Film

Kalian Wajib Nonton Film Paling Seram Soal Ancaman Perang Nuklir Ini

'Threads' adalah film televisi suram yang pernah tayang di BBC. Sutradaranya, Mick Jackson, merilis ulang film tersebut demi memperingatkan publik atas risiko perang nuklir Korut-AS.
1.3.18
Cuplikan adegan 'Threads' dari arsip BBC.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Pada 1984, BBC sempat menyiarkan sebuah film televisi (FTV) yang sangat meneror pemirsanya, sampai-sampai film tersebut hanya sekali ditayangkan ulang pada peringatan 40 tahun peristiwa bom atom Jepang. Film tersebut berjudul Threads. Bagi kalian yang sudah pernah menonton Threads, kalian pasti tidak akan pernah bisa melupakannya. Sementara untuk yang belum, kalian bisa menonton versi Blu-ray yang baru saja dirilis dengan kualitas gambar lebih tajam.

Iklan

Cerita Threads berlatar di Sheffield, salah satu pusat industri di Inggris, dan film ini menggambarkan dampak serangan nuklir yang terjadi di Britania Raya (UK) terhadap penduduk kota. Film ini menceritakan penderitaan masyarakat selama serangan nuklir berlangsung. Mereka yang tewas saat ledakan bisa dibilang beruntung, mengingat orang-orang yang selamat dibiarkan membusuk atau mengembara tanpa tujuan di reruntuhan kota-kota yang terkena dampak ledakan nuklir.

Film ini sangat mengguncang dunia saat pertama kali ditayangkan, dan reaksi itulah yang diharapkan sang sutradara. “Saya puas dan bangga telah membuat film ini,” ujar Mick Jackson, sutradara Threads, saat Motheboard mewawancarainya melalui telepon. Jackson sudah puluhan tahun menjadi sutradara film. Dia pernah bekerja dengan Whitney Houston, Tommy Lee Jones, dan Claire Danes. Filmnya yang paling terkenal adalah The Bodyguard, tetapi dia ingin Threads menjadi film yang juga diingat banyak orang. Belakangan, aksi saling ejek antara Donald Trump dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, membuatnya khawatir bila ancaman perang nuklir dapat menjadi nyata dalam waktu dekat. Jackson menganggap filmnya sejak dulu menyiratkan pesan penting, menggambarkan langsung kondisi andai perang nuklir betulan terjadi. “Kita tidak boleh sampai lepas kendali,” katanya. “Saya harap kita tidak salah mempelajarinya. Kita harus paham apa risikonya jika kita mengutamakan kebencian dan peperangan.” Perdebatan Trump dan Kim Jong-Un mengingatkan Jackson dengan situasi awal 1980-an. “Pada masa itu, Reagan memulai Strategic Defense Initiative, penembakan Pesawat Korea oleh Soviet, serta insiden Presiden AS Ronald Reagan menghina Uni Soviet sebagai 'Kekaisaran Jahat'," katanya. “Itu adalah masa yang paling berbahaya bagi dunia setelah krisis rudal Kuba, dan tampaknya BBC tidak ingin berurusan dengan hal sensitif seperti ini. Semua orang sangat paranoid. Dunia berada di ambang perang nuklir dan tidak ada yang mengetahui itu.”

Dalam momen genting 1980'an itu, Jackson masih menjabat sebagai produser muda di BBC. Dia tergerak membuat film yang bisa menyadarkan orang-orang tentang bahaya riil senjata nuklir. Ini topik yang sensitif bagi BBC. Mereka tahu ini isu yang penting, tetapi mereka mengacaukan film sebelumnya yang juga membahas masalah ini. Pada tahun 1965, BBC membuat sebuah dokudrama (dokumenter drama) berjudul The War Game. Film berdurasi empat puluh menit ini menggambarkan serangan Soviet di sebuah kota di Inggris. Seorang narator Inggris dengan jelas menggambarkan kengerian serangan tersebut saat orang-orang mati-matian bertahan hidup dan, sama seperti Threads, kehidupan masyarakat hancur. The War Game juga begitu mengerikan, sampai-sampai pemimpin BBC melarang penayangan film tersebut. Orang-orang memprotes sikap petinggi televisi pelat merah Inggris tersebut. BBC kemudianmengatakan kalau pemerintah Inggris lah yang tidak mengizinkan mereka menayangkan film The War Game. BBC tetap mengadakan beberapa pemutaran film di sekitar London, namun hanya boleh ditonton oleh anggota pers dan pejabat pemerintah. Meskipun penayangannya sangat singkat dan bukan film dokumenter asli, The War Game memenangkan Oscar sebagai film dokumenter terbaik pada 1966. Jackson memberitahu saya bahwa pemerintah tidak melakukan apa pun meski keputusan mereka sudah diprotes oleh BBC. Menurut Jackson, BBC tidak mau bertanggung jawab atas konsekuensinya jika mereka menayangkan film yang begitu kejam dan anti nuklir. “ The War Game sangat sarat politik,” kata Jackson. “[Sutradara] Peter Watkins adalah pembuat film yang sangat berkomitmen dan bersungguh-sungguh. Dia memahami bagaimana perang nuklir yang sebenarnya – Pertahanan Sipil saja tidak mampu menyelamatkan kita.”

Larangan penayangan The War Game jauh lebih rumit dari yang diingat Jackson dan baru-baru ini terungkap. Profesor John Cook dari Glasgow University mendapatkan dokumen internal yang mengungkapkan bahwa British Home Office memaksa BBC untuk tidak menayangkan film kontroversial ini. Beberapa orang di stasiun televisi tersebut menyalahkan BBC, sementara yang lain berani mengatakan bahwa telah terjadi campur tangan pemerintah. BBC bahkan menayangkan sebuah film dokumenter tentang kontroversi tersebut setelah Cook mempublikasikan file-filenya.

Penekanan BBC terhadap The War Game dicap jelek banyak orang dan BBC ingin menghentikannya. Jackson adalah produser muda dengan latar belakang sains. Dia ingin meneliti dampak perang nuklir dan membuat sebuah dokumenter yang menjelaskan dampak tersebut kepada khalayak.

Atasannya menyetujui proposalnya. “Meskipun BBC agak ragu, tetapi mereka mengizinkan saya membuat sebuah dokumenter dengan anggaran yang sangat kecil. Mereka berpikir ini adalah cara terbaik untuk menghilangkan cap buruk yang mereka dapatkan setelah The War Game,” katanya. “Mereka berhasil melakukannya dan menggambarkannya sebagai isu yang netral politik dan faktual yang menjadi perhatian orang.”

Iklan

Dengan persetujuan BBC, Jackson pun memproduksi Q.E.D. A Guide to Armageddon, dokumenter berdurasi 30 menit yang disiarkan sebagai bagian dari serial dokumenter BBC. Untuk membuat program tersebut, Jackson mewawancarai berbagai ahli untuk mendapatkan jawaban pertanyaan utamanya: apa saja dampak senjata nuklir bagi kehidupan?

Program ini sukses. BBC puas dan siap menerima usulan baru dari Jackson. “Saat mendalami isu ini, ada satu hal yang paling menarik untuk saya. Saya menemukan bagaimana dampak psikologis serangan nuklir terhadap orang-orang dan juga dampaknya pada kehidupan masyarakat. Sulit membuat dokumenter yang menggambarkan dampak psikologis tersebut, dan bukan hanya wawancara dengan pakar. Saya menganggap dokumenter drama sebagai cara terbaik untuk menggambarkan situasi tersebut. Saya mengajukan ide ini kepada BBC dan mereka menginginkan proposal yang sudah jadi. Proposal itu adalah Threads.”

Jackson menghabiskan satu tahun untuk meriset. Dia mewawancarai lebih dari 50 pakar. “Saya mewawancarai dokter, fisikawan, ahli pertahanan, psikolog, ahli agronomi, ilmuwan iklim, pakar strategi perang, pakar intelijen, jurnalis investigasi, ilmuwan senjata nuklir. Saya merasa seperti ahli film nuklir,” katanya.

Saat itu awal 1980-an dan rasanya bumi bisa hancur dengan perang nuklir kapan saja. “Untuk pertama kalinya orang mulai mempertanyakan kehancuran yang diakibatkan oleh nuklir,” katanya. Jenderal, politisi, dan wadah pemikir seperti RAND Corporation sedang mendiskusikan kemungkinan perang nuklir. Jackson menganggap ini sangat mengerikan.

“Orang-orang tidak dapat membayangkan efek perang nuklir karena mereka belum pernah
mengalaminya. Jika Anda tidak bisa membayangkannya, maka Anda akan kesulitan mendiskusikannya.”

Agar orang dapat memahami perang nuklir, Jackson dan penulis Barry Hines pun membuat Threads. Film tersebut menceritakan kisah hidup Ruth Beckett dan Jimmy Kemp, sepasang kekasih yang memutuskan untuk menikah karena Ruth hamil. “Film ini ingin mengangkat tema kematian, maka kami menggunakan unsur kehidupan untuk menceritakannya,” kata Jackson.

Iklan

Jimmy tewas terkena ledakan, sedangkan Ruth bertahan hidup dan dia melahirkan beberapa bulan setelah bom meledak dan peradaban telah berakhir. Dia menamai anaknya Jane dan mereka hidup melarat. Film ini diakhiri dengan Jane melahirkan bayi yang sudah mati dalam kandungan pada saat dia berusia 13 tahun. “Saya ingin membuat penonton terngiang-ngiang dengan Threads,” kata Jackson. “Jadi, ketika Anda membahas tentang nuklir, Anda juga akan memikirkan dan merenungkan dampaknya.”

Beberapa tahun setelah film itu ditayangkan, Amerika dan Uni Soviet mundur dari perang nuklir. Reagan dan Gorbachev menandatangani kesepakatan pengendalian senjata dan Reagan melakukan pelucutan senjata di tahun-tahun terakhir masa kepresidenannya.

Jackson khawatir para politikus saat ini sudah lupa bagaimana rasanya berada di ambang perang nuklir. “Saya khawatir Presiden Trump dan anak buahnya membahas perang nuklir melawan Korea Utara tanpa menyadari konsekuensinya,” katanya. “Mereka tidak dapat membayangkan hal terburuknya. Kebijakan nuklir saat era Perang Dingin menunjukkan bila kita bisa saja di ambang peperangan karena salah bertindak, dan kita tidak tahu apa yang dipikirkan pihak lain.”

Dia khawatir Korea Utara berhasil memprovokasi Trump memulai perang nuklir suatu saat nanti. Jika skenario buruk itu terwujud, seluruh dunia pasti kena imbasnya. “Mereka bisa saja lepas kendali. Trump tidak tertarik memikirkannya, dia sudah gila.”

Seni membantu kita memahami apa yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Makanya Threads bisa kita nobatkan sebagai salah satu film terbaik yang mengangkat potensi ancaman perang nuklir. Film ini bisa membantu penonton memahami apa yang terjadi saat perang nuklir. Jackson tidak yakin film seperti Threads bisa sesukses dulu jika dibuat sekarang. “Kita berada dalam ketakutan dan penangkalan kenyataan. Kita takut perang nuklir terjadi, tetapi kita tidak berani untuk membahasnya dan mencari cara mencegah perang nuklir.”