alien

Insiden Dyatlov, Peristiwa Misterius Abad 20 Yang Tak Kunjung Terpecahkan

Peristiwa tewasnya sembilan pendaki di Pegunungan Ural, Uni Soviet, pada 1959 oleh beberapa pihak dianggap melibatkan campur tangan alien.
5.9.17
Foto ini tertanggal 2 Februari 1959, momen terakhir para mahasiswa sebelum berangkat ekspedisi ke utara Pegunungan Ural.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

54 tahun yang lalu, sisi utara pegunungan Ural menjadi saksi salah satu insiden kematian paling misterius di peradaban modern manusia. Di satu sisi, Insiden Kecelakaan Misterius Dyatlov mudah dijelaskan: Dari tim 10 pendaki, sembilan diantaranya binasa di tengah jalur trek sulit dalam suhu -30 derajat celsius. Namun detil kejadian ini, yang dirangkum dari buku jurnal mereka-mereka yang terlibat dan juga investigator Soviet, sangat mengerikan: Pada malam 2 Februari 1959, kelompok pendaki tersebut diduga kuat merobek tenda dari dalam, lalu berkeliaran ke dalam tundra bersalju hanya mengenakan pakaian tidur. Tiga minggu kemudian, lima jenazah ditemukan, beberapa di antaranya terletak beberapa ratus meter di bawah lokasi kamp. Tim investigator membutuhkan waktu dua bulan untuk menemukan empat mayat lainnya, yang lucunya ditemukan mengenakan beberapa artikel pakaian milik kelompok mayat pertama. Di pakaian-pakaian tersebut ditemukan tingkat radiasi yang tinggi. Trauma internal yang berat juga ditemukan, termasuk tulang tengkorak yang retak dan tulang rusuk patah dari para korban. Namun karena kurangnya bukti tindak kejahatan, investigator Rusia langsung menutup kasus ini. Rombongan korban tersebut berisikan anak-anak kampus dan alumni Ural State Technical University, yang sudah terbiasa mengikuti ekspedisi pedalaman. Diatur oleh Igor Dyatlov, 23 tahun, mereka bermaksud mengeksplor lereng gunung Otorten di sisi utara pegunungan Ural pada tanggal 28 Januari 1959. Yury Yudin, satu-satunya anggota ekspedisi yang bertahan hidup, jatuh sakit sebelum mereka berhasil mencapai pedalaman. Dia ditinggal di desa pos terakhir. Sembilan orang lainnya terus melanjutkan perjalanan. Menurut bukti foto yang ditemukan para penyelidik dari tim SAR Uni Soviet, kru Dyatlov memasang tenda pada 2 Februari di lereng gunung di samping Bukit Ortoten. Gunung tersebut dikenal oleh suku asli setempat, Mansi, sebagai Kholat Syakhl, yang apabila diterjemahkan berarti "gunung kematian". Saya selalu skeptis soal dongeng atau nama tempat seram macam ini. Tetap saja, keputusan tim pendaki memasang tenda di lereng gunung tidak masuk akal. Kabarnya, mereka hanya berjarak 1.6 kilometer dari hutan, dimana mereka bisa menemukan lebih banyak perlindungan dari temperatur di bawah nol derajat. Mereka juga tidak dikejar waktu. Aneh bahwa mereka memasang tenda di lereng gunung dan tidak di dalam hutan yang lebih aman. "Dyatlov mungkin tidak ingin kehilangan jarak yang sudah mereka tempuh, atau ingin berlatih kemping di lereng gunung," kata Yudin saat diwawancarai St. Petersburg Times pada edisi 2008.

Yudin memeluk Dubinina sebelum ikut ekspedisi.

Ternyata kemping tersebuh adalah yang terakhir bagi rombongan pendaki ini. Dyatlov sebelumnya mengatakan bahwa mereka diperkirakan akan kembali ke kota pada tanggal 12 Februari di tahun yang sama, tapi mungkin juga membutuhkan waktu yang lebih lama. Setelah tanggal 20, alarm mulai dibunyikan dan di tanggal 26, kamp mereka telah ditemukan oleh tim penyelamat dan sukarelawan. Ketika tim investigator resmi tiba, mereka menyadari bahwa tenda telah dirobek dari dalam, dan menemukan jejak kaki delapan atau sembilan orang meninggalkan tenda menuju ke bawah gunung, ke arah hutan. Menurut penyelidik, sepatu dan peralatan justru ditinggalkan, dan jejak kaki mereka menandakan bahwa beberapa dari mereka tidak mengenakan alas kaki atau hanya mengenakan kaus kaki. Dengan kata lain, mereka semua terburu-buru lari keluar dari tenda biarpun tidak ada bukti tindak kejahatan di dalam grup. Dua mayat pertama ditemukan di hutan, di bawah pohon pinus raksasa. Ingat bahwa hutan ini jaraknya 1.6 kilometer dari tenda; investigator menulis bahwa jejak kaki mulai menghilang di tengah jalan, biarpun bisa saja ini dikarenakan salju yang menutup selama 3 minggu sebelum investigator tiba. Dua mayat tersebut hanya mengenakan pakaian dalam tanpa alas kaki sama sekali. Menurut laporan resmi penyelidik pemerintah, ranting-ranting pohon pinus tersebut dipatahkan, mendorong kesimpulan bahwa seseorang berusaha memanjatnya. Ada sisa api unggun tidak jauh dari situ. Tiga mayat berikutnya, menurut Dyatlov, ditemukan di titik-titik antara tenda dan pohon raksasa, dan terkapar seakan-akan mereka sedang berjalan kembali menuju tenda. Salah satu dari mereka, Rustem Slobodin, ditemukan dengan tulang tengkorak yang retak, biarpun dokter mengatakan ini tidak fatal, dan investigasi kriminal ditutup setelah dokter menemukan lima korban lainnya meninggal akibat hipotermia. Dua bulan kemudian, barulah empat mayat ditemukan terkubur beberapa meter di dalam salju, beberapa ratus meter dari pohon pinus raksasa. Di luar perilaku lima anggota lainnya yang aneh, penemuan empat korban inilah yang paling mengejutkan. Mereka semua menderita kematian traumatis, biarpun dari luar tidak tampak gejala-gejala trauma. Salah satu dari mereka, Nicolas Thibeaux-Brignollel, juga ditemukan dengan tulang tengkorak retak. Alexandor Zolotariov ditemukan dengan tulang rusuk yang hancur. Ludmila Dubinina juga ditemukan dengan tulang rusuk hancur dan lidah terpotong. Mungkin saja para pendaki itu sempat mencari bantuan, meski sedang berada di entah berantah, tanpa peralatan, dan dengan kondisi suhu di bawah nol derajat, sebelum akhirnya mereka jatuh ke dalam jurang. Tapi hal itu tidak menjelaskan hilangnya lidah Dubinina. Meski menurut perkiraan para pendaki diserang oleh suku Mansi, petugas koroner pemeriksa mayat menyatakan bahwa dibutuhkan kekuatan lebih besar dari kemampuan manusia untuk meninggalkan trauma seperti itu pada mayat, terutama mengingat tidak ada trauma luar yang mengiringinya.

"Trauma pada mayat serupa dengan dampak kecelakaan mobil," ujar Boris Vozrozhdenny, salah satu dokter yang menangani kasus tersebut, menurut dokumen publik yang diamati jurnalis Times.

Foto para penyelidik memeriksa kondisi tenda para peserta ekspedisi. Sumber foto dari sini.

Nah, kisah ini jadi semakin aneh. Empat orang ini mengenakan pakaian yang lebih baik daripada lima orang lainnya, dan ternyata telah melepaskan baju dari mayat-mayat lalu melanjutkan trek mereka. Zolotariov, contohnya, ditemukan mengenakan mantel dan topi Dubinina, sementara sebaliknya Dubinina membungkus kakinya dengan celana wol yang sebelumnya dikenakan salah seorang dari dua mayat pertama di pohon pinus. Yang membuat semakin aneh, baju-baju yang ditemukan di kelompok terakhir diuji dan ditemukan unsur radiasi. Soal radiasi ini sulit dijelaskan, namun bagian lain kasus ini memiliki penjelasan yang lebih masuk akal ketimbang alien dan percobaan nuklir yang orang-orang duga. "Paradoxical undressing" adalah fenomena yang dilaporkan bagi mereka yang menderita hipotermia, dan delirium. Penjelasan paling memungkinkan atas bencana ini adalah tim ini dikubur dalam sebuah salju longsor, yang menjelaskan tenda terpotong dan mungkin juga trauma-trauma pada mayat. Kalau para pendaki ini telah dikubur atas waktu tertentu, hipotermia sudah keburu menjalar, yang bisa menjelaskan mengapa mereka mencari bantuan tanpa perlatan sama sekali. Lagi-lagi, dengan lima anggota rombongan tersebut meninggal karena paparan, skenario ini paling mungkin. Namun radiasi yang ditemukan benar-benar aneh, sebagaimana proses investigasi itu sendiri. Dokumen-dokumen yang terkait kasus ini menjadi rahasia setelah kasusnya ditutup, dan tidak dibuka sampai 1990'an. Saya amat tertarik pada kasus ini untuk beberapa waktu dan telah mencoba menggali informasi baru, namun permintaan FOIA saya pada sejumlah agensi intelijen AS tidak ada yang diterima. Penyebab insiden ini masih spekulatif, namun wawancara-wawancara dengan pemimpin penyelidikan, Lev Ivanov, pada waktu itu merupakan dokumen tertutup, memberikan perspektif segar tentang betapa anehnya kasus ini. Ivanoc adalah orang pertama yang menyadari bahwa mayat-mayat dan peralatan yang ditemukan mengandung unsur radiasi dan berkata bahwa pencacah Geiger yang dia bawa tak berhenti berbunyi di sekitar kamp. Dia juga bilang bahwa pejabat Soviet bilang padanya untuk menutup kasus tersebut, terlepas dari laporan-laporan bahwa "piring terbang" telah dilaporkan di area pada Februari dan Maret 1959. "Saya curiga saat itu dan saya hampir yakin kini bahwa bidang terbang berwarna cerah memiliki hubungan dengan kematian rombongan ini," ujar Ivanov pada koran Kazakh Leninsky Put dalam sebuah wawancara yang ditemukan Times. Kelompok pelajar lainnya yang bermalam sekitar 48 km dari kelompok lain, mengatakan melihat hal serupa saat itu. Dalam sebuah testimoni tertulis, seseorang bilang dia melihat "tubuh bundar bersinar terbang di atas desa dari bagian barat daya ke timur laut. Lempengan bersinar ini seukuran bulan purnama, cahayanya biru keputihan dan dikelilingi oleh lingkaran biru seperti halo. Halo tersebut bersinar seperti cahaya yang terlihat dari jauh. Saat tubuh itu menghilang di balik cakrawala, langitnya menyala untuk beberapa saat." Teori yang berkembang, mengingat sikap tertutup pemerintah, ditemukannya unsur radiasi, dan penampakan kondisi di kemah korban berdasarkan arsip foto, yang dilaporkan "berwarna gelap" oleh anak laki-laki yang menghadiri pemakaman korban, memicu teori spekulasi. Ada dugaan rombongan pendaki tersebut bersinggungan dengan daerah percobaan militer Soviet. Jika laporan tersebut benar, penyebab luka dalam beberapa anggota pendaki masih tak terjawab. Mungkin saja bahwa salah satu anggota tim pendaki melihat cahaya aneh di langit dan semua orang ketakutan, berlarian karena panik, namun tidak pernah ada bukti ledakan di area tersebut, sehingga teori soal area percobaan nuklir perlu diabaikan. Meski begitu, hal tersebut tidak menjelaskan retakan tengkorak pada mayat. Sebagian dapat dijelaskan karena mereka jatuh ke dalam jurang, tapi ingat, kan, Slobodin memiliki tengkorak retak dan ditemukan dalam perjalanan balik ke kamp. Fakta yang tersisa adalah api yang ditemukan menyiratkan beberapa anggota pendaki memiliki kuasa atas kondisi mental mereka, dan psikosis bukan merupakan dampak yang dilporkan atas paparan terhadap radiasi, namun hal tersebut tidak menjelaskan mengapa kelompok Dyatlov berlarian tanpa membawa peralatan apapun. Jadi apakah ini sebuah kecelakaan, ataukah pengalihan? Kisah yang paling sederhana bisa jadi yang terbaik: para pendaki ini terkubur longsoran salju, dan dalam kondisi delirium akibat hipoteria, berlarian untuk mencari bantuan. Longsor salju amat kuat, dan terperangkap di longsoran tersebut bisa menyebabkan trauma benda tumpul dalam jasad kesembilan pendaki. Tetap saja, tanpa adanya kesimpulan resmi dari penyelidikan asli, orang-orang menjadikan kisah ini ladang subur bagi teori-teori konspirasi dan pencarian alien, dan sebetulnya kisah ini memang aneh betul. Ivanov, sang penyelidik, sudah meninggal dunia dan kalau catatan militer ditemukan dan catatan tanpa segel tidak cukup untuk membuktikan sebaliknya, misteri yang kini dikenal sebagai Insiden Lereng Dyatlov akan terus menjadi misteri tak terjawab.