Kesaksian Manusia Dari Dua Sisi Tembok Pemisah Tepi Barat Palestina
Semua foto oleh Klaus Petrus.
Tembok Tepi Barat

Kesaksian Manusia Dari Dua Sisi Tembok Pemisah Tepi Barat Palestina

Sejak 15 tahun terakhir, dinding membatasi pemukiman warga Palestina dari penduduk ataupun tentara Israel. Semuanya terkena dampak pemisahan itu. Berikut curhat mereka.
14.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Switzerland

Di 2002, pemerintah Israel mulai membangun tembok pembatas di sepanjang West Bank. Bagi beberapa orang, tembok selebar 708 kilometer itu merupakan pembatas yang efektif untuk melindungi Israel. Bagi orang lain, tembok tersebut melambangkan segregasi rasial di wilayah tersebut—checkpoint memalukan yang harus dilalui warga Palestina setiap harinya. Entah apapun pendirian anda, tembok ini telah berkembang menjadi semacam simbol dari konflik yang terus terjadi.

Iklan

Di awal tahun ini, saya menyambangi West Bank dan Israel karena saya ingin berbicara dengan mereka-mereka yang tinggal dekat dengan tembok dan mencari tahu apa efek dari tembok ini ke kehidupan mereka. Dari banyak orang yang saya temui, kebanyakan terlalu takut atau tidak nyaman untuk berbicara soal topik ini—tapi untungnya 10 orang bersedia berbagi tentang tantangan yang mereka harus lalui selama 15 tahun ini.

Noor, 39, akuntan, hidup di kamp pengungsi Tepi Barat

"Adik laki-laki saya terbunuh di 2003. Mereka datang menggunakan tank di tengah malam—awalnya anda hanya mendengar bunyi siren dan teriakan, kemudian mereka mulai menembak dan menyebar gas air mata. Kami berlari ke sebuah gang untuk bersembunyi. Saya berteriak, 'Murad, bego, cepet nunduk!' Ketika dia berdiri hanya untuk sesaat, dia tertembak di tenggorokan. Murad mulai megap-megap dan batuk-batuk seiring cahaya dimatanya mulai hilang. Darahnya dimana-mana.

"Berikutnya saya ingat terbangun di dalam penjara. Saya ditahan selama 18 bulan. Ketika akhirnya pulang, kami melempar pesta perayaan selama 2 hari. Saya tidak pernah bercerita tentang seperti apa rasanya disiksa—percaya deh, itu bukan pengalaman yang anda ingin dengar.

"Kadang saya merasa tembok ini telah membungkam kami semua dan kami harus lebih sering membuka mulut tentang pengalaman kami—harapan dan ketakutan kami—tapi gimana caranya? Pernah waktu itu di Hebron, seorang lelaki tua berbicara dengan saya dalam bahasa Yahudi. Biarpun dia tersenyum dan ramah, tubuh saya mulai gemetaran. Istri saya, Dana, berusaha menenangkan saya tapi mulut saya membeku—saya hanya bisa berlari kabur seperti anak kecil."

Pos pemeriksaan Qalandia – pos utama yang memisahkan sisi utara Tepi Barat dan Yerusalem

Micha, 34, salesman sekaligus mantan tentara Israel, Yerusalem Barat

"Saya mestinya tidak mengatakan ini, tapi saya ingin jujur—saya tidak keberatan membunuh orang ketika masih bertugas di militer. Suatu kali, letnan kami menunjukkan sebuah penelitian yang mengatakan membunuh seseorang hanya berat awalnya. Setiap kali anda berhasil menembak seseorang tanpa tertembak juga, rasanya enak karena anda berhasil menang. Rasanya seperti pengalaman astral dan anda terus ingin merasakan perasaan tersebut. Di momen itu, anda tidak bisa memikirkan apakah keputusan anda benar atau salah. Setelah momen itu lewat, anda biasanya terlalu lelah untuk memikirkannya. Seorang tentara yang ingin sok-sokan filosofikal tentang aksi mereka bukanlah seorang tentara yang baik. Setelah itu, anda biasanya mulai meragukan diri sendiri. Tapi ya sudah telat.

"Saya masih terpengaruh oleh pengalaman saya sebagai tentara. Saya masih bisa melihat ketakutan di mata seorang bocah Palestina di checkpoint Qalandia. Saya masih bisa mendengar teriakan kengerian teman saya, Schmuel yang kakinya meledak akibat bom. Banyak hal yang tidak bisa saya mengerti. Masa lalu memang sudah lewat, tapi memori saya akan terus menghantui."

Fatima, 58, petani, Nablus, Tepi Barat

"Anak-anak saya sedang bermain di jalanan ketika mereka datang di satu siang di musim semi 2003. Mereka menendang jatuh pintu depan rumah saya dan mengunci kami di kamar, sementara mereka menjatuhkan foto-foto dari dinding, mengobrak-abrik furnitur, memecahkan piring dan mengosongkan kloset. Para tentara melakukan ini sambil tertawa-tawa.

"Sebuah rumah harusnya melindungi anda—menyediakan rasa amanbagi anda dan keluarga. Emang mereka segitu bencinya dengan saya sampe harus menghancurkan rumah saya? Ketika ini terjadi, saya sangat mengkhawatirkan keselamatan anak-anak saya, seakan-akan saya jatuh lumpuh. Saya membiarkan para tentara meneriaki dan menampar wajah saya. Kalau mereka datang lagi sekarang, saya tidak tahu bagaimana saya akan bereaksi. Rumah saya adalah segalanya dan mereka merenggut itu dari saya."

Pos pemeriksaan Qalandia

Ehud, 32, Insiyur, Tel Aviv

"Ketika masih bertugas sebagai tentara, kadang setelah selesai bekerja, kami menghabiskan malam bersantai dan ngebir—ngobrol tentang rencana kami setelah pensiun dari militer. Kami seakan hidup di 2 dunia yang berbeda. Kami selalu meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang kami lakukan benar. Tapi anda harus ingat bahwa di perang, semua orang tangannya terkotori.

"Tapi saya benci ketika harus menggeledah rumah orang—rasanya primitif banget. Sepuluh tentara menyerbu sebuah apartemen—menendang rubuh pintunya, menghancurkan furnitur dan menghancurkan semuanya. Ketika para wanita meneriaki kami, kami tinggal mendorong atau memukul wajah mereka. Anak-anak biasanya ketakutan dan ngumpet di pojokan atau di bawah meja. Mereka entah menangis atau menatap anda dengan matanya yang besar, penuh kengerian. Ini adalah pemandangan yang tidak bisa saya lupakan.

Iklan

"Saya selalu merasa lega ketika menemukan tumpukan senjata di salah satu rumah. Apabila kami menyerbu seratus rumah, dan menemukan senjata di salah satu rumah, maka usaha kami tidak sia sia. Saya ingin berlaku lebih sopan, tapi ini tidak mungkin. Mereka tidak melihat kami sebagai manusia, tapi sebagai monster yang mengurung dan memperbudak mereka. Setiap kali kami berlaku baik sedikit saja, kami dianggap berusaha mempermalukan—seakan-akan kami berusaha mengasihani mereka."

Saed, 34, Pekerja Sosial di Kamp Pengungsi Al-Far'a, Tepi Barat

"Selama berjam-jam, sepupu, kakak dan paman saya dipaksa duduk di blok batu kecil—kaki tertekuk, dengan kepala ditutupi oleh plastik hitam yang basah dari pupuk atau muntahan. Ketika paman saya dibebaskan dari penjara, tulang rusuknya patah dan punggungnya bengkok. Ketika tiba di rumah, dia sangat gembira, mencium tanah dan mengatakan, 'tanah ini sumber kekuatan saya!' Tapi kekuatan ini hilang beberapa hari kemudian ketika Ibu ditangkap. Setelah 3 malam, dia dibebaskan. Ketika kembali ke rumah, dia hanya mengatakan dia tidak apa-apa. Dia tidak mau menceritakan pengalamannya, jadi kami tidak bertanya.

"Saya gak pernah memikirkan balas dendam—ini akan merusak jiwa dan mengambil semua kekuatan saya. Tapi apa saya bersedia bersalaman dengan seorang warga Israel? Tidak akan pernah—dia bisa saja orang yang menyiksa Ibu saya. Saya bisa belajar untuk tinggal di samping mereka, tapi tidak bersama mereka. Kurang lebih begitu."

Anak-anak bermain di jalanan Distrik Nablus, Tepi Barat

Rahel, 31, pemasaran dan mantan tentara, Tel Aviv

"Pertama kali saya melihat seorang warga Palestina itu di 2003 di pinggir jalan checkpoint di wilayah utara West Bank. Saya baru saja bergabung dengan militer dan kami masih tengah membangun temboknya. Beberapa bulan sebelumnya, ayah teman saya cedera parah akibat serangan bunuh diri di Tel Aviv. Lengan kirinya meledak akibat bom dan kaki kirinya hancur. Jadi ketika saya berdiri di depan seorang warga Palestinia, saya berpikir, 'anjing lo dasar'. Saya tidak suka memikirkan ini sekarang.

"Setelah masa militer saya usai, saya pindah ke daerah pemukiman dekat Ramallah di West Bank, dimana dibangun banyak apartemen baru dengan harga setengah dari apartemen di Tel Aviv. Saya bisa melihat sebuah desa Palestina dari jendela dapur saya. Kadang saya sering berdiri di jendela dan menonton anak-anak bermain, para ibu bekerja di ladang dan lelaki-lelaki tua duduk mengobrol sambil merokok di pinggir jalan. Pernah ketika sedang menonton, saya mulai menangis. Saya tidak pernah berbicara dengan mereka—ada semacam dinding sosial di antara kami. Kami memiliki jalanan, bis, taksi, supermarket, sekolah dan militer kami sendiri.

Iklan

"Tinggal di sana rasanya berat sekali—saya sering tidak bisa tidur. Di saat itulah saya bertanya ke suami saya, Dori apabila kami bisa pindah, karena apartemen kami tidak berada di atas tanah Israel. Sekarang kami tinggal di Tel Aviv. Ketika hari cerah, selepas kerja, saya membawa anak-anak saya ke pantai atau jalan-jalan di kota. Di sini pemandangannya indah dan bersih. Saya jarang memikirkan soal tembok tapi saya sadar temboknya masih disitu. Saya masih takut dengan warga Palestina. Mungkin ini terdengar bodoh, tapi saya masih merasa begitu."

Bentrok antara tentara Israel dan pemuda Palestina di Kamp Pengungsi Jalazone, dekat Kota Ramallah.

Bassam, 24, desainer grafis, Hebron

"Saya tahu saya seharusnya tidak mengatakan ini keras-keras, tapi saya ingin meninggalkan negara kotor ini—saya sudah muak. Kalau anda menyetir melewati Hebron, anda akan melihat betapa kacaunya negara ini. Dulu tidak seperti ini ketika saya kecil. Tembok itu membuat kita jadi bodoh. Kita berusaha meyakinkan diri bahwa kita tidak akan kalah, bahwa kita tidak akan diusir. Bahwa suatu hari tanah kita akan bebas. Banyak orang percaya dengan ini—tapi rasanya kita akan kalah.

"Semenjak kecil, ayah selalu menyuruh saya untuk bersabar, untuk percaya bahwa masa kejayaan akan datang. Tapi ini tidak pernah datang—tembok tersebut telah mencuri waktu dari kita semua, termasuk dari warga Israel. Tidak ada kemajuan apapun. Tahun demi tahun berlalu dan tidak ada perubahan."

Kamp Pengungsi al-Am'ari di Kota Al-Bireh

Benjamin, 38, bankir dan penembak unit tank, Chadera

"Kami dikirim ke West Bank dalam operasi pembalasan serangan teroris di Netanya di Maret 2002. Kami menyebrang Nablus dan menuju kamp pengungsi Balata menggunakan tank. Bayangkan memasuki kamp pengungsi menggunakan tank—jalanannya sangat sempit, rasanya seperti di labirin. Kami diinformasikan bahwa ada banyak teroris di kamp ini dan mereka bisa menyerang dari manapun. Saya hampir kencing di celana, saya segitu takutnya waktu itu.

"Kami melakukan penyerangan 3 kali hari itu dengan kekuatan penuh. Kami merobohkan gedung-gedung dan menghancurkan atap-atap rumah yang terbuat dari besi baja. Udah kayak di film-film. Mereka mengebom warga kami, jadi kami hanya membela diri—anda pasti akan melakukan hal yang sama.

Iklan

"Sekarang saya tinggal di Chadera, dan digaji cukup untuk bisa pergi liburan dan berpesta dengan teman-teman. Kadang-kadang saya memikirkan seperti apa hidup di Nablus. Saya hanya pernah kesitu satu kali, dalam tank itu."

Meir, 40, dosen dan mantan tentara, Tel Aviv

"Saya sedang bertugas ketika pemberontakan kedua Palestina terjadi. Gak bisa disebut perang juga sih karena mereka tidak memiliki tentara. Mereka cuman punya bocah-bocah bersenjatakan batu, cocktail Molotov dan ban mobil yang dibakar—sementar penduduk dewasa memiliki senjata rusak, granat dan bom tua. Kami memiliki ribuan personil dengan tank dan helikopter, bersenjatakan senapan terbaik dunia, rompi anti peluru, kacamata penglihatan malam dan alat komunikasi. Kami memiliki akses ke peralatan manapun yang kami mau.

"Ini bukan berarti kami menjadi pahlawan atau penduduk Palestina adalah martir. Menurut pandangan saya—kami sama-sama saling menyerang. Ini seperti sebuah permainan yang menewaskan orang. Saya benci konflik ini dan gak mau membahas ini lebih jauh."

Sisa-sisa Penjara al-Fara'a dekat Nablus

Leah, 72, petani, Yerusalem Timur

"Memangnya kita bener-bener pengen punya tembok ini? Bertahun-tahun terus berperang dan hanya membangun kebencian di kedua sisi. Mungkin kita harus mulai mengibarkan bendera dan saling membela, atau mengusir semua politisi dari kedua negara.

"Saya tahu keinginan saya—saya ingin anak-anak bisa bermain di luar tanpa takut dengan siapapun. Saya ingin perumahan terbuka dimana semua orang saling percaya, hasil panen yang baik, bisa mengunjungi laut untuk terakhir kalinya, dan punya antena di atap rumah yang bekerja dengan baik dan menghabiskan beberapa hari tenang bersama suami saya, Mahmoud. Dia sebentar lagi akan mati dan saya akan sendirian."

*Semua nama telah diganti untuk melindungi identitas subyek wawancara.