Kenapa Cowok Kulit Putih Ultramaskulin Cenderung Punya Fetish Sama Perempuan Asia?
Ilustrasi oleh Dini Lestari
Fetish

Kenapa Cowok Kulit Putih Ultramaskulin Cenderung Punya Fetish Sama Perempuan Asia?

Atau lebih tepatnya, ada lho jenis cowok bule mengaku 'pegiat hak lelaki' punya target memacari cewek kayak saya—perempuan berkulit sawo matang dari Indonesia.
Syarafina  Vidyadhana
Diterjemahkan oleh Syarafina Vidyadhana
9.1.18

David Bond berupaya meyakinkan saya bahwa semua orang keliru, bahwa dia bukan laki-laki mesum yang mengerikan. Upaya itu kemudian dia gagalkan sendiri dengan melontarkan sebuah “pujian” untuk saya: “Kamu punya bibir yang indah. Sangat menggemaskan.” Begitulah kira-kira interaksi saya dengan Bond (nama aslinya David Campbell). Bond ini menyebut profesinya sebagai “digital nomad”, meniti karirnya di dunia vlog dengan berkeliling Asia, menimbulkan kengerian di kalangan perempuan karena memposting video-video petualangannya via YouTube.

Iklan

Saat saya wawancarai, dia kerap membela diri dari tuduhan-tuduhan bahwa dia termasuk rasis, masuk kategori sexpat, atau bisa dibilang troll yang memiliki fetish terhadap perempuan orang Asia. Tak lama setelah sibuk membantah ini-tiu, Bond santai saja bercerita soal video ketika dia “main jet ski sama cewek dengan tetek 700 CC memantul-mantul.”

Kata-kata Bond tak sejalan dengan perilakunya. Setelah berkoar-koar bahwa dia tidak rasis, dia berkunjung ke Indonesia, mengajak kencan seorang perempuan berhijab, lalu mengedit rekaman kencan mereka dengan tambahan suara ledakan dan seruan “Allahu Akbar!” (Video itu telah dihapus dari kanalnya di YouTube setelah mendapatkan kritik keras dari berbagai media di Indonesia.)

Bisa dibilang, perilaku Bond hanyalah gambaran kecil dari masalah yang lebih besar. Dan yang saya maksud bukan sekadar laki-laki dengan fetish Asia. Itu mah sudah ada dari dulu. Saya juga tidak sedang membicarakan tentang irisan diagram venn antara aktivis hak laki-laki, cowok ultramaskulin, lelaki incel (involuntarily celibate), pick-up artist, dan pembela supremasi kulit putih (alias alt-right) yang tampaknya menggandrungi perempuan-perempuan Asia.

Saya menghubungi Bond karena ingin memahami asal mula tindakannya. Apa, sih, yang membuat laki-laki tukang merayap di kolong-kolong internet begitu terobsesi sama perempuan Asia? Apa yang bisa kita pahami dari Bond—lelaki bule yang tergila-gila dengan perempuan Asia dan menganut nilai-nilai libertarian—soal alasan laki-laki sepertinya terus mencoba meniduri perempuan Asia seperti saya? “Saya sama sekali enggak suka perempuan kulit putih,” ujarnya pada saya. “Saya sering mengolok-olok cewek Bule. [Mending] ngewe sama cewek Muslim… Saya selalu tertarik dengan [cewek] Asia/ Latin dan di kota asal saya enggak ada cewek-cewek itu. Saya rasa enggak aneh [untuk menyukai cewek Asia]. Toh ada cewek-cewek yang naksirnya sama cowok kulit hitam…” “Apa ada alasan tertentu sama seleramu itu?” tanya saya. “Banyak cowok India yang suka cewek kulit putih,” jawabnya. “Enggak ada alasan lah. Akhir-akhir ini saya naksir cewek-cewek Muslim—tapi cuma yang pakai hijab. Saya enggak pernah ngelihat hijab di AS. Jadi, ya, seksi aja. Apa kamu ngelihat video saya kencan sama cewek dengan burqa? Wah, jantung saya berdebar-debar saat itu.”

Iklan

Saya bertanya Bond bagaimana dia memandang diri sendiri. Apakah dia seorang aktivis hak laki-laki? Seorang sexpat? Bond bilang dia memandang dirinya sebagai "kakak laki-laki" bagi para laki-laki yang tidak punya kesempatan berhubungan seks di dunia nyata.

“Saya toh cuma laki-laki yang gemar mendokumentasikan hidup,” ujarnya. “Saya sudah sering merekam video keseharian sebelum saya punya kanal di YouTube. Saya pernah pakai GoPro di kepala saat acara Thanksgiving. Saya, pada intinya, gemar mendokumentasikan hal-hal. Jadi beginilah saya memandang diri sendiri: bujangan yang senang sama cewek-cewek Asia, yang juga senang merekam hidup.”

Tindak-tanduk Bond sebetulnya lebih rumit dari yang dia jelaskan. Bond menjual panduan perjalanan untuk para pick-up artist dan meminta bayaran dari fans yang ingin mengakses video-video pribadinya pada situswebnya. Semua ini dibangun berdasarkan kisah pribadinya, kisah yang tampaknya dirancang untuk menarik perhatian kerumunan jenis aktivis hak-hak laki-laki. Pada usia 27 tahun, Bond merasa dia laki-laki yang tidak bahagia, kegemukan, dan pacaran sama “cewek gembil,” yang membuatnya merasa tidak puas. Jadi, dia menurunkan berat badan, resign dari pekerjaannya, lalu pindah ke Asia menjadi pick-up artist cum travel vlogger.

Tak butuh waktu lama sampai Bond cukup sukses menetap di Asia, mengunjungi negara-negara baru, sambil menggoda perempuan-perempuan Asia. Lambat laun dia menjual konten pada audiens yang terdiri dari laki-laki yang kesepian (seringkali misoginis) yang ngepost di subreddit seperti r/incels, sebuah forum untuk laki-laki yang mendaku “involuntary celibates” alias jomblo ideologis. Forum macam itu isinya penuh maskulinitas berbahaya yang berupaya menekan dan merendahkan perempuan di setiap obrolan. “Saya sadar bahwa saya bersimpati dengan cowok-cowok incel,” ujar Bond pada saya. “Karena saya tahu rasanya jadi cowok yang enggak ngerti apa-apa. Saya punya keinginan membantu cowok-cowok kayak gitu.”

Iklan

Coba amati subreddit seperti r/MensRights dan kamu bisa menemukan dua hal: 1) para laki-laki ini tergila-gila pada perempuan Asia dan 2) mereka benci perempuan “Barat”. Berikut adalah nukilan pengakuan di r/incels ketika seorang laki-laki mencoba meyakinkan sesama incel bahwa jalan keselamatan mereka ada di Asia Tenggara:

Di Thailand, JAUH lebih mudah menemukan seorang perempuan yang bukan pekerja seks yang akan senang hati bersedia jadi pacar elo dibandingkan di Barat. Gini nih gambarannya —kalau elo download Tinder dan ngeswipe kanan sampai abis, mungkin elo cuma dapat satu match di Barat. Itu kalau beruntung. Nah, di Thailand, elo bisa dapat rata-rata 10. Gue mulai ngajak mereka ketemuan, dan pada akhirnya mulai ada kemajuan. Gue ciuman sama cewek yang bukan pekerja seks sebulan setelah mendarat di Thailand, dan sebulan kemudian gue ngewe sama cewek yang bukan pekerja seks. Dan cewek ini berusia 18 tahun, perawan pula, jadi gue menang banyak lah. Yang kayak gini ENGGAK BAKAL kejadian di Inggris coy.

Intinya, kalau elo mau nasib berubah, KELUAR DARI NEGARA-NEGARA BARAT. Gue enggak punya saran lain, ini satu-satunya hal besar yang perlu dilakukan setiap incel kalau mereka mau merubah nasib malang mereka. Lupain deh buku-buku panduan diri tai kucing dan strategi pick-up artist kacangan, itu semua enggak ada gunanya. Pindah dari negara Barat dan elo akan langsung 100x lebih mudah dapet cewek.

Saran-saran tai kayak gini berserakan di berbagai forum Internet. Dari subreddit misoginis seperti r/TheRedPill, subreddit pick-up artist seperti r/seduction, sampai poster-poster di r/InterracialDating. Gagasan umumnya adalah para laki-laki ini berpikir ada yang salah dengan perempuan di Barat—terutama perempuan kulit putih. Pengguna Reddit di atas kemudian menangkap sentimen tersebut dengan menulis:

Gue enggak habis pikir. Saat cewek-cewek kulit putih tiba di Asia, perlahan mereka semakin putus asa karena MEREKA tidak dipuja-puja. Kocak banget ngelihat cewek-cewek ini, yang tadinya paling diinginkan di tempat asal mereka, tiba-tiba enggak ada yang naksir (karena cowok-cowok maunya sama cewek lokal).

Fantasi-fantasi (yang biasanya dimiliki laki-laki kulit putih) mendominasi perempuan Asia adalah faktor pendukung populernya pick-up artist pengembara seperti Bond yang menghasilkan uang dari audiens laki-laki. Orang macam Bond bisa dikenal hanya dengan modal menjual panduan-panduan praktis dan mengunggah video-video aspirasional ke YouTube. Intinya, orang kayak Bond memberi motivasi pada laki-laki kesepian lainnya bahwa mereka juga bisa hidup bahagia di Asia, selama mereka bayar US$20 untuk akses eksklusif pada situsweb tertentu. Contoh lain lelaki macam ini adalah Mark Zolo, penulis situsweb perjalanan sekaligus panduan seks Naughty Nomad. Meski Zolo tidak hanya membahas soal Asia, karena dia juga berkelana kemana-mana, fokusnya tetap sama: mengunjungi negara-negara asing dan meniduri perempuan-perempuan asing berbekal “panduannya.” Situsnya menawarkan panduan yang disesuaikan tiap kota secara spesifik, sampai membuat ranking tempat-tempat berdasarkan “kemungkinan bisa ngewe” dan “kualitas cewek-cewek lokal.” Berikut adalah nukilan postingan Zolo soal Jakarta:

Suatu hari, pas lagi jalan kaki gue ngasih nomor HP gue ke cewek Muslim yang CAKEP BANGET. Gue kira, enggak mungkin lah dia ngontak gue duluan—dia terlalu cakep buat gue. Eh nyatanya dia chat gue di hari gue mau cabut! Gue bilang ke dia, gue cuma punya beberapa jam jadi dia langsung mengundang gue main ke kamarnya. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, gue mulai bermanuver. Awalnya dia enggan tapi kemudian manut. Itu seks terenak dalam hidup gue —kita ngewe lagi dan lagi. Dia keenakan dan minta nambah terus! Dia adalah cewek Muslim pertama dan salah satu cewek paling seksi yang pernah gue tiduri. Jakarta emang rada brengsek, tapi yang cakep-cakep mah ada.

Semua situsweb ini menjual hal yang sama—janji bahwa ada dunia berisi perempuan asing (perempuan Asia digolongkan yang paling “gampang”) yang menanti kehadiran laki-laki berkulit putih untuk melambungkan hati mereka dan merebahkan tubuh mereka di ranjang. Ini semua soal “keahlian” yang memandang seluruh kota sebagai sarang prostitusi dan “wawasan” yang tampaknya berasal dari film-film berumur 20 tahun soal Perang Vietnam.

Sheridan Prasso memberi saya penjelasan alternatif atas tren di atas. Obsesi terhadap perempuan Asia berakar pada stereotipe budaya atas perempuan Asia di Barat, menurut penulis buku The Asian Mystique: Dragon Ladies, Geisha Girls & Fantasies of the Exotic Orient itu. Masalahnya laki-laki kayak gitu percaya banget sama stereotipe kalau perempuan Asia adalah makhluk patuh yang gencar mengencani laki-laki kulit putih. Jadi, tentu saja, di Asia Tenggara mereka bisa memperbarui sisi maskulinitas mereka yang hari-hari ini semakin tidak dihargai di Barat. “Yang bisa kita saksikan di internet adalah penyebaran komunitas di mana laki-laki yang merasa tidak berdaya dalam hidup mereka, dapat menemukan pemberdayaan lewat kelompok-kelompok yang mendukung gagasan pembaruan maskulinitas dengan mendominasi perempuan,” ujar Prasso saat saya wawancarai. “Stereotipe yang langgeng bahwa perempuan Asia adalah makhluk pasrah memperkuat fantasi-fantasi tersebut dan berusaha menegakkan peran laki-laki sebagai ‘sang maskulin’ menurut definisi budaya Barat.” Kebanyakan laki-laki bule kayak gini mengasosiasikan harga diri mereka dengan jumlah hubungan seks, kata Rachel Kuo, kandidat Ph.D yang mendalami topik hubungan antar ras di New York University. Karena mereka berpikir mereka “kurang ngewe,” rasa percaya diri mereka amblas dan kemudian menyalahkan hipergami, feminisme, atau budaya Barat.

“Saya rasa ada lanskap yang lebih luas dalam situasi para pick-up artist,” ujar Kuo. “Saya rasa hal itu lekat di Amerika Serikat, dengan sejarah supremasi kulit putih, misogini, imperialisme. Itu semua adalah degup jantung Amerika Serikat.”

Solusinya, menurut mereka, adalah sebentang lahan dongeng yang belum terpapar feminisme dan racun-racun Barat. Solusinya adalah Asia. Tapi solusi ini tidak berlandaskan realita dan perempuan telah terlalu lama menghadapi mentalitas seksis dan kolonialis ini. Perlu diingat bahwa alasan Thailand dipandang sebagai lokalisasi raksasa adalah, karena prostitusi mengikuti pasukan bersenjata AS kemana pun mereka berada. Dari Okinawa saat Perang Korea hingga Pattaya selama Perang Vietnam. Mengingat sejarah wilayah tersebut, mudah untuk menemukan benang merah dari lokalisasi era perang dan banyaknya jumlah turis gila seks dan sexpat kulit putih pensiunan yang menghabiskan dana pensiun mereka “membahagiakan” pacar-pacar Asia mereka yang jauh lebih muda, kata Kuo. “Ada sejarah intervensi militer AS di Timur dan Asia Tenggara,” ujar Kuo pada saya. “Thailand merupakan tempat rekreasi sekaligus peristirahatan bagi AS selama perang Vietnam—[dan kamu lihat sendiri] bagaimana hal tersebut berkaitan dengan masa kini, dengan turisme seks. Jadi, semua itu beroperasi pada momen seseorang berpikir, ‘Saya mau keluar negeri mencari cewek-cewek ini.’”

Artikel ini awalnya ditulis karena tindakan lelaki macam itu terasa dekat banget sama kehidupan saya sendiri. Sedikit gambaran aja buat pembaca: Saya perempuan Indonesia yang pernah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari empat tahun. Saya tahu, saya pasti pernah mengencani laki-laki seperti Bond pada satu titik. Dulu saya berpikir saya bisa langsung mengenali laki-laki seperti itu dalam kerumunan, tapi kemudian saya menyadari bahwa salah seorang mantan saya mengunjungi Myanmar setelah kami putus, dan mengencani perempuan lokal di sana. Jadi mungkin saya enggak jago-jago amat dalam mengenali laki-laki yang memandang saya dan sekadar melihat “cewek eksotis.” Kenyataannya, dunia tidak akan kekurangan laki-laki Barat yang rela menyeberangi benua dengan satu tujuan: meniduri “cewek eksotis.” Ini bukan kisah yang dimulai dan diakhiri dengan Bond. Semua ini sudah terjadi jauh sebelum YouTube, vlogger, dan pick-up artis ngetren. Mentalitas kayak gini bermula sejak dulu, saat “toxic masculinity” masih… sekadar… “masculinity.” “Para laki-laki ini mendapatkan sorotan, tapi siapa sih pasar mereka sebenarnya?” kata Kuo sembari mengingatkan saya. Ada banyak laki-laki di luar sana yang berpikir bahwa perempuan Asia merepresentasikan semacam visi super patriarkis dari sosok jodoh ideal, perlambang perempuan patuh sekaligus hiperseksual.

Kecuali kita membahas permasalahan selera sebagian kecil bule tadi secara lebih terbuka di masa mendatang, laki-laki seperti Bond bakal semakin banyak. Bahkan, mungkin saja akan tambah banyak juga jumlah penggemarnya rela membayar uang banyak karena yakin mereka juga bisa terbang ke Asia menggaet perempuan setempat. Bgst.