hapus dan abaikan,” kata Sjöström sambil tertawa) dan respon penuh amarah dari penggemar metal misoginis yang membenci perempuan karena membuka mulut atau menyebut band-band favorit mereka, perhatian positif yang mereka dapatkan menginspirasi mereka untuk terus maju, memperluas #KilltheKing ke luar dari kota kelahiran mereka menjadi gerakan metal global.

Mereka juga bergerak dengan cepat. Apabila Heavy Metal Action Night dan Heavy Metal Against Racism terus bertarung di bawah payung #KilltheKing dan ketiga grup ini saling bekerja sama, Dear Darkness baru-baru ini justru berubah menjadi sebuah proyek baru. Sebuah postingan baru di halaman Dear Darkness mengumumkan sebuah kampanye baru, nama baru, dan tagar baru: #MetalToo.

“Gerakan #metoo dan #killtheking harus terus melibatkan semua orang—semua gender, kebangsaan, kewarganegaraan,” tulis postingan tersebut. “Kita harus bersatu tanpa kenal perbatasan, perempuan, non-biner, dan lelaki, guna menciptakan komunitas hard rock dan metal yang setara. Komunitas di mana kita semua bisa berbagi gairah untuk musik secara setara dan aman, sebagai sebuah tim. Musiklah yang mempersatukan kita, dan musik juga yang seharusnya menjaga kita terus bersatu.”

Iklan

Sebagai bagian dari fase penyadaran, gerakan #MetalToo telah mengumpulkan cerita dari perempuan-perempuan di seluruh penjuru di dunia tentang bagaimana kekerasan seksual, pelecehan dan misogini telah memengaruhi kehidupan mereka sebagai penikmat musik metal. Testimoni-testimoni—umumnya bernada serupa—dipacak di laman Instagram Dear Darkness. Beberapa diantaranya berkisah tentang kekerasan seksual oleh musisi dan fan metal yang bikin siapapun yang membacanya naik pitam. Aftonbladet juga telah mencetak 20 dari semua cerita yang dikumpulkan oleh #MetalToo.

“Salah satu hal yang kami lakukan adalah memulai grup Facebook rahasia untuk perempuan dan kaum non-binary. Grup ini adalah kanal aman tempat kamu berbagi cerita—kalian bisa ceritakan pada apa yang terjadi pada kami dan kamu bisa menemui perempuan lain atau non-pria yang mendengarkan dan memberimu dukungan,” ujar Sjöström. “Beberapa cerita yang sudah kami kumpulkan sangat mengerikan. Ini adalah cerita tentang kekerasas, perkosaan dan serangan seksual. Ini terjadi di setiap festival di Swedia. Tiap gig, ada sesuatu terjadi yang harusnya tak menimpa siapapun. Membaca kisah-kisah ini—atau dalam kasus saya, mengalaminya sendiri—bakal mengoyak-ngoyak dirimu karena orang lain tak menganggapmu serius. Orang paling bilang dengan enteng “ya elah, kamu kan tinggal di Swedia. Kejadian macam ini enggak pernah terjadi di sana.” maaf ya, hal ini memang terjadi di sini.”

Iklan

Menurut Sjöström, reputasi negara-negara Skandinavia sebagai negara yang menjunjung tinggi kesetaraan gender, memiliki standar kehidupan yang tinggi dan kebahagiaan penduduknya bisa menyamarkan masalah-masalah ini. Praktek kekerasan seksual yang terjadi di skena metal di sana terlalu sunyi di balik pemberitaan yang menyanjung Swedia, wacana energi bersih hingga kegemaran penduduknya ngetroll Trump di Twitter.

“Swedia dipandang sebagai negara yang menjunjung tinggi kesetaraan. Teorinya memang begitu, prakteknya enggak,” katanya. “Dalam komunitas metal, kami harus lebih keras berjuang untuk membuktikan kemampuan kami dari musisis pria, kapan pun dan dimana pun. Kamu sudah jengah diperlakukan seperti ini. Kami cuma pengin jadi bagian skena, setara seperti orang lainnya. Kami cuma pengin nontong gig, kamu ingin mabuk-mabukkan, ngerti kan? Kami gila metal, sama gilanya seperti penggemar metal pria. Kami cuma jadi bagian komunitas metal dan diperlakukan sama.”

“Kami paham betul bahwa tingkah polah seperti ini ditemui di masyarakat global dan skena metal, tanpa terkecuali. Apalagi mengingat ini adalah komunitas yang didominasi pria,” imbuh Carlderon. “Warga Swedia punya sejarah memerangi ketidakadilan, ini yang jadi modal kami sampai di sini. Para perempuan dari generasi sebelum kami pernah menuntut tunjangan orang tua, kontrasepsi, dana perawatan anak, aborsi gratis dan telah memberikan sumbangsih besar dalam pembentukan masyarakat Swedia saat in. jadi, kami sadar bahwa adalah hal yang mutlak kami lakukan.”

Iklan

Nama awal kampanye gerakan, #KilltheKing, dicetuskan oleh Heavy Metal Against Racism. Saat saya ngobrol dengan juru bicara lainnya dari gerakan ini, Banesa Martinez, seorang DJ metal dengan pengalaman yang panjang, dia menegaskan persinggungan antara sifat memberontak dari gerakan ini dan bagaimana rasisme struktural menyusup masuk ke komunitas metal lewat masyarakat Swedia pada umumnya.

“[Masalah-masalah sosial di Swedia] sangat beragam, mulai dari masalah ketersediaan pekerjaan, segregasi, profiling rasial dan layanan kesehatan. Isu-isu ini akan terus ramai diangkat dalam beberapa bulan ke depan karena punya partai rasis yang sedang naik daun,” jelasnya, merujuk pada partai nasionalis anti imigrasi, Sweden Democrats, yang bakal ikut ambil bagian pemilu Swedia 9 September mendatang. Partai ini didirikan pada 1988 oleh seorang veteran SS, seorang Neo-Nazi dan seorang skinhead rasis.

Martines lantas menegaskan bahwa imej Swedia yang ramah akan perjuangan feminisme kerap mengaburkan isu-isu yang penting bagi perjuangan #KilltheKing. “Target serangan utamanya adalah kaum muslim. Namun, kejahatan kebencian mengalami peningkatan dengan merebaknya serangan pada para pencari suaka dan sinagog,” terangnya. “Organisasi yang menggarap isu-isu ini jarang mendapatkan pendanaan dari pemerintah, dan kami masih berjuang melawan perlakuan yang tak adil terhadap para korban pemerkosaan di pengadilan. Lebih dari itu, angka perempuan yang jadi korban pembunuhan oleh orang yang mereka kenal masih tinggi dalam standar Swedia. Persetujuan untuk melakukan operasi baru turun dalam beberapa tahun, itu juga kalau disetujui.”

Iklan

Saat remaja, Martinez masih mengingat anggota Nazi nonton gig black metal. Seiring bertambahnya umur, Martinez berani menegur mereka dan “berakhir dipukuli di sebuah festival oleh rasis setempat yang doyan ribut. Mereka semua memakai sepatu berujung baja.” Bagi Martinez (dan semua perempuan yang terlibat dalam gerakan ini), perjuangan ini sifatnat personal.

Calderon mengatakan ketiga grup ini terbentuk dengan sendirinya, dan segera akrab lantaran kesamaan misi dan pengalaman mereka sebagai perempuan muda di skena metal Swedia. Ketiga perempuan mengaku pada Noisey mulai mencintai metal sebelum menginjak usia belasan, namun merasa tak pernah diakui meski kecintaan mereka sangat dalam terhadap genre musik ini. Mereka malah kadang dirisak karena keengganan mereka memenuhi peran gender feminin, dianggap “groupie” dan ditantang untuk menunjukkan pengetahuan metal mereka.

“Tumbuh besar sebagai seorang gadis di Kepulauan Baltik dalam sebuah komunitas kelas menengah yang biasa saja, saya harus rela menyembunyikan preferensi musik saya agar bisa diterima,” kenang Calderon. “Saya dianggap tomboi dan ketakutan kalau-kalau preferensi musik saya bakal bikin stigma ini makin parah, karena bagi saya waktu itu, tumbuh besar menjadi seorang gadis punya satu tujuan memenuhi tuntutan struktur patriarkis untuk menjadi cantik, menyenangkan, atraktif dan mudah beradaptasi. Saat itu, memakai kaos band metal, memakai Dr Martens dan malas mengenakan make up dianggap kurang girly—dan ini akan membuatmu kurang ngetren di karangan para cowok. Saat ini, saya bisa bilang skena metal sebagai sebuah komunitas global besar, bukan lagi sebuah subkultur. Saya harap ini bisa membuat kaum non-pria merasa lebih nyaman dengan preferensi musik mereka. Sayangnya, yang terjadi dalam seksisme dan obsesi akan pemapulan yang makin menguat.”

Iklan

Lalu, apa yang akan dilakukan #MetalToo selanjutnya? Dominasi global, salah satunya. Dan memang, itulah yang diincar oleh koalisi di Sweia dini. Tak tanggung-tanggung, mereka sudah mulai persiapan menggagas cabang #KilltheKing di bebarapa negara berbeda. Calderon mendorong mereka yang berminat bergabung dengan gerakan ini dengan ikut serta dengan memacak tagar #KilltheKing, menandatangai petisi, membagi pengalaman mereka (kerahasiaan terjamin) dan mendirikan grup-grup kecil di tempat mereka untuk terus berjuang melawan seksisme, misogini dan kekerasan seksual.”

“Semangat pemberontakan sangatlah jelas—membagi cerita, mendukung satu sama lain dan menyadari bahwa ini semua bukanlah salah perempuan secara individu, namun ada semacam permasalah struktural yang berpangkal pada peran gender pria yang merusak, serta bagaimana semua ini mempengaruhi beragam hidup kita dalam segala aspeknya,” kata Martinez. “struktur patriakris berusaha menghalang-halangi kami, mengopresi kami dan mengerdilkan peran kami lewat struktur sosial, aturan masyarakat yang saklek dan norma yang mengatur bagaimana kami melihat diri kami dan orang di sekitar kami.

Ketika cerita mulai berdatangan ke #KilltheKing, kami tak kaget membaca pengalaman mengerikan di dalamnya—kami kaget betapa luasnya sebaran cerita ini dan jumlah orang yang mengalami peristiwa yang sama. Beberapa dari mereka berani membeberkan nama pelakukanya. Band dan venue akhirnya kecipratan konsekuensinya. Ini yang bikin kami bekerja lebih keras dan makin fokus dengan jalan yang kami pilih.”

“Banyak perempuan yang menghubungi kami dari luar Swedia. Mereka bilang “anjir, kami juga butuh gerakan ini,” imbuh Sjöström. Sepertinya, tak sedikit perempuan dan kaum non pria mencapai titik jengah yang membuat Sjöström dan kawan-kawannya memulai #KilltheKing.

“Kalau kamu sudah menjadi bagian skena metal selama lebih dari sepuluh tahun, semua terjadi padamu terasa saling tumpang tindih dan kamu bakal mikir “memangnya aku harus diperlakukan seperti ini? Apakah aku ingin menghabiksan hidupku seperti ini? Saya malah makin geram,” ungkapnya. “Saya melihat dengan jelas seksisme dan praktek misogini dalam skena dan orang membiarkan saja karena ‘dari dulu juga begini, bodo amat deh.’ Okay, tapi aku mau peduli karena ini hidup saya. Saya sudah kadung marah dan sekarang kami marah bareng-bareng.”

“Metal dari dulu selalu melawan arah,” kata Sjöström menyimpulkan semangat gerakannya. “Kalau kamu lihat apa yang terjadi di seluruh penjuru dunia, maskulinitas yang beracun mengacau di mana-mana begitu juga rasisme dan migogini. Sudah semestinya metal melawan kondisi ini. Kalau kamu ingin benar-benar jadi metal dan anti kemapanan, kamu harusnya tak menjalankan peran “alpha male” begitu saja. Kamu harusnya berjuang bersama kami karena gerakan kami sudah jelas sangat provokatif bagi orang lain. Metal seharusnya provokatif dan dalam cara pandang ini, kami melakukan perjuangan kami dengan benar.”

Kim Kelly adalah editor Noisey; follow dia lewat Twitter