Film

Trilogi Film 'Lord of The Rings' Nyaris Digarap Quentin Tarantino Lho

Untung saja proyek yang akhirnya melegenda ini tak jatuh ke tangan produser brengsek macam Harvey Weinstein. Pasti bapuk banget hasilnya.
7.5.18
Sumber foto asli sebelum diedit dari Gabe Ginsberg/Getty Images.

Dalam alam semesta paralel, yang barangkali tak begitu berbeda dari dunia kita sekarang, bayangkanlah Peter Jackson tidak pernah membuat trilogi film Lord of the Rings. Dia tidak pernah pergi ke Selandia Baru. Dia bahkan tidak pernah memilih Elijah Wood sebagai Frodo. Kenapa? Karena di dunia paralel, dia tidak pernah menjadi sutradara film petualangan peri dan Hobbit di Middle Earth. Baiklah. Membayangkannya aneh sih.

Iklan

Mungkin trilogi film legendaris itu tidak begitu buruk walau tak digarap Peter Jackson. Sayangnya, pengandaian tersebut nyaris betulan terjadi. Satu film dari rangkaian trilogi Lord of the Rings sempat akan diserahkan penggarapannya kepada sutradara nyentrik Quentin Tarantino. Hasilnya sangat mungkin jelek banget kalau sampai kejadian.

Saya enggak bohong. Berdasarkan nukilan Anything You Can Imagine, sebuah buku nonfiksi tentang awal perjuangan Peter Jackson mewujudukan mimpinya membuat adaptasi film Lord of the Rings. Ternyata triologi ini nyaris saja berakhir di tangan Harvey Weinstein seperti dilaporkan surat kabar the Guardian.

Mari kembali ke momen akhir dekade 90an. Saat itu Jackson sedang mengembangkan naskah adaptasi Lord of the Rings bersama studio Miramax. Presiden Miramax saat itu, Harvey Weinstein—produser yang terbukti punya perilaku brengsek banget sama perempuan—mendorong Jackson untuk memadatkan saja ketiga novelnya menjadi satu film Lord of the Rings. Ide Weinstein tadi, yang dikutip dari memonya pada 1998 kepada Jackson, bakal memotong adegan perang melawan Balrog, tak akan ada pertempuran Helm’s Deep, bahkan mungkin tokoh antagonis Saruman tak akan muncul di sepanjang durasinya, merujuk hasil liputan Stuff.

ackson menolak tawaran tadi. Dia bilang versi dipadatkan kayak gitu, “dijamin akan mengecewakan setiap orang yang pernah membaca buku Lord of the Rings.” Weinstein dilaporkan mengancam bakal mendepak Jackson dari posisi sutradara, lantas menggantikannya dengan Quentin Tarantino.

Iklan

“Harvey bilang, ‘Kamu sebaiknya memilih. Pendekkan filmnya atau tidak sama sekali. Kalau tidak, kamu keluar. Aku punya Quentin yang siap untuk menyutradarai film ini,’” kata produser Ken Kamins menirukan ucapan Weinstein, saat diwawancara Ian Nathan penulis buku Anything You Can Imagine.

Jackson akhirnya berpisah dengan Miramax. Dia beralih menawarkan proposalnya ke New Line Cinema. Di studio inilah, dia diizinkan membuat trilogi sesuai keinginannya. Sisanya adalah sejarah. Tentu saja kita tertarik membayangkan, kayak gimana ya film Lord of the Rings andai jadi disutradarai Tarantino. Sebenarnya, hasil akhirnya mungkin bakal mengerikan.

Begini ya, tidak dapat dipungkiri bahwa Quentin Tarantino adalah sutradara jenius. Setengah dari film-filmnya sejauh ini adalah dianggap karya klasik sinema dunia. Tarantino sukses membangkitkan gairah baru sinema independen Amerika selama dua dekade terakhir. Masalahnya, karya Tarantino yang paling mendekati genre fantasi adalah skenario From Dusk Till Dawn. Untunglah Trantino cukup sadar diri untuk tidak memaksakan jadi sutradar film persahabatan Frodo dan Sam. Selain itu, ide Weinstein memampatkan cerita novel 455.000 kata dalam film berdurasi dua jam pastinya hampir mustahil, tidak peduli siapapun sutradaranya.

Konon sih, ancaman Weinstein pada Jackson mungkin hanya gertak sambal. Saat diskusi itu berlangsung, Tarantino baru kelar menggarap Jackie Brown. Pada 1997, Tarantino belum terlalu dianggap sebagai sutradara ikonik yang terbukti yang bisa dipercaya dengan proyek film epik sebesar itu. Nah, karena sekarang reputasi Tarantino dan gaya estetiknya sudah paten, jadi mungkin Amazon bisa menghubungi Tarantino tentang seri Lord of the Rings yang baru. Terutama karena sang sutradara nyentrik nampaknya mulai senang sama konsep franchise besar sekarang ini.