Mata Uang Kripto

Seperti Tas Hermes, Bitcoin Tak Ubahnya Tren Mentereng Masa Kini

Sepuluh tahun sejak Bitcoin diluncurkan, kelangkaan mata uang ini menciptakan pasar yang lebih tepat disebut mewah daripada egaliterian.
24.2.18

Artikel ini pertama kali tayang di Garage Tahun 2012, satu Bitcoin bernilai kurang dari $10, namun pada Tahun Baru 2018, nilainya menjadi $13.000. Ketika nilainya jatuh di bawah $8.000 tidak lama setelah itu, beberapa orang berpendapat bahwa gerakan mata uang kripto hanyalah tren semata, yang akan menghilang sebagaimana tren-tren lainnya. Tetapi kemudian, harga Bitcoin mulai naik lagi menjadi lebih dari $11.000. Terlepas dari kenyataan bahwa Bitcoin tidak memiliki bentuk fisik, beberapa tahun terakhir mata uang digital ini dijadikan sebagai bukti kekayaan dan kekuatan finansial—ketika sedang naik daun. Mata uang ini menjadi simbol kemewahan terbaru, bagaikan lencana untuk kalangan elit - setidaknya di atas kertas, dan setidaknya untuk saat ini.

Iklan

Keuntungan mata uang kripto dalam nilai dolar juga telah menjadi modal kultural, dan kejatuhannya yang tidak dapat diprediksi kian membuatnya terkenal. Para rapper menyebut-nyebut Bitcoin dalam lagu mereka, Paris Hilton mempromosikan koin virtual yang namanya tidak dikenal sebelumnya, dan para seniman visual muda memasukkan teknologi ini ke dalam karya seni mereka. “Saya melihat Bitcoin sebagai aset keuangan eksotis, yang digunakan oleh orang-orang kaya untuk menghasilkan semakin banyak uang, dan terkadang ini mirip dengan seni,” ujar seniman dari New Mexico, Sterling Crispin. Kamu hanya perlu tahu kapan harus membeli atau menjual.

Pada tahun 2012, Crispin menemukan ide untuk membuat instalasi seni tentang hari kiamat—yang pada saat itu terasa dekat: Akhir kalender suku Maya meramalkan kepunahan yang universal. Singularitas teknologi, yang terjadi ketika manusia menyatu dengan robot dan kita dapat mengunggah kesadaran ke cloud, mengancam kepunahan spesies manusia yang kita ketahui. Selain itu, naiknya Bitcoin mengancam adanya kekacauan finansial, politis, dan sosial. Crispin memberi judul karyanya itu Self-Contained Investment Module and Contingency Package. Dalam kerangka kubus yang terbuat dari baja itu, Crispin menghadirkan seperangkat alat pertahanan hidup yang terdiri dari radio darurat, benih pusaka, botol penyaring air, dan yang tak kalah penting, alat penambang Bitcoin.

Simon Denny dan Linda Kantchev, dari perusahaan desain perangko Blockchain Future States., 2016. Foto oleh Nick Ash, milik Galerie Buchholz, Petzel Gallery

Ketika Crispin menyelesaikan karyanya itu pada tahun 2015, harga satu Bitcoin masih $220. “Seandainya saja saat itu saya mulai menambang Bitcoin dan terus melakukannya selama tiga tahun hingga sekarang, dan jika saja saya tidak panik dan menjualnya ketika harganya mulai naik menjadi $300, mungkin sekarang saya sudah menjadi multi-miliarder,” ujar Crispin. Ia kemudian mengubah penyesalannya itu menjadi semacam semangat kreatif yang menggila. “Saya sangat menyukai pemikiran bahwa sebagai bahan instalasi karya seni, mata uang kripto ini bisa menjadi lebih berharga dari karya itu sendiri,” sambungnya.

Cristin sendiri awalnya meniatkan karyanya itu sebagai karya yang ironis; sebagaimana karya-karyanya lain yang kritis terhadap utopianisme teknologi. Akan tetapi, karyanya ini juga menunjukkan bahwa mata uang kripto telah ber-evolusi dari sekadar alat finansial menjadi sumber kemewahan seperti tas Louis Vitton, jam tangan Cartier, atau patung Jeff Koons. “Orang-orang tidak hanya membeli Bitcoin untuk mendapatkan uang; mereka membeli Bitcoin agar bisa menjadi orang-orang yang punya Bitcoin,” terang Jay Owens, futuris dan direktur riset di Pulsar, perusahaan asal London. “Bitcoin berfungsi seperti nama merk.”

Iklan

Seperti halnya benda seni atau merk fashion, mata uang digital memiliki estetikanya sendiri yang membuatnya diinginkan. Jika pada masa lalu, alat pamer kekayaan adalah emas, karya seni murni, dan mode mewah, alat pamer kekayaan saat ini bisa dalam bentuk dompet digital atau logo holding koin digital. Berbagai macam upaya telah dilakukan untuk mengejawantahkan mata uang digital ke dalam dunia materiil—termasuk dengan menggunakan koin logam dengan motif mencolok atau stik USB berdesain tinggi untuk mencerminkan nilai mata uang itu—tetapi belum ada yang berhasil.

“Tidak adanya bentuk fisik sama sekali tidak menjadi penghalang mata uang digital menjadi simbol status,” ujar Eric Meltzer, yang menjadi partner di sebuah perusahaan investasi mata uang kripto asal RRT INBlockchain pada tahun 2017. “Orang-orang Bitcoin garis keras berpikir bahwa ini adalah aristokrasi yang baru. Mereka sangat yakin bahwa merekalah kalangan 0.01 persen yang baru, dan mungkin saja mereka benar.”

Bitcoin diluncurkan pada tahun 2008 oleh seorang tokoh bernama Satoshi Nakamoto, yang identitasnya sendiri, apakah dia satu atau banyak orang, masih belum diketahui. Butuh bertahun-tahun hingga mata uang ini mendapat perhatian mainstream. Pada tahun 2012—di mana Crispin mulai membuat karyanya itu—pengadopsi awal membentuk Bitcoin Foundation, hal yang paling dekat dengan lembaga pengelola resmi, yang dipimpin oleh Gavin Andresen, seseorang yang dipilih oleh Nakamoto sebagai developer utama proyek Bitcoin sesaat sebelum ia menghilang dari internet pada tahun 2010.

Iklan

“Narasi menjadi hal yang sangat penting dalam dunia kripto,” ujar seniman asal Berlin, Simon Denny, yang karyanya juga merespon fenomena maraknya Bitcoin. Kisah asal usulnya yang misterius menjadi bagian dari daya tarik mata uang ini; Anonimitas Nakamoto yang seakan tak dapat ditembus ini juga memperkuat sifat keanoniman mata uang itu sendiri. Ketika diluncurkan tidak lama setelah krisis finansial, Bitcoin memiliki, sebagaimana yang dikatakan Denny, “resonansi yang luas dengan narasi-narasi ketidakpercayaan akan institusi yang mulai muncul pada waktu itu,” termasuk pemberitaan tentang bank-bank yang tidak efektif, kebijakan korup, dan media yang bias. Kepopuleran Bitcoin sebagian besar merupakan gejala ketidakpercayaan yang puncaknya terjadi saat Brexit dan kemenangan Donald Trump.

Desentralisasi adalah inti dari mata uang kripto. Untuk memahami bagaimana Bitcoin bekerja—dengan menggunakan metafora visual yang sedikit liar—bayangkan ada peti harta karun yang dikubur di bawah tanah. Di dalam peti itu terdapat 21 juta lembar kertas, yang masing-masing memiliki sederetan angka unik. Inilah yang disebut “koin.” Nakamoto kemudian merilis 50 Bitcoin pertama pada bulan Januari 2009, melepasnya dari peti harta karun itu. Ketika para pengguna membelanjakan dan menerima mata uang yang dirilis itu, jaringan komputer terdesentralisasi menjamin keakuratan setiap transaksi Bitcoin. Dengan menggunakan peranti keras bertenaga tinggi, orang-orang yang disebut sebagai penambang (yang diperkirakan berjumlah puluhan hingga ratusan ribu orang) memverifikasi transaksi-transaksi yang terjadi. Mereka menjalankan fungsi bank, tetapi tanpa adanya otorita yang terpusat, dan dengan demikian menghilangkan risiko korupsi. Para penambang kemudian diberi kompensasi dalam bentuk Bitcoin baru. Inilah yang menjadi asal muasal sebutan mereka: merekalah yang menambang dan membawa Bitcoin ke dalam peredaran.

Iklan

Siapapun bisa menjadi penambang Bitcoin dengan mencolokkan perangkat keras yang tepat, tetapi biayanya mahal dan butuh banyak waktu untuk melakukannya. Semakin banyak Bitcoin yang ditambang, proses verifikasinya menjadi semakin rumit dan memerlukan tenaga komputasi yang semakin tinggi, yang berarti bahwa para penambang harus bekerja sama dan membentuk pool-pool untuk saling berbagi hasil. Pada akhirnya, hanya maksimal 21 juta Bitcoin yang dapat ditambang—batas nilai yang ditetapkan oleh Nakamoto, penciptanya. Saat ini ada 16,8 juta Bitcoin dalam peredaran, meski banyak yang hilang atau terlupakan oleh penambangnya; lebih mudah keliru menaruh angka daripada sebatang emas. Kapitalisasi pasar mata uang ini, hingga bulan Januari 2018, telah mencapai sekitar $290 miliar.

Melalui pertukaran pasar sekunder, pengguna dapat membeli dan menjual koin yang terbagi menjadi pecahan nilai yang berbeda-beda. “Tidak sama dengan tas Birkin, di mana kamu harus kenal orang yang kenal dengan seseorang untuk bisa masuk waiting list,” ujar Alice Lloyd George, pemimpin perusahaan investasi asal New York RRE Ventures, yang berinvestasi ke perusahaan-perusahaan startup yang membangun teknologi ini. “Kamu bisa membeli atau menghadiahkan pecahan mata uang kripto.”

Sistem seperti ini memiliki dua keuntungan. Yang pertama, seperti halnya apapun yang ada di internet (file animasi GIF, misalnya), “koin-koin” ini punya pasokan yang terbatas dan tak dapat direplikasi, yang berarti bahwa penciptaan nilainya mirip seperti lukisan oleh seniman terkenal. Keuntungan yang kedua adalah bahwa angka “koin” yang terenkripsi dapat dilacak, meski sifatnya anonim, sehingga setiap transaksi Bitcoin dapat diketahui publik. Database setiap transaksi, yang dibangun oleh para penambang, disebut sebagai blockchain. Blockchain ini seperti Wikipedia yang amat sangat aman, yang menyajikan pencatatan seluruh sejarah perpindahan satu Bitcoin oleh para penggunanya, meski pemegang koin itu sendiri tidak bernama.

Iklan

Bitcoin terhadap mata uang kripto itu seperti halnya Supreme terhadap streetwear: ia adalah mata uang yang terbesar dan paling terkenal yang dibangun dari teknologi blockchain, tetapi bukan satu-satunya. Ethereum, yang diciptakan pada tahun 2014 oleh programmer muda asal Rusia-Kanada Vitalik Buterin, dikembangkan dari penyempurnaan teknologi Bitcoin dan menambahkan kemampuan untuk pemrograman, dengan menggunakan blockchain-nya sebagai infrastruktur untuk membuat kontrak kekal dan melakukan pencatatan tanpa verifikasi pihak ketiga. Litecoin, yang diluncurkan oleh Charlie Lee pada tahun 2011, seringkali disebut-sebut sebagai perak jika Bitcoin diandaikan sebagai emasnya, karena harganya lebih rendah dan jumlah koin maksimalnya lebih tinggi, yakni 84 juta. Bermunculan pula koin-koin yang lebih kecil, seperti Ripple, Monero, ZCash, Sumokoin, atau yang lebih aneh lagi, “alt-coin” seperti PornCoin (untuk industri film dewasa) dan TrumpCoin (yang bertekad membuat Amerika kembali hebat). Koin-koin ini dilepas dalam “ initial coin offering” (ICO), mirip dengan initial public offering untuk saham perusahaan.

Koin mana yang kamu beli, seperti selera fashion-mu, mencerminkan kepribadianmu. “Ada kalangan orang-orang yang ingin membicarakan ICO-ICO aneh ini, koin-koin yang belum pernah kita dengar sama sekali,” ujar Aaron Lammer, pendiri podcast Longform dan salah satu pendiri Coin Talk, podcast berita tentang mata uang kripto. Berinvestasi ke koin-koin aneh ini sebagian didorong karena faktor kerennya, dan sebagian lain karena kemungkinan adanya keuntungan yang sangat besar jika kamu memilih koin yang tepat. Harga koin-koin ini kurang lebih berhubungan dengan keberadaan merk-nya: semakin banyak orang yang masuk ke pasar, semakin tinggi nilainya. Selain itu tidak ada justifikasi lain. Lammer terlibat cukup aktif dalam skena mata uang kripto. Daya tariknya, katanya, adalah “ikut serta dalam kejar-kejaran untuk masa depan dan pada saat yang sama juga memegang nilai “dingin”-nya.”

Simon Denny bersama Linda Kantchev, desain perangko dari perusahaan Blockchain Future States: Ethereum, 2016. Foto oleh Nick Ash, milik Galerie Buchholz, Petzel Gallery

Seiring dengan meningkatnya nilai dolarnya, mata uang kripto telah membuka bentuk investasi baru kepada kalangan demografis yang sebelumnya tidak dapat mengakses jenis investasi yang keuntungannya cepat dan tinggi. Di Amerika Serikat, investor yang terakreditasi harus memiliki penghasilan di atas $200.000 atau nilai kekayaan bersih di atas $1 juta untuk dapat memasukkan uang ke hedge fund atau pendanaan modal ventura untuk start-up. Siapapun dapat menginvestasikan berapa pun ke dalam mata uang kripto dengan harapan dapat menjadi kaya secara instan. Bagi mereka yang telah menuai untung, bagaimana menghabiskan uang sebanyak itu tetap menjadi pertanyaan.

Para milyarder kripto telah menjadi Medici masa kini, yang mendanai serangkaian gerakan seni, budaya, dan teknologi atas permintaan mereka dan sesuai dengan citra mereka. Kekayaan digital baru ini mulai mengubah bentuk domain yang sebelumnya menjadi tradisi kalangan 1 persen—bahkan dalam hal amal. Pada akhir tahun 2017, pemegang mata uang kripto anonim meluncurkan Pineapple Fund, yang bertekad menyumbangkan Bitcoin senilai $86 juta untuk amal. Slogannya mencerminkan luasnya cakupan ledakan kripto: “Ketika kamu punya cukup uang, uang bukan lagi menjadi masalah.” Pemiliknya menegaskan bahwa jumlah $86 juta ini mencerminkan hanya sebagian besar, tetapi tidak semua, hasil keuntungan mereka.

Iklan

Kalau kamu tidak ingin menyumbang, opsi selanjutnya adalah membeli barang-barang yang memperkuat statusmu di kalangan elit digital: crypto—bling. Pada bulan April 2015, Harm van den Dorpel menjadi seniman pertama yang menjual karyanya ke museum dengan mata uang Bitcoin: sebuah screensaver yang dibeli oleh Museum of Applied Arts/Contemporary Art, di Wina. “Ada dorongan yang mendalam untuk membuat orang-orang menyadari bahwa file, atau aset digital lainnya, juga merupakan bentuk material,” ujar van den Dorpel. “Dualisme biner antara yang fisik dengan yang virtual tidak lagi menjelaskan apa-apa.” Seniman ini sekarang mengelola galeri daring-nya sendiri, Left Gallery, yang menjual benda-benda seni dengan Bitcoin. Komodifikasi seni digital menggunakan teknologi blockchain, yang meniru kelangkaan benda-benda fisik secara daring, adalah sesuatu yang “tak terelakkan,” kata van den Dorpel.

Para pegiat galeri juga mulai beradaptasi dengan cara kerja ini. Memperoleh seni digital melalui blockchain mirip dengan membeli lukisan, tetapi yang membedakannya hanyalah alih-alih kayu dan kanvas, yang dibawa pulang adalah serangkaian angka dan file-file digital. “Dalam penjualan, pertukaran token akan terjadi, yang mengalihkan kepemilikan benda digital hash ke pemilik barunya,” terang Kelani Nichole, pemilik Brooklyn’s Transfer Gallery, yang terkanal karena dukungannya terhadap seniman-seniman asli internet. Tidak seperti pasar seni yang sebagian besar tidak diregulasi, dengan insentif-insentif yang tertutup dan deal-deal yang terjadi di belakang layar, pasar seni versi kripto akan lebih transparan. “Seluruh edisi karya digital akan dapat dilacak di pencatatan publik ini,” ujar Nichole. “Setiap karya daring juga dapat dilacak hingga ke simpul asli awalnya.”

Keaslian adalah hal yang vital terhadap nilai sebuah karya seni: saksikan saja misalnya kebingungan yang terjadi dalam penjualan lukisan Leonardo da Vinci pada bulan November 2017 di Christie’s yang bernilai hampir $500 juta, meski terdapat keraguan mengenai apakah lukisan tersebut benar-benar berasal dari tangan sang master. Masa depan semakin mungkin di mana setiap karya seni yang keluar dari studio seorang seniman dapat dilacak perpindahannya melalui blockchain. Hal ini menghilangkan rekaan dan keraguan dari pasar sekunder, dengan adanya pencatatan abadi terhadap setiap perpindahan kepemilikan berikut harga jualnya.

Mata uang kripto juga dapat memungkinkan sebuah karya seni untuk menciptakan pasarnya sendiri. Pada tahun 2015, Sarah Meyohas meluncurkan mata uang kripto miliknya sendiri, yang ia sebut BitchCoin. Satu Bitchcoin saat itu bernilai 25 inci kuadrat dari salah satu cetakan karya fotonya. Berapa pun nilai karya tersebut dalam dolar AS, nilai jual BitchCoin ke dalam karya seni akan tetap sama—hal ini menjadi insentif bagi pengagum karya Meyohas untuk berinvestasi lebih awal. Akan tetapi, mata uang digital tetap selalu berisiko tinggi: situs web BitchCoin saat ini tidak lagi memproses transaksi.

Mata uang kripto bukanlah medium yang netral. Sebagai praktek artistik, sebagai investasi, atau sebagai komoditas populer semata, Bitcoin memiliki biaya-biaya tak terduga. Salah satu yang paling jelas adalah penggunaan listriknya. Di seluruh dunia, mata uang ini ditengarai mengonsumsi daya listrik setara dengan total konsumsi listrik beberapa negara kecil, yang disebabkan oleh hardware penambang. Seniman Man Bartlett membeli sebagian kecil pecahan Bitcoin ketika harganya masih di bawah $1.000. Dia sempat melupakannya, kemudian menyadari bahwa nilainya telah jauh meningkat—dan memutuskan bahwa dia tidak ingin mempertahankannya. “Saya menjualnya karena saya tidak ingin berpartisipasi dalam ekosistem yang kian menyebabkan kerusakan lingkungan,” katanya.

Seperti cadangan minyak di benua Arktik atau kulit hewan yang terancam punah, Bitcoin mungkin memang langka dan berharga, tetapi memperoleh Bitcoin tidak semerta-merta sepadan dengan harga yang harus dikeluarkan, baik itu kepada lingkungan atau dalam konteks ekonomi daring. Kemewahan tidak dapat dipisahkan dari obsesi terhadap kelangkaan. Selama sesaat pada 1990-an dan 2000-an, internet berkembang dengan premis bahwa kelangkaan dapat diatasi untuk selamanya, dan bahwa kita semua dapat saling berbagi sumberdaya digital tanpa harus menguranginya. Blockchain kemudian mengembalikan kemungkinan untuk kelangkaan ini, dan ini mungkin akan membuat semuanya semakin buruk.

Teknologi blockchain seharusnya menciptakan order yang baru, terdesentralisasi, dan anarkis. Akan tetapi, ironisnya, ledakan mata uang kripto kembali menciptakan ketidakmerataan yang menjadi ciri khas kapitalisme: hanya 4 persen pemegang Bitcoin yang memiliki 95 persen Bitcoin yang saat ini beredar. Komodifikasi mata uang kripto sebagai barang mewah mengaburkan kapasitas revolusionernya untuk menempatkan uang di luar kendali pemerintah. Yang lebih mendesak lagi, hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan tentang apa arti kemewahan pada abad ke-21 ini. Seperti yang ditanyakan Sterling Crispin, “Apa gunanya Bitcoin, atau apalah itu, kalau kamu tidak punya air bersih untuk diminum?”