Warga dari Suku Tolai di Papua Nugini memilih tetap memakai cangkang kerang atau tabu sebagai alat tukar.
Warga dari Suku Tolai memilih tetap memakai cangkang kerang atau tabu sebagai alat tukar. Foto oleh Claudio Sieber

FYI.

This story is over 5 years old.

Budaya

Di Papua Nugini, Satu Suku Masih Pakai Cangkang Siput Sebagai Alat Pembayaran

Rekan kami dari VICE Asia menyelami budaya suku Tolai yang menakjubkan. Mereka membarter cangkang siput dengan bahan makanan seperti beras dan minyak.

Di saat mata uang kripto dan fintech semakin berkembang, warga East New Britain di Papua Nugini memilih tetap bertransaksi menggunakan mata uang berupa cangkang kerang. Oleh warga setempat, alat tukar ini dijuluki Tabu.

Papua Nugini sudah 43 tahun merdeka dari otoritas Australia, tetapi anggota suku asli Tolai masih setia menggunakan uang cangkangnya. Praktik kuno ini berhasil melewati banyak hal—pendudukan Jerman dan Australia yang berlangsung lama, pengaruh kuat sistem pendidikan Katolik, dan perkembangan ekonomi serta globalisasi yang luas.

Iklan

Suku Tolai, yang beranggotakan 120.000 orang, menggunakan benda laut ini untuk membeli sembako di desa setiap harinya. Tabu juga berperan penting dalam semua kegiatan budaya.

Cangkang digunakan untuk berbagai hal, mulai dari upacara inisiasi, pernikahan, acara pemakaman, pesta makan babi hingga menentukan hierarki yang kaku dalam suku Tolai. Tabu tidak mudah dibikin, sehingga alat tukar ini amat berharga bagi si penerima.

Tabu terbuat dari cangkang Nassariidae atau siput lumpur Nassa. Para warga akan mencarinya sendiri di tepi pantai. Bahkan ada yang sampai menyelami lautan untuk mendapatkannya. Setelah terkumpul, hasil tangkapan mereka akan dijemur hingga siputnya mengering. Siput-siput ini lalu dibawa ke pelabuhan Rabul untuk dikasih obat hama dan dicuci dengan deterjen supaya tidak bau lagi. Kemudian, bagian atas setiap cangkang akan dipotong menggunakan tang. Cangkang-cangkang itu lalu dirangkai membentuk lingkaran untuk disimpan dan digunakan saat berdagang.

Tabu Shell Money

Warga Suku Tolai memungut kerang Nassariidae di tepi pantai. Foto oleh Claudio Sieber

Masyarakat Tolai dapat menggunakan tabu secara langsung dan tidak langsung. Penggunaan langsung yaitu untuk membeli kebutuhan pokok dan jajanan, seperti beras, es krim, minyak, sosis, pinang, rokok, kacang dan lain-lain. Uang cangkang digunakan dalam upacara pernikahan, di mana lelaki akan membayar orang tua perempuan untuk menikahi putrinya. Acara inisiasi anak laki-laki juga membutuhkan tabu. Apabila ada yang meninggal, warga akan memecahkan cangkang atau mewariskannya kepada klan.

Iklan

Alat tukar ini juga berfungsi sebagai hadiah ulang tahun dan kompensasi. Anggota masyarakat akan urunan tabu saat pesta makan babi. Perselisihan bahkan bisa diselesaikan dengan cangkang siput. Tabu juga bisa ditukar dengan Kina, mata uang resmi Papua Nugini. Mereka menukar tabu untuk transaksi tidak langsung, seperti membayar SPP sekolah atau pajak, berobat ke rumah sakit, melunasi utang, atau membeli peralatan, mobil atau perlengkapan rumah tangga.

Sirkulasi uang cangkang di Semenanjung Gazelle, East New Britain, diperkirakan bernilai enam hingga tujuh juta Kina (Rp32 miliar), menjadikan daerah ini sebagai hotspot untuk aktivitas barter kuno di dunia. Namun, kegiatan ini bermasalah. Bertambahnya populasi Tolai meningkatkan permintaan akan cangkang Nassariidae. Akibatnya, ekosistem di pantai East New Britain habis karena diambil dengan cara yang tidak berkelanjutan. Pantai-pantai ini tak lagi dianggap sebagai sumber mata uang laut tanpa batas. Suku Tolai akhirnya tak punya pilihan lain selain mengimpor uang cangkang baru dari provinsi Papua Nugini terdekat atau bahkan Kepulauan Solomon.

Sistem kas, ATM, dan perusahaan pinjaman sudah ada di Papua Nugini selama berpuluh-puluh tahun lamanya, tetapi suku asli Tolai masih mengandalkan uang cangkang. Butuh waktu lama bagi mereka untuk menyesuaikan diri dari gaya hidup mandiri ke perekonomian yang memanfaatkan uang. Untuk saat ini, mereka berusaha keras menyeimbangkan antara uang kertas Kina, koin Toea, dan tabu.

Iklan

Simak praktik unik suku Tolai lewat serangkaian foto di bawah ini.

Tabu Shell Money

Steven, seorang warga Tolai, menyelam di perairan dangkal mencari kerang untuk jadi maskawin. Foto oleh Claudio Sieber

Tabu Shell Money

Kerang itu tak bisa langsung dibarter. Warga Tolai akan mengupas dulu cangkang pakai obeng, baru kemudian dirangkai dengan benang. Foto oleh Claudio Sieber

Tabu Shell Money

Di pasar Kokopo, warga menjual Tabu dengan mata uang resmi Papua Nugini Kina. Permintaan tabu tetap tinggi di kalangan Tolai, karena alat tukar maskawin, biaya pemakaman, hingga ulang tahun semua butuh Tabu. Foto oleh Claudio Sieber.

Tabu Shell Money

Seorang anak muda Tolai bisa memakai Tabu untuk beli minuman soda di minimarket. Foto oleh Claudio Sieber

Tabu Shell Money

Dalam upacara adat kematian Lua Akuila, pemimpin Suku Tola, maka simpanan tabu yang dipunyai mendiang kepala suku haru dipecah dan dibagikan ke anggota suku lainnya. Foto oleh Claudio Sieber

Tabu Shell Money

Charles Zale, calon pengantin, membawa maskawin ke rumah mempelai perempuan. Tabu sebanyak itu kira-kira senilai Rp211 ribu. Foto oleh Claudio Sieber

Tabu Shell Money

Beberapa anggota klan Tolai dari desa berbeda-beda membuat pentas mengenang kedatangan pendeta zending ke tanah air mereka. Di akhir pentas ini, warga dan anak-anak akan memperoleh uang kerang cuma-cuma. Foto oleh Claudio Sieber

Tabu Shell Money

Warga Tolai tak mau mengubah budaya mereka soal alat tukar. Foto oleh Claudio Sieber

Tabu shell money

Walau di desa mereka ada ATM dan bank swasta, warga Tolai tetap memilih pakai Tabu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Foto oleh Claudio Sieber

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.