Musik

Damascus Berhasil Lepas Dari Kutukan Biasa Menimpa Band Shoegaze Indonesia

'Painted Road' semoga jadi pertanda LP perdana mereka berjudul 'SUPERBLASTER' bakal berisi materi asyik. Rilisan ini penting mengingat banyaknya band shoegaze lokal bertumbangan sebelum merilis album debutnya.
Foto dari arsip pribadi Damascus.

Damascus, unit shoegaze yang aktif di kancah musik independen Jakarta sejak 2007, tampaknya percaya pada pepatah satu ini: lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Semangat itu mereka usung saat merilis single bertajuk 'Painted Road' lewat label Dismantled pada pertengahan Januari 2017. Single ini beberapa pekan lagi bakal disusul dengan peluncuran album perdana SUPERBLASTER.

Shoegaze, dan subgenrenya dream pop, senantiasa punya tempat tersendiri bagi penikmat musik Indonesia. Uniknya, band-band yang menggeluti genre tersebut seringkali terperangkap pada lubang hitam yang seakan-akan mengisap segala jenis produktivitas. Tak terhitung lagi band yang langsung bubar setelah merilis demo dan mini album. Sedikit sekali yang selamat sampai tahap merilis full LP. Damascus lepas dari kutukan macam itu (untuk sementara) dengan merilis materi setelah sekian lama berkarya dari panggung ke panggung.

Iklan

Dengan karir bermusik membentang nyaris 12 tahun, Damascus belum pernah merilis album penuh. Ekspektasi pendengar yang mengharapkan shoegaze segar setidaknya langsung terpenuhi mendengar materi single mereka. Riff gitar yang memorable menyambut kita sejak detik pertama 'Painted Road', menandai kalau karir panjang itu berhasil dimampatkan dalam lagu shoegaze kuat dan berkarakter.

Keempat personel Damascus adalah musisi veteran yang aktif pula di band independen lain, mulai dari The Sastro, Morfem, dan masih banyak lagi. 'Painted Road' menggambarkan kematangan musikalitas tiap personel. Lagu ini sekilas macam materi shoegaze klasik yang akan kau dengar pada dua dekade lalu, lengkap bersama distorsi manis hingga melodi-melodi yang mudah nempel di kepala.

Peter Andriaan Walandouw, gitaris Damasucs, adalah salah satu pendiri label rekaman independen Anoa Records. Saat diwawancarai VICE Indonesia, dia sendiri kesulitan memberi alasan kenapa bandnya harus menanti sekian lama untuk mempersiapkan materi album perdana. Baginya masalah Damascus jamak dialami musisi independen lokal lainnya, yang harus membagi waktu antara pekerjaan harian dan musik yang didalami sebagai hobi. "Banyak hal [yang bikin rilis tertunda]. Selain kendala kerjaan dan waktu…kita tuh suka molor jadwal, lalu juga mood," kata Peter. Untunglah, Peter dkk mengaku akhirnya bosan menunda-nunda, berhenti menjadi perfeksionis, lalu menuntaskan final mixing 'Painted Road'. "Intinya ini single memang kelamaan banget baru nongol."

Jika materi lain dari SUPERBLASTER sekuat 'Painted Road' seharusnya Damascus tidak perlu lagi menunda-nunda. Selain itu, bolehlah penikmat musik lokal memasang ekspektasi lebih tinggi selama menantikan rilisnya album debut mereka.

Dengarkan single "Painted Road" di tautan ini: