Tips Pekerjaan

Buat Pemalas Sori Nih, Kunci Punya Penghasilan Besar Adalah Terus Cari Kenalan Baru

Aktivitas networking harus diakui nyebelin, tapi seenggaknya bisa membuka peluang mendapat gaji besar hingga posisi lebih prestisius. Kesimpulan ini berdasar penelitian ekonom lho. Masih mau mager di rumah aja?
10.3.18

Artikel ini pertama kali tayang di FREE—situs baru VICE Media yang membahas berbagai isu ekonomi dan pengelolaan keuangan secara nyeleneh.


“Baiklah, kita sampai di akhir acara seminar ini—silakan nikmati hidangan yang kami sediakan dan selamat bercengkrama dengan sesama peserta lainnya.”

Kalian pasti pernah denger kalimat macam ini kan di seminar atau acara-acara motivasi yang kamu datangi. Pernah ngerasa panas dingin setelah kalimat tersebut berkumandang, sebab kamu kayak diwajibkan ngobrol sama orang-orang asing setelahnya.

Iklan

Kalau kamu merasa malas atau gugup kenalan sama orang lain, tenang, kamu enggak sendirian. Kalimat itu pernah jadi momok yang menakutkan bagi saya ketika masih jadi pegawai rendahan. Saya masih ingat acara networking yang pertama saya datangi. Waktu itu, saya masih hijau, baru lulus kuliah, dan mulai bekerja sebagai tenaga sales lapangan (itu loh, orang-orang yang kerjaannya keluar kantor dan meeting sama calon pelanggan). Pastinya, ilmu saya masih dangkal banget saat itu. Tapi, saya pikir, apa salahnya ikut acara networking. Senggaknya aku bisa minum-minum gratis di hotel.

Kini, setelah bekerja sebagai penulis lepas sekaligus konsultan pemasaran, saya masih sering mendatangi acara-acara networking. Tujuannya sama saja dari dulu: biar rezeki saya makin lancar. Saya enggak asal ngomong. Pada 2007, terbit sebuah hasil penelitian yang menyimpulkan bila acara-acara networking bikin pendapatan kamu naik terus, bahkan kalau kamu masih jadi buruh di tempat lain dan kerjaan kamu enggak memerlukan ketemu orang banyak.

Kalau kamu adalah tipe orang yang sudah keluar keringat dingin duluan sebelum membuka percakapan dengan orang yang benar-benar asing dalam acara networking, saya bakal tunjukkan kalau kamu sebaiknya belajar membiasakan diri karena, mau enggak mau, kita harus mengakui kalau marketing itu penting selama kita mau dapur tetap ngebul.

Apa sih yang dimaksud networking?

Okay, santai dulu ya. Sebelum jauh-jauh ngobrolin kenapa networking penting, mari kita cari tahu apa itu networking. Menurut kamus Merriam Webster, networking adalah pertukaran informasi dan jasa antara individu, kelompok dan institusi; lebih khusus lagi; proses penciptaan hubungan produksif untuk keperluan kerja dan bisnis.

Ini definisi yang basic banget sih, tapi benar adanya. Sekarang, kita bisa melakukan networking di mana saja dan kapan saja. Di dunia yang makin hyper digital ini, saya bahkan enggak harus mengenakan seragam bisnis casual dan membagikan kartu nama untuk memperluang jaringan. Saya bahkan enggak perlu keluar selangkahpun dari rumah. Zaman sekarang ini, media sosial memungkinkan kita berjejaring di siang bolong atau jam dua malam hari.

Iklan

Namun, enggak baik kalau kita cuma mengandalkan networking online. Biar lebih efektif, kegiatan berjejaring online harus dibarengi dengan penciptaan jaringan lewat pertemuan tatap muka.

Saya melakukan kerjaan saya dengan sempurna dan lagi enggak nyari kerja, ngapain saya repot-repot membangun jaringan?

Iya deh. Tapi jujur saja, pandangan macam ini banyak bolongnya.

Pertama, kalaupun kamu sudah bekerja dan kamu suka banget pekerjaanmu, jika kamu malas mendengarkan orang lain, kamu bakal kelewatan peluang dapat gaji lebih besar dengan posisi yang sama. Dan plis deh, jangan lantaran kami ganti-ganti kerjaan tiap beberapa tahun sekali, kamu takut dilabeli anggota Generasi Y songong yang susah banget puas—mitos millenial yang suka gonta-ganti kerjaan itu sudah lama dipatahkan coy!

Kedua, pendapat kalau networking cuma buat para pencari kerja itu adalah kesalahkaprahan terbesar mengenai networking. Hasil dari penelitian selama delapan tahun lama yang dimuat dalam Research in the Sociology of Organizations menyimpulkan bahwa networking tak hanya menolong melancarkan karir, tapi juga “penting untuk mencapai dan memamerkan kecakapan profesional tertentu.

Gampangnya: kalau kamu pengin lebih jago dalam pekerjaanmu dan pamer ke kolegamu di kantor, networking adalah kuncinya.

Makanya, kalau kamu merasa kamu sudah sangat jago di posisimu dan semua orang kantor tahu itu plus kamu enggak pengin keluar dari kantor, saran saya sih, mendingan kamu tutup artikel ini dan cari kesibukan lain. Bikin autobiografi mungkin salah satunya. Sebab kayaknya ini sudah waktunya kamu tulis kisah hidupmu yang luar biasa itu.

Iklan

Ngomong-ngomong, buat mereka yang sedang mencari pekerkaan baru—atau sekedar ingin mendapatkan posisi yang lebih baik di tempat bekerjanya saat ini—atau memperluas klien, networking adalah segala-galanya. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Graziadio School of Business, Pepperdine University, terungkap jika 40 persen responden mengaku bahwa posisi mereka saat ini didapat dari relasi dan networking yang mereka lakukan. Lebih dari itu, dua pertiga responden percaya bahwa networking bisa meningkatkan pendapatpan secara dramatis, bahkan hingga lebih dari 100 persen.

Kunci Networking Efektif

Pelatih pemasaran legendaris Zig Ziglar pernah berkata, “kamu bakal dapat semua yang kamu inginkan dalam hidup selama kamu membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan.” Dalam sebuah permainan bernama networking, kredo ini bisa diterjemahkan menjadi “kamu harus memberi dulu sebelum menerima.” Artinya, mendengarkan apa yang dikatakan orang lain dan lakukan upaya yang tulus guna membantu orang lain mencapai impian mereka.

Kalau orang asing itu adalah seorang tenaga pemasaran, sambungkan mereka dengan orang-orang yang membutuhkan jasa dan produk mereka. Kalau mereka HRD, sampaikan lowongan pekerjaan di perusahan mereka pada kawan atau keluarga yang masih ngangur. Yang kamu berikan enggak harus yang penting-penting amat. Bisa saja berupa opini jujur tentang kebijakan perusahan tempat mereka bekerja atau berbagi berita terbaru tentang ranah pekerjaan mereka. Bahkan dua hal sesederhana ini bisa sangat berharga bagi mereka.

Iklan

Bagi saya, hubungan perkawanan atau bisnis baiknya diawali dengan pertemuan langsung dan disusul dengan komunikasi lewat email dan media sosial. Tapi, pakai akal sehat dan perhatikan norma-norma kesopanan. Jadi, jangan kirim email seminggu sekali, apalagi kalau kalian baru “saling mengenal.” yang patut kamu lakukan adalah menyapa mereka tiap empat atau enam minggu sekali, entah itu untuk berbagi info berguna, sekadar menanyakan sesuatu atau mengucapkan selamat ulang tahun. Setelah beberapa kali berkomunikasi, kamu boleh mengingatkan mereka siapa kamu dan apa yang kamu pengin kerja. Untuk detail lebih lanjut tentang hal ini, silakan pelajari strategi “ jab, jab, jab, right hook” strategy ciptaan Gary Vaynerchuk.

Satu lagi, sekeren apapun kemampuan kamu bikin email, kamu tetap harus keluar dan ketemu orang yang ingin kamu gaet buat memperluas jaringanmu. Menurut Ad Age, lebih dari tiga dari empat pelaku bisnis lebih menyenangi komunikasi tatap muka dan 90 persen dari mereka yakin pertemuan langsung penting demi kelangsungan hubungan bisnis. Nah, karena para pelaku bisnis ini memegang kunci pintu menuju posisi dan peningkatan skill kerja kita, wajib hukumnya untuk menemui mereka di mana pun itu: di kafe mahal atau kios kopi terdekat.

Baiklah, tapi saya masih takut melakukan networking, apalagi kalau harus ketemu empat mata. Saya harus gimana nih?

Demi mendapatkan jawaban pakar tentang masalah ini, saya menemui Kat Boogaard, penulis yang banyak membahas karir dan pengembangan profesional untuk brand-brand besar macam Inc., The Muse, hingga Ziprecruiter.

“Bahkan orang yang membanggakan diri sebagai sosok andalan dalam kelompoknya tetap akan nervous masuk satu ruangan penuh orang asing,” kata Kat.

“Ada beberapa opsi yang bisa diambil agar kamu enggak gampang nervous: ajak teman agar kamu selalu punya orang untuk diajak ngobrol, latihan kalimat pembuka agar kamu selalu siap dan jangan pernah datang ke acara networking dengan harapan yang membuncah. Kamu cuma perlu jujur kalau kamu di sana untuk ketemu orang baru. Langkah-langkah ini saja sudah cukup bikin kamu lebih nyaman.”

Kalaupun gagal, ingat ini: kamu tetap dapat makan siang gratis kok.

Raj adalah seorang penulis lepas dan content marketing consultant yang memandu banyak orang dari brand-brand yang masuk daftar bergengsi Fortune 500 hingga agensi kecil-kecilan mengelola bisnis mereka di era digital. Raj Chander bisa diajak tukar pikiran di Twitter .