Andai Istilah-Istilah Ini Tak Muncul Sepanjang 2017, Dunia Pasti Lebih Damai
Ilustrasi oleh Dini Lestari.
Shit Indonesian Says

Andai Istilah-Istilah Ini Tak Muncul Sepanjang 2017, Dunia Pasti Lebih Damai

Berikut pemetaan VICE terhadap titik terendah kebudayaan populer Indonesia dari segi linguistik.

Selamat datang kembali di kolom Shit Indonesians Say. VICE berusaha menelisik kebiasaan verbal orang-orang di Indonesia yang tumbuh subur, diinternalisasi, dimaklumi, sampai dianggap wajar dalam pergaulan sehari-hari. Padahal kata atau istilah itu bermasalah banget.


Segala sesuatu yang viral di internet berpengaruh banget sama hidup orang-orang Indonesia. Rasanya hidup belum afdhol kalau enggak ngikutin tren di media sosial, misalnya nyebarin meme/broadcast guyonan yang dianggap lucu (padahal muka kita lempeng-lempeng aja pas ngeliatnya). Sebutannya FOMO (Fear of Missing Out), takut ketinggalan isu yang lagi trending. Yang lebih ngeselin, FOMO sering dituduh diidap anak muda. Padahal faktanya, banyak orang tua, terutama om dan tantemu di grup whatsapp, sengaja memakai kosakata viral biar dianggap gaul. Dari bidang linguistik, kami memetakan beberapa istilah yang ngetren banget. Perlu digarisbawahi, sebagian kosakata tersebut lahir awalnya dari komunitas meme dan shitposting media sosial. Artinya, pengaruh mereka benar-benar besar sekarang di Indonesia. Apalagi ketika pejabat setingkat menteri sudah ikut-ikutan memakainya dalam sambutan di hadapan guru-guru. Tinggal tunggu waktu sampai anak meme bikin ormas lalu menyaingi partai yang sering mengumandangkan mars di televisi untuk mencuci otak penduduk benua maritim ini. Tak ada yang salah dari segala kosakata trending. Namanya juga ngetren. Tapi istilah-istilah berikut pemakaiannya sudah di luar kendali. Kata-kata yang dipetakan tim VICE ini menggambarkan titik-titik terendah lanskap budaya pop Indonesia sepanjang 2017. Untunglah, sebagaimana tren lainnya, semua istilah yang masuk daftar berikut pasti bakal digantikan kosakata lain (yang mungkin sama ngeselinnya) tahun depan. Kalau sampai masih bertahan, hhhh, itu bakal jadi mimpi buruk banget pastinya.

Iklan

Kids Zaman Now

ARRRGGGHHHH….

Cringy banget tiap kali dengar istilah ini. Gabungan antara malu, emosi, awkward, sama keinginan membuncah untuk menghabisi siapapun yang dulu pertama kali mencetuskan frasa 'Kids Zaman Now'. Rasa eneg itu bertambah, tiap kali mendengar orang berusia di atas kepala empat memakainya di hadapan kita, karena mereka merasa bisa relate. STOP. HENTIKAN. Segera kirim istilah ini ke liang kubur.

Selain masalah overdosis pemakaian, konteks kelahiran istilah ini juga bermasalah banget. Mau bilang anak zaman sekarang aja susah amat alias sok-sokan Inggris. Lagi pula enggak penting mau ngebandingin anak zaman sekarang dengan zaman dulu. Semua orang punya pendapat soal zaman yang dialaminya, justru orang-orang yang selalu bernostalgia dengan masa lalu itu yang enggak berpikiran maju. Saya termasuk generasi 90-an, tapi enggak pernah mengklaim bahwa masa itu adalah masa keemasan. Orang tua zaman sekarang juga bakal bilang kalau generasi 70-an adalah yang terbaik. Semua zaman kerasa enak selama pengeluaran ente dibayarin sama ortu.

Tercyduk

Awalnya saya pikir kata ini muncul dari koran kuning yang suka menjual berita kriminalitas sensasional. Rupanya dari komunitas meme. Lalu semua orang dikit-dikit ngomong dan nulis tercyduk ketika ada seleb masuk pemberitaan bernuansa negatif atau ada netizen kegep melakukan hal-hal memalukan. Ah elah tong, yang enak diciduk cuma cendol.

Eta Terangkanlah…

Lagu reliji diplesetin dengan vokal sember dan suara kendang dari mulut sebagai latar belakang. Konon ini plesetan muncul April lalu. Abis itu pada rame-rame bikin video parodi dan versi macem-macem. Hampir sama ngeselinnya seperti 'Kids Zaman Now'. Untung memasuki tahun baru, orang-orang udah pada lupa kayaknya.

SJW

Social Justice Warrior. Alias orang yang suka memperjuangkan keadilan sosial. Harusnya sih bermakna bagus. Tapi sejak dipakai pendukung Trump, lalu diimpor ke Tanah Air, dipakai kelas menengah untuk nyinyir kepada lawan politiknya artinya menjadi peyoratif. Biasanya yang kena adalah influencer, sosok pendukung warga korban penggusuran dan aktivis perempuan atau yang mengadvokasi kelompok minoritas seksual. Sebagian kritik terhadap mentalitas SJW ada benarnya, apalagi kalau dari si aktivis cum influencer juga ogah membuka ruang dialog. Masalah terbesarnya, labelisasi macam ini sekaligus berdampak menghentikan diskusi yang penting di level subtansi. "Aku enggak setuju kalau demi pembangunan infrastruktur masyarakat di sekitar proyek bandara harus digusur tanpa ada upaya relokasi. Kupikir masih ada solu…"

"SJW!!!!"

Iklan

Kayak gitulah ilustrasinya.

PAPA

Drama terbaik sekaligus terburuk dalam upaya pemberantasan korupsi tanah air tahun ini. Tiba-tiba saja, satu sosok politikus bermasalah harus kita anggap sebagai papanya seluruh bangsa Indonesia. Yakin mau menjadikan orang yang berupaya menghindari proses peradilan, memberangus meme, hingga terlibat salah satu skandal korupsi paling parah dalam sejarah republik sebagai papa kalian? Kami sih ogah.

Saya Suka Kemewahan

Sepaket nih sama Papa. Gara-gara kasus yang membelit Setya Novanto, sosok mantan pengacaranya, Frederich Yunadi, jadi ikut tenar. Entah apa yang merasuki si pengacara, ketika diwawancarai Najwa Shihab dia malah melantur ke sana kemari menceritakan kegemarannya menghabiskan banyak uang di luar negeri. Ketika direspon pengguna Internet, yang muncul adalah perlombaan saling kere.

Belum pernah rasanya kemewahan berkonotasi sejelek ini. Andai liputan Panama Papers dan Paradise Papers ramai juga di Indonesia, rakyat Indonesia harusnya makin curiga sama semua orang yang gemar mewah-mewah. Tapi waspada. Kalau kalian mempertanyakan dari mana sumber kekayaan orang yang "suka kemewahan", bisa saja langsung dianggap oleh purnawirawan delusional sebagai bagian dari puluhan juta pendukung partai terlarang yang siap bangkit lagi di Indonesia.

BABY SHARK DOO DOO DOO DOO

Satu-satunya yang patut kita syukuri dari viralnya lagu ini adalah satu fakta berikut: adik, ponakan, serta anak tetangga kita tak lagi keracunan Mars Perindo.

GABENER/CEBONG/BANI TAPLAK/SEMUA HINAAN PARTISAN

Istilah-istilah di atas lahir dari kelompok yang anti Presiden Joko Widodo dan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Lambat laun, kubu Jokowi-Ahok juga melontarkan hinaan balik. Namanya hinaan tak ada yang positif dari sana. Niatnya dari awal berantem. Tawuran aja gih, lebih konkret. Manalagi tahun depan pilkada serentak, setahun setelahnya pemilu presiden, haduuuhh.. Hinaan 'kreatif' bernuansa partisan adalah realitas baru Internet yang menyebalkan, tapi kayaknya belum akan hilang dalam waktu dekat.

Hoax

Banyak kabar yang sulit diverifikasi kebenarannya sekarang di media sosial. Persoalannya sekarang semua orang akan teriak tak karuan; ini hoax, itu hoax. Sebagian memang hoax beneran. Tapi tak sedikit sekadar efek saling lempar cap hoax, terutama di forum-forum FB kubu politik tertentu. Informasi (tak valid) menguntungkan kubu tertentu dianggap fakta, sementara yang berseberangan langsung dijuluki hoax. Barangkali inilah yang dinamakan banjir hoax. Asal tak suka sebuah kabar, sebut saja hoax. Menapis hoax bukan berbasis verifikasi fakta, tapi berdasar perasaan. Untunglah, ada kolom ini (promosi dikit boleh ya sekali-kali) supaya kalian tidak terisap dalam lubang hitam hoax.