Berduka Karena Anjing Lebih Berat Ketimbang Ditinggal Manusia

“Banyak penelitian menunjukkan hubungan kita dengan anjing lebih memuaskan ketimbang hubungan dengan manusia.”
15.4.18
Foto ilustrasi oleh Unsplash/Adam Griffith

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Baru-baru ini, istri saya dan saya mengalami salah satu hal yang paling menyedihkan dalam hidup—euthanasia anjing kami, Murphy. Saya ingat melakukan kontak mata dengan dia sebelum dia mengembuskan napas terakhirnya—dia memberikan tatapan bingung sekaligus meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik saja karena kami berdua ada di sisinya.

Saat orang-orang yang tidak pernah punya anjing melihat kawannya yang memiliki anjing berduka karena peliharaannya mati, mereka mungkin berpikir itu berlebihan; lagipula, itu kan “cuma anjing.”

Namun, orang yang pernah menyayangi anjing tahu kebenarannya: Peliharaanmu tidak pernah “cuma anjing.”

Pada banyak kesempatan, kawan-kawan saya bercerita pada saya bahwa mereka lebih sedih saat anjing mereka mati ketimbang saat teman atau saudara mereka meninggal dunia. Riset telah mengonfirmasi bahwa bagi sebagian besar orang, kematian anjing mereka, mirip dengan kematian seseorang yang amat dicintai. Sayangnya, tidak banyak dijelaskan cara-cara membantu melewati proses berduka atas kematian peliharaan, sehingga kita lebih malu untuk menunjukkan bahwa kita sedang berduka karena anjing peliharaan mati.

Mungkin kalau orang-orang sadar betapa kuat dan intens ikatan antara manusia dan anjing mereka, kesedihan macam itu akan diterima secara luas. Dan para pemilik anjing bisa terbantu mengintegrasikan kematian ini dalam hidupnya dan akhirnya move on.

Tapi kenapa sih manusia bisa begitu dekat dengan anjing?

Pertama-tama, anjing harus beradaptasi dengan manusia lebih dari 10,000 tahun lalu. Dan mereka sudah beradaptasi dengan baik: Mereka satu-satunya hewan yang telah berevolusi secara spesifik untuk menjadi teman manusia. Antropolog Brian Hare telah mengembangkan “Domestication Hypothesis” untuk menjelaskan bagaimana anjing-anjing berubah dari nenek moyang mereka, serigala, menjadi hewan yang berketerampilan sosial yang kini berinteraksi dengan cara sama seperti kita berinteraksi dengan manusia.

Mungkin satu alasan hubungan kita dengan anjing-anjing bisa lebih memuaskan ketimbang hubungan dengan manusia adalah anjing-anjing memberikan umpan balik yang positif dan tanpa syarat. (Seperti pepatah lama: “May I become the kind of person that my dog thinks I already am.”)

Ini bukan kebetulan. Anjing telah dikembangbiakkan dari generasi ke generasi untuk memperhatikan orang-orang dan pindaian MRI yang menunjukkan bahwa otak anjing bereaksi pada pujian dari pemilik mereka sekuat saat mereka bereaksi pada makanan (dan bagi sebagian anjing, pujian adalah insentif yang lebih baik daripada makanan). Anjing mengenali manusia dan bisa belajar menginterpretasikan kondisi emosional manusia dari ekspresi wajah semata. Penelitian ilmiah juga mengindikasikan bahwa anjing-anjing bisa memahami niatan manusia, mencoba membantu pemiliknya, dan bahkan menghindari manusia yang tidak memperlakukan pemilik mereka dengan baik.

Tidak mengejutkan bahwa manusia bereaksi positif pada kasih sayang, kesetiaan, dan pertemanan seperti itu. Melihat anjing saja bisa membuat orang tersenyum. Pemilik anjing memiliki skor lebih tinggi pada pengukuran kesejahteraan dan mereka lebih bahagia, secara rata-rata, dibandingkan orang-orang yang memiliki kucing atau tidak memiliki peliharaan.

Kedekatan kita pada anjing diuangkapkan dalam sebuah penelitian baru-baru ini berjudul “misnaming.” Misnaming terjadi saat kamu memanggil seseorang secara keliru, seperti orangtua yang memanggil anak mereka dengan nama kakak atau adiknya. Ternyata nama anjing keluarga juga suka tertukar dengan nama anggota keluarga, mengindikasikan bahwa nama anjing tersebut diambil dari bagian kognitif yang sama yang menyimpan nama-nama anggota keluarga. (Tapi hal ini jarang terjadi dengan kucing.)

Pantas saja pemilik anjing sangat merindukan anjing mereka setelah mereka mati.

Psikolog Julie Axelrod menyatakan bahwa kematian seekor anjing sangat menyedihkan karena pemilik tak sekadar kehilangan peliharaan. Itu juga berarti kehilangan sumber cinta tak bersyarat, kawan primer yang menyediakan rasa aman dan nyaman, dan bahkan protégé yang bisa dimentor seperti anak-anak.

Kematian seekor anjing juga bisa mengganggu rutinitas pemiliknya, lebih-lebih daripada kematian sebagian besar teman-teman dan saudara. Bagi pemilik, jadwal harian mereka—bahkan jadwal liburan mereka—bisa berpusat pada peliharaan mereka. Perubahan-perubahan gaya hidup dan rutinitas adalah sumber utama stres.

Menurut sebuah survey baru-baru ini, banyak pemilik peliharaan bahkan bisa menyangka bayangan atau pergerakan tertentu sebagai gerak-gerik peliharaannya yang sudah mati. Hal ini mungkin terjadi tak lama setelah anjing mereka mati, terutama di kalangan pemilik yang memiliki ikatan erat dengan peliharaan mereka.

Meski kematian seekor anjing sangat parah, pemilik anjing sangat terbiasa dengan kehadiran anjing mereka yang selalu mengasihi dan tak pernah menghakimi. Sehingga, pada kasus kebanyakan, mereka akan memiliki anjing baru.

Begitulah. Saya kangen sama anjing peliharaan yang sudah mati. Tapi saya yakin saya akan melalui rasa duka yang sama beberapa tahun mendatang.


Frank T. McAndrew adalah guru besar psikologi di Knox College. Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation.